Anak Perempuan Ayah

Bruakk...

Raline menggebrak meja hingga semangkuk mie instant yang disajikan Pak Rudi di meja tumpah ke lantai dan tidak bisa dimakan lagi. Yang Raline tidak tahu, mie instant itu adalah makanan terkahir yang mereka punyai.

Sudah dua bulan Pak Rudi dipecat. Hingga ia tidak memiliki pemasukan lagi, tapi Raline sama sekali tidak mengerti tentang keadaan Pak Rudi.

"Aku sudah muak, Pak, jadi orang miskin aku muak! Bapak tahu? bahkan teman-temanku dibelikan ayahnya handphone paling baru dan mahal. Sedangkan aku? Boro-boro bisa punya handphone mahal, makan saja harus berdua sama Bapak? Cuma mie isntant lagi!" teriak Raline.

Ia menangis sesenggukan tanpa pernah tahu, bahwa Pak Rudi lah yang seharusnya sakit hati mendengar perkataan anaknya itu. Tapi Pak Rudi hanya menghela napas, ia tahu bahwa ia harus bersabar lebih banyak.

Bruakk...

Terdengar seperti suara orang jatuh di pintu. Pak Rudi bergegas membuka pintu dan betapa kagetnya ia melihat ada seorang gadis berusia enam belas tahun sebaya dengan putrinya tergeletak lemas tak berdaya. Pak Rudi dengan cepat mengangkat tubuh gadis tidak berdaya itu.

"Raline, cepat ambilkan minum. Kalau tidak, gadis ini bisa mati."

Meski dalam kebingungan, Raline menurut. Mengambil minum segelas dan meminumkannya pada gadis itu. Meski masih sadarkan diri, sepertinya gadis itu tidak lama lagi akan mati kalau tidak diberi makan. Tubuhnya yang lemas menandakan ia sudah kehabisan energi dan kelaparan.

"Kamu kenapa?" tanya Pak Rudi seraya menyuruh Raline memunguti sisa-sisa mie instant yang berhamburan di lantai. Meski menjijikkan, tapi gadis itu tetap harus makan. Dan itu lah satu-satunya makanan yang Pak Rudi miliki.

Raline menyendoki mie kepada gadis tanpa nama itu dengan terburu-buru. Ia tidak ingin melihat ada gadis mati di depannya. Tidak. Itu hanya akan memberikannya kenangan buruk selama hidupnya.

Sekali lagi Pak Rudi bertanya, "Kamu kenapa, Nak? Apa yang terjadi kepadamu?"

Di sela-sela ia memakan mie yang disuapi Raline, gadis itu menjelaskan kenapa ia bisa berada di sini.

"Saya kabur dari kejaran orang yang ingin menjual saya. Tante saya menjual saya dengan alasan saya harus membalas budi karena ia telah mengadopsi saya. Saya mau membalas budi, tapi tidak dengan menjual diri saya."

Lalu gadis itu menangis terisak-isak. Menceritakan lebih banyak tentang dirinya kepada Pak Rudi. Sementara Raline sudah tidak mendengarkan. Ia hanya tertegun. Dan juga ikut menangis.

Mengapa dirinya tidak pernah bersyukur memiliki ayah yang sangat baik?

Setidaknya ia masih bisa makan walau hanya semangkuk mie instant, berdua pula.

Setidaknya ia tidak perlu menjual diri untuk membalas budi.

Setidaknya ia masih bisa tidur nyenyak di kasurnya tanpa perlu menangis.

Setidaknya ia masih bisa sekolah meski bayaran SPPnya selalu menunggak dan ia selalu diomeli petugas tata usaha.

Setidaknya, ia tahu ia memiliki ayah yang begitu menyayanginya dan rela berkorban untuknya meski harus merelakan nyawanya sendiri.

Kenapa ia selalu menuntut hal yang ia tidak punya dan tidak pernah bersyukur dengan segala hal yang ia punya?

Benar, kemewahan tidak ia miliki. Tapi, Raline kini sadar. Yang ia perlukan bukan kemewahan. Tapi kasih sayang ayahnya jauh melebihi apapun di dunia ini.

"Raline sayang bapak," ucapnya dalam hati.

"Maaf, Raline minta maaf, Pak"

13 disukai 6 komentar 1.9K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Masamaa...semoga bermanfaat..
@imelyo26 : Terima kasih kak imel udah mampir dan koreksi cerita aku🙏
Btw, bisa pilih: Mi instan atau istant noodle. Pilihan pertama enggak perlu dimiringkan.
Pesannya dalemm
Raline shah
Raline, kamu memang harus bersyukur. Di luar sana masih banyak yang lebih kurang beruntung
Saran Flash Fiction