Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
21
98.5 Persen Show Don't Tell
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎Nafasku terengah, sengal ini terus berembus. Tanganku gemetarnya halus. Tapi kurasakan begitu erat tremor nya.

‎Keringatku jatuh bercucuran, rasa aneh ini menggerogoti dada, punggung, sendiri lengan dan kaki.

‎Saat terpejam gemetar sampai ke ulu hati dan jantung, berdebar makin kencang. Jantungku.

‎Rasa kantuk sangat besar, keringat keluar, sekujur tubuh ku rasakan basah. Tapi hawa sumuk menggerogoti seluruh anggota tubuh.

‎Pikiranku berdebat, banyaknya suara aneh memenuhi. Baik fakta ataupun pikiran aneh,  bergelut di urat nadi, otak, jantung, serta rasa cemas.

‎Aku mengganti posisi tidur, tetapi rasa makin aneh menggerogoti. Kuputar tubuhku. Miring kiri miring kanan telentang, meringkuk.

‎Dan rasa tak kunjung hilang, aku bangkit dengan setengah sadar. Kutenggak dua butir alprazolam. Reaksinya belum muncul, lima belas menit lagi efeknya membuat tubuhku rileks.

‎Aku mencoba tidur, repetitif rasa tak nyaman makin menjalar. Kucoba duduk dan menarik nafas, sedang keringat makin bercucuran.

‎Aku bangkit, mengelap dulu keringat di sekujur tubuh, dengan rasa makin tidak karuan. Lalu aku berpakaian. Memakai pakaian yang membuatku sejuk.

‎Kupandangi remot AC, kemudian aku mendengar suara token listrik hampir habis.  Aku kembali membaringkan tubuh, memejamkan mata, meski sumuk dan tubuh yang tersiksa berbaur.

‎Panas dalam dan luar tubuh amat terasa. Aku membalikkan bantal yang menopang leher serta kepalaku, pun membalik bantal yang menutup wajahku.

‎Kulirik jam, aku tahu belum larut. Kulanjutkan memejamkan mata. Perasaan, pikiran, serta kondisi tubuhku terus melawan untuk tidur. Sedang suara muda dan mudi di luar makin membuat wahamku memperkuat pikiran untuk tidak tidur.

‎Merasa tenggorokan kering, aku bangkit dengan gemetaran, kuambil air dari kulkas di kamar. Kutenggak, lalu aku kembali berjalan ke ranjang, dan kembali mencoba tidur.

‎Saat itu mendadak ada kesegaran yang aku rasakan, pikiranku berkata efek alprazolam sudah bekerja. Aku pun membaringkan tubuh menghadap tembok.

‎Kupeluk gulingku, dimana sebelumnya kubalik kembali bantal, juga kubalikkan bantal penutup muka. Aku pun kembali mencoba tertidur, kali ini dengan pikiranku yang lebih tenang.

‎Setelah itu kesadaranku makin tipis. Kulihat senyum kakek ku dalam mimpi. Juga kumerasakan belaian. Aku tahu itu kakek, yang dalam sekejap ada di hadapan ku.

‎Aku tersenyum padanya, ia pun tersenyum padaku. Aku tidur nyenyak. Tak pernah aku tidur senyenyak ini.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi