Aku tidak mengerti, kenapa orang-orang benci pada perpisahan?
Bukankah setiap pertemuan memang pada ujungnya adalah perpisahan?
Bukankah setiap detik dalam satu menit yang berlalu, itu adalah perpisahan? Bukankah setiap menit dalam satu jam yang berlalu adalah perpisahan? Dan bukankah setiap jam dalam satu hari yang berlalu adalah perpisahan?
Maka itulah artinya dunia ini, dengan setiap perputarannya akan berujung pada perpisahan.
Setiap helaian napas yang masuk dan keluar, suatu saat akan berhenti. Setiap pohon yang berubah warna daunnya, kering dan menguning, kemudian akan gugur pada akhirnya.
Air hujan yang jatuh meninggalkan langit mendung sebagai tempat awal ia bernaung, pada akhirnya akan turun menyentuh permukaan tanah.
Hingga senja, yang datang hanya sebentar kemudian memilih untuk tenggelam—
Yaa semua itu adalah perpisahan.
Seperti tepat dihadapanku sekarang.
Senja yang kutatap beberapa menit yang lalu. Yang baru saja aku kagum dengan jingganya, tapi kini memilih untuk tenggelam. Meninggalkan pria paruh baya ini, yang hanya ingin duduk menuangkan setiap isi pikirannya.
Jingga itu pergi, seolah ia berkata padaku—
"Waktumu pada hari ini telah habis, bersegeralah untuk hidupmu esok hari, itupun kalau waktu masih berpihak padamu"
"Sebelum perpisahan yang sesungguhnya tiba" Sambungnya.
"Argh dia benar" Ucapku sebagai penutup hari ini.