Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
23
Biarkan aku bahagia
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Di ujung koridor rumah sakit.

Di depan pintu UGD, seorang wanita tua bernama Lisa sedang menangis sesenggukan. Memikirkan nasib puteri bungsunya yang sedang menjalani operasi karena kecelakaan...

Dari kejauhan tampak seorang wanita muda dengan dress coklat tua menenteng tas berwarna hitam yang indah. Di pergelangan tangannya sebuah jam tangan Dior edisi terbaru tampak indah dan tidak berlebihan, elegan tapi tidak mencolok.

Wanita muda itu memiliki riasan tipis di wajahnya, tanpa tambahan aksesoris apapun.

Namanya adalah Kirana. Kirana berjalan menghampiri ibu Lisa yang masih sedikit terisak di bangku tunggu.

Kirana berkata dengan perlahan.

" Pesawat ku akan berangkat pukul 4 sore. Kamu.... Jaga kesehatan mu.... " Gadis itu menatap wajah ibunya sebentar sebelum berbalik hendak melangkah pergi.

Ibu Lisa segera menahan lengan ramping putrinya, berkata dengan suara serak karena terlalu lama menangis.

" Tinggallah sebentar. Tidak bisakah kamu menunda perjalanan.... Adik mu... Dia..."

Kirana menghentikan langkahnya. Berbalik untuk Menatap ibunya lekat-lekat.

" Bu, ini mimpiku! Kamu tidak mendukungnya." Kirana menghela napas panjang, menatap wajah wanita yang menjaganya selama 27 tahun. Lalu berkata dengan pelan. "Kamu lupa? Dia bukan adik ku. Tes DNA nya jelas mengatakan bukan adik ku."

" Kirana. Intan.... Dia tidak salah...." Bu Lisa mencoba menjelaskan.

" Jadi aku yang salah?" Kirana mendongak lalu menghembuskan napas menahan emosi di matanya.

" Salah atau tidak dia yang paling tahu.... Aku juga berhak bahagia. Bu, aku datang untuk berpamitan, bukan untuk sekali lagi di tahan disini. Jaga dirimu." Kirana melepaskan tangan ibunya dengan lembut, berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)