Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
87
Di bawah hujan
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Sore itu,

Awan hitam bergelantung di atas langit kota, seolah langit akan segera runtuh. Rintik-rintik kecil mulai jatuh ke bumi.

Di sini di tembok kota yang tinggi. Kirana masih berdiri memandang langit yang jauh, berpikir jika melompat akankah dunia melupakannya.

Air matanya hampir mengenang tapi tertahan untuk jatuh. Gaun kasa biru muda miliknya tertiup angin dan berkibar lembut.

Sosoknya yang menyendiri dan kesepian membuat hati seseorang akan bergetar karena kasihan.

Angin menderu seperti bisikan hantu yang menarik jiwa manusia ke alam hampa. Kilatan cahaya petir sesekali melintas di langit sendu yang gelap dan berkabung.

Di ujung jalan sebuah mobil terparkir, pintu kemudinya terbuka dan seorang pria yang mengenakan kemeja hitam turun dari mobil.

Pria itu memegang payung dan berjalan menghampiri.

Menatap gadis muda yang masih diam tanpa berniat pergi. Melihat rintik yang jatuh ke wajahnya yang lesu dan tidak lagi memiliki jiwa.

" Sampai kapan mau seperti ini? Melarikan diri setiap saat." Pria itu tahu Kirana baru saja menerima telpon dari keluarganya yang jauh namun pembicaraan itu pastinya tidak baik-baik saja.

Pria itu kembali bertanya "apakah dengan begini dendam itu akan habis? Kamu mengasingkan mereka dari hidup mu, dan mengasingkan dirimu dari dunia. Belum cukup kah?"

Pertanyaan ini membuat Kirana sedikit tergerak. Matanya berkedip-kedip berusaha menarik kembali air matanya yang mengenang namun sia-sia.

" Kirana, tidakkah kau ingat betapa luas dunia ini untuk membuat mu terpaku seperti ini?? Tidak bisakah kamu melepaskannya??"

Kirana terdiam sejenak lalu terkekeh kecil dan berkata dengan getir. " Mungkin aku akan melepaskannya setelah aku mati."

Kirana memejamkan matanya dan merasa sakit di hatinya.

Sebuah emosi terkumpul dan Kirana berteriak keras ke kejauhan.

" Aaaarrgggghhh...."

" Mengapa aku hidup? Mengapa mereka membiarkan aku hidup? Mengapa mereka menarik ku kembali dari kematian? Mengapa mereka memberiku harapan?" Pertanyaan terakhir benar-benar keluar dengan keputusan yang membuat suara Kirana tercekat.

Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini selalu mengganjal di hatinya akhirnya terucap.

" Yihan katakan padaku. Mengapa mereka melakukan itu padaku, jika pada akhirnya mereka meninggalkan ku? Yihan katakan padaku!!" Kirana mengguncang lengan pria di hadapannya dan jatuh berlutut sambil menangis sesenggukan.

" Kirana... Aku tahu di hatimu masih ada mereka." Pria itu perlahan mengangkat tangan kanannya hendak menepuk pundaknya untuk sedikit menenangkan gadis itu. Namun tangannya membeku di udara. Dia merasa kasihan tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan.

" Mengapa mereka tega meninggalkan ku? Seharusnya aku mati saja, ada lebih dari satu kali kesempatan. Tetapi mengapa mereka menahan ku di dunia ini?"

Kirana semakin menangis menjadi-jadi, dia ingat betapa sulitnya ketika orang tuanya membawanya kemana-mana mencari obat saat dia sakit di umur 3 tahun. Ketika dia berusia 5 tahun orang tuanya membujuknya untuk meminum berbagai macam obat berharap dia bisa hidup dengan normal. Tetapi setelah semua itu berlalu sekarang mereka meninggalkannya.

GU Yihan tidak tahu harus berkata apa. Dia juga ikut duduk di samping Kirana dan menemaninya.

Gerimis kecil itu mulai turun semakin lebat dan lama kelamaan berubah menjadi hujan dan menjadi semakin deras. Seorang gadis dan seorang pria saling terdiam duduk di bawah baptisan sang hujan.

Waktu berlalu dalam diam yang panjang, pada akhirnya suara serak di tengah deru hujan memecah kebuntuan.

" Pulanglah!!" Ucap Kirana dengan suara sengau setelah lelah menangis.

" Aku akan pulang jika kamu pulang bersama ku. Kirana, aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Masih banyak yang menunggu mu untuk pulang." GU Yihan berbicara dengan keras di tengah gemuruh suara hujan. Dia menatap wajah Kirana lekat-lekat. Matanya berkedip beberapa kali karena menahan tetesan air hujan yang jatuh ke wajahnya.

Tubuhnya lama basah kuyup tetapi GU Yihan masih duduk dengan keras kepala sambil memeluk payung yang tadi dia bawa di samping Kirana.

Setengah jam kemudian Kirana beranjak, berdiri dan mengulurkan tangannya kepada GU Yihan dan berkata. " Ayo pulang."

Gu Yihan dengan senang hati menerima uluran tangan Kirana dan berdiri dengan penuh semangat.

Mereka berjalan kembali ke arah mobil yang terparkir sambil mengobrol.

Gu Yihan berjalan mundur di depan kirana sambil memiringkan kepalanya dan berkata dengan manja. "Ayo makan hotpot. Kirana kamu harus mentraktir ku."

Kirana hanya mengangguk dan berkata " hmm"

" Malam ini ayo pergi ke KTV di luar kota. Baik?"

Kirana kembali berkata "hmm" sambil menatap pria itu dengan kesal.

Pada akhirnya pria itu membuka payung yang selama ini di peluknya dan berbagi payung dengan sia-sia sambil berjalan menuju mobil di bawah hujan deras yang belum sepenuhnya reda.

Mereka sudah terlanjur basah kuyup. Tapi bagi Gu Yihan semuanya sepadan. Kerena pada akhirnya Kirana akhirnya bersedia menyerah. Dan kembali ke hidupnya yang indah.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi