Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
4
Pagi yang Terlalu Dini untuk Menguatkan Diri
Self Improvement

Jam lima pagi ini aku berangkat ke rumah sakit. Maklumlah, pasien setia selama 16 tahun yang masih wajib kencan sama pangeran berjubah putih.

Habis mandi, sholat subuh, beberes, lalu werrrr, langsung jalan. Nggak sempat ngopi. Padahal, selalu ada yang terasa kurang kalau pagi dimulai tanpa kopi.

Entahlah, mungkin karena sudah jadi kebiasaan. Jadinya linglung kalau masih belum sempat meneguknya.

***

Kuputuskan buat mampir ke kantin. Kupesan kopi sachet, kutuangkan sendiri racikannya ke paper cup. Seperti biasa, refleks aku bertanya, “Mbak, ini ada pegangannya?”

Dengan nada ketus, kasir menjawab singkat, “Nggak ada. Adanya kresek.”

Ya sudah.

Kubawa kopi panas itu ke meja kasir sambil menahan perih di telapak tangan. Tangan kiri menggenggam cup, tangan kanan memegang bungkus kopi.

“Bungkusnya diambil lagi, Bu. Jangan dibuang!”

Dalam hati aku membatin, Ini nggak kelihatan ya aku lagi pegang bungkusnya?

Astaghfirullah ... Istighfar, Tsal ....

“Enggak saya buang kok, Mbak. Ini,” kataku sambil mengangkat bungkus itu.

Kalian tahu apa yang selanjutnya terjadi?

Si Mbak tadi langsung menyambar bungkus kopi dengan cepat. Beberapa detik aku tertegun. Setelah bungkus pindah tangan, ia langsung memindainya.

“Empat ribu.” Singkat, padat, tanpa senyuman.

Aku menyerahkan uang seratus ribu.

“Uang pas saja. Kalau nggak ada, pakai QRIS saja.”

Kubuka dompet, mengeluarkan empat lembar uang seribuan yang warnanya sudah pudar, lemas, tapi masih utuh.

Nggak sobek. Masih sah, pikirku.

Langsung kutaruh kertas bergolok tadi di meja kasir, tanpa suara apapun. Selesai bayar, aku langsung berbalik sambil mengelus dada.

Bukan cuma karena panas kopi, tapi karena rasanya… pagi ini berat sekali.

***

Di lorong rumah sakit yang masih setengah sepi, aku duduk sebentar. Menarik napas. Menyeruput kopi pelan-pelan. Pahit. Panas. Menyentuh sampai ke dada.

Dan di situ muncul pertanyaan yang nggak bisa langsung kujawab:

Ini aku yang terlalu baper karena belum ngopi dan badan belum siap? Atau memang nadanya yang ketus, tanpa filter?

Kadang kita datang mencari ketenangan, namun bertemu nada yang terasa dingin. Bikin hati langsung ambyar.

Tapi mungkin juga bukan soal sikap, sih. Melainkan hanya dua manusia di pagi yang berat. Dia dengan pekerjaannya .... Aku dengan pagiku.

Namun, memahami bukan berarti membenarkan. Empati tidak sama dengan menoleransi sikap yang melukai.

Setiap orang boleh lelah, tapi tanggung jawab tetap ada.

Self-love bukan alasan untuk bersikap ketus, dan menjadi manusiawi tidak pernah berarti mengabaikan peran kita pada orang lain.

Yang bisa kulakukan pagi itu hanyalah menjaga caraku merespons.

Tidak membalas dingin dengan dingin.

Tidak menambah beban di hari yang sudah berat.

Dan aku pulang dengan satu kesadaran sederhana:

kadang yang perlu kita rawat bukan hanya perasaan sendiri, tapi juga cara kita hadir untuk orang lain. Terutama saat sama-sama lelah.

==================

Hai .... Aku Tsalits Fz

Kalau kamu menikmati ceritaku, atau ada yang bisa diambil pelajarannya, tap love, ya. Biar aku lebih bersemangat lagi buat nulis.

Terima Kasih.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Rekomendasi