Surat Misterius

Ayah Liza keluar dari ruang kerjanya sambil mengacungkan sepucuk surat.

“Liza,” panggilnya, “Ayah cari-cari, Ayo masuk!!”

Liza mengikuti ayahnya memasuki ruang kerja, dan ia menduga bahwa apa yang akan disampaikan oleh ayahnya tentu berhubungan dengan surat yang dipegangnya.

Mereka duduk berdua saling berhadapan. Liza menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk memberikan penjelasan yang tepat. Tidak biasanya ayahnya berbicara seserius itu, keningnya dikerutkan pula!

Entah mengapa, Liza merasa panas-dingin di tubuhnya, kipas angin yang berkeliling di pojok ruangan mempunyai dua fungsi, satu membuat Liza tidak kegerahan, dan yang satu lagi membuat dia menggigil. Beragam pikiran berkecamuk di benaknya. Berusaha mengingat kembali kesalahannya. Rasanya dadanya seakan-akan hendak keluar dari tubuhnya.

Ini memang kesalahannya. Semester ini nilai UAS-nya benar-benar jeblok. Nilai C ada 4, D ada satu sedangkan E ada satu. Nilai yang dapat dengan mudah membuatnya di drop out dari fakultas.

Tiba-tiba mukanya memucat.

Drop Out? Ya ampuuun … rupanya hanya sampai semester empat ini aku bisa bertahan di fakultas, berkuliah di Fakultas dan Universitas incaran banyak orang, aku memang bodoh, lulus ujian saringan masuk aja tidak lantas membuat aku jadi manusia terpintar. Bisa jadi kan aku lulus karena peruntungan yang baik, soal isi kepala belum jamin, buktinya selama empat semester berturut-turut selalu mendapat IPK di bawah dua, harus dikemanakan wajahku, belum lagi Ayah yang selalu membanggakanku di hadapan keluarga besar, aku benar-benar pembawa aib.

Matanya kemudian berkaca-kaca. Liza tahu, hari ini mungkin akan tiba, tapi tidak disangkanya akan cepat, karena setahunya keputusan drop out dari dekan akan diberikan setelah semester enam.

Lalu tiba-tiba ada secercah harapan, Aku tidak akan di drop out sekarang, akan belajar sungguh sungguh besok, tidak akan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan Band’. Ia menyesali kelalaiannya, ia tidak menganggap penting akademiknya. Menurutnya hidup tidak melulu hanya berupa angka, tapi eksistensi. Orang yang sukses di negeri ini kebanyakan bukan orang yang berhasil di akademik. Tapi kalau harus drop out … tiba-tiba terlintas senyuman ayah dan ibunya yang kemudian hilang.

Lalu tebersit pikirannya yang lain, Memang tidak di drop out sekarang, tapi ada surat peringatan ke orang tua, tiba-tiba lemas seluruh tubuh Liza. Tidak bisa begini, aku diam hanya akan membuat aku stres, membuat ayah marah, aku akan bercerita, duluan dan berjanji akan belajar dengan baik, ia menguatkan tekad.

Mulutnya terbuka, “A .…”

Saat itu juga ayah Liza berkedip, “Liza …” panggilnya memelas, “tolong terjemahin surat ini, ayah enggak ngerti, pake bahasa Inggris, sih,” pintanya dengan wajah memerah.

7 disukai 10.4K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction