Disukai
1
Dilihat
2,203
CODET
Drama

 

CODET

 Penulis Teguh Santoso

Rasa was-was warga kini kian terteror atas pembebasan napi ditengah wabah global covid 19. 

“Sudah 13 yang beraksi lagi”

“Sekarang sudah 30 preman Bro”

“Tukang Ojol tuh ada yang digorok dibawa kabur motornya”

“Lha memangnya belum dengar Supir Gocar yang ditusuk-tusuk pakai obeng?”

“Jangankan itu, begal handphone saja pakai matiin yang punya”

“Parah memang”

“Singa kok dilepas ya pasti kalau lapar siapa saja dimakan, namanya juga hewan, tidak punya otak”

“Kalau yang lepasin singa pakai apa dong?”

“Namanya juga penguasa Bro, melepas singa pasti buat cari duit”

“Bukannya duitnya buat sembako kita juga Bro”

“Jangan pura-pura tolol deh, itu kan teori penguasa kekinian,mental pedagang tanah abang semua”

“Maksud lo gimana?”

“Coba itung deh. Kalau 1 napi dijatah makan sehari 30 ribu dikali sebulan berapa? Kali 37.000 napi”

“Terus yang pedagang tanah abang maksud lo siapa?”

“Nah duit napi kan buat dibagi-bagi rakyat miskin kayak kita-kita nih, dari pemerintah dikasih 600ribu buat tiap KK, tapi yang dikirim ke kita-kita Cuma sembako senilai 100ribu untuk seminggu, pan harusnya 150ribu untuk seminggu, katanya 50ribu untuk ongkos kirim. Memangnya negara ini gak ada fasilitas pengiriman?”

“Nah lo kalau disuruh bagi-bagi sembako emang gak butuh uang rokok?”

“Gue sih ikhlas Bray, yang lain gak mau sama-sama bejuang, ini kan jaman lagi susah mbok sama-sama gitu”

“Berisik amat sih kalian, bisa diam gak sih”

“Iya Pak RT maafkan ocehan rakyat jelatamu ini”

“Itu awasi terus pagar Masjid kita, lengah dikit Preman yang masuk Masjid bisa kabur”

“Siap Pak RT”

Si Bogel tetap berbisik “Kita kayak berburu singa Coy, kalau singanya yang gak kena kita yang dimakan”

Pak RT melempar botol kosong ke kepala Bogel tanda permintaan diam untuk kesekian kalinya. Rupanya satu RW telah mengepung Masjid Al Barokah yang kemasukan Preman. Warga menduga Preman itu mencuri barang-barang di Masjid. Bukan saja masalah pencuriannya. Tapi adanya preman masuk masuk Masjid saat ini seperti kemasukan babi. Diangggap haram preman masuk Masjid kala wabah corona begini. 

Pengepungan saat inipun selayaknya perburuan. Daripada membiarkan preman beraksi di wilayahnya lebih baik segera ditaklukan mumpung alasannya tepat. Situasinya memang seperti berburu Singa. Ada yang bawa balok, ada yang bawa bambu, batu, batako, kunci inggris, besi, tambang, pokoknya apasaja yang bisa digunakan untuk senjata masing-masing. Semua mata tertuju pintu pagar besi Masjid yang tergembok. Semua mulut dibalut masker masing-masing. Bahkan ada yang pakai sarung tangan segala kuatir tertular corona.

Sore itu mendung pekat sekali. Tidak ada cahaya yang menerangi. Awan yang menggumpal keabuhitaman serasa duka alam yang sedang berkabung. Tidak ada warna cerah yang berkilau. Seperti wajah-wajah warga yang siaga di berbagai sudut seputar Masjid. Semua mata menatap kearah pintu pagar Masjid. Dalam pikiran mereka menghadapi preman selayaknya berburu binatang buas. Menaklukkan atau terbunuh atau luka-luka. Dalam pikiran mereka ini semua gara-gara cerobohnya pembebasan puluhan ribu narapidana ditengah musibah covid 19. Semua itu menjadi terror bagi masyarakat antara hidup dan mati. Diam di rumah karena masih ada PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), dimana orang dilarang keluar rumah sebagai upaya pemerintah untuk mengurangi penularan atau penyebaran virus corona yang sedang melanda di seluruh dunia ini, sesuatu yang tidak mudah dijalankan. Tapi diam di rumah bisa mati kelaparan kalau tidak bekerja untuk mencari makan. Bekerja di luar rumah beresiko tertular virus corona atau bahkan bisa mati sia-sia ditangan preman yang berkeliaran mencari mangsa. Pilihan yang menyulitkan ditengah wabah global covid 19 ini memang simalakama. Namun hakekat manusia naluriahnya bertahan hidup. Pilihan untuk hidup akan lebih opitimis mencapai pencarian makna. Meski hidup memang suatu perburuan, berburu atau diburu. Dan diam saja tidak akanmenghasilkan tujuan apapun. Bertindak sesuai pandangan kebenaran masing-masing itu menjadi sesuatu yang lahiriah.

Jalanan depan Masjid yang biasanya macet pun kini hanya segelintir kendaraan yang melintasi. Lengang. Belum lagi Masjid itu tampak gelap belum ada yang menyalakan lampu didalam karena masih jam 4 sore an lebih. Dan Masjid itu dikelilingi pagar tembok yang tinggi, hanya berkisi-kisi lubang angin seukuran kepala orang. Angin berhembus meluruhkan dedaunan kering untuk berjatuhan ke bumi menyiratkan hokum alam yang rapuh akan terhembus angin sia-sia. 

Bersamaan ranting kering yang retak itu jatuh, warga dikejutkan saat Preman itu berlari dan melompat pintu pagar besi itu seperti singa keluar dari gua. Dari berbagai penjuru warga langsung menghambur kearah pintu gerbang Masjid. Mereka melingkar mengelilingi sosok Preman yang berdiri di depan pintu pagar besi gerbang Masjid. 

Preman itu kurus tinggi semampai. Umurnya sekitar 40 an. Berdiri tenang ditengah kepungan warga. Matanya nyalang memperhatikan warga yang mengepung dengan membawa berbagai senjata. Koas hitamnya yang fit body sudah kekecilan sehingga dari lenganya tampak tato ular cobra yang melilit di lengannya dan tato kepala cobra ada di punggung tangannya. Wajahnya ada luka sabetan benda tajam yang membekas mencoreng diagonal dari ujung jidat kanan hingga pipi sampai rahang bawah kiri.

“Tolong tiarap dan kami tidak akan melukai..” teriak Pak RT dengan bijak

“Udah hajar aja Pak RT”

“Diam kamu!”

“Iya.. bisa jadi dia yang membunuh kepala bonyok”

“Tunggu, kita tanya dulu..,” sergah Pak RT, “Apa yang kamu lakukan di Masjid kami”

“Saya tidak mencuri apa-apa, kalian semua bisa lihat sendiri, tidak ada yang saya curi”

“Kalau ini kita lepas pasti dia bisa berulah di tempat lain”

“Ayo hajar”

“Serangggggg…!!!!!”

Semua warga menghambur tak terkendali. Preman itu menangkis satu per satu serangan warga. Ia sepertinya mahir menghadapi keroyokan begitu banyak orang. Preman itu hanya menangkis, mengelak, menepiskan serta memutarkan serangan meskipun sesekali terkena beberapa pukulan yang menyebabkan darah mengucur dari kepala juga lengan dan wajahnya. Tapi preman itu tetap berdiri tanpa gontai sedikitpun. 

“Berhenti !!! Berhenti semua !! “ teriak Pak RT

Warga semakin beringas penuh amarah karena tak mampu menjatuhkannya. Sodokan tangannya membuat warga mulai merasakan sakit perlawanan dari preman itu. Sehingga membuat warga makin emosi dan kalang kabut menyerang memukul-mukul dengan membabi buta. Beberapa pukulan balok, bambu, batu tetap membuat Preman itu tak bergeming. 

“Pakai jimat nih Preman sialan”

“Kalau gak gelang babi pasti punya merah delima”

Warga yang jatuh atau terpukul semakin jadi amarahnya. Mereka jadi beringas ingin membalas. Bergantian mengayunkan pukulan dan tangkisan preman itu mengenai serangan mereka sendiri seperti di film-film silat. 

Namun tak disadari dari belakang Preman itu, sebuah hantaman linggis yang keras menimpa leher hingga kepala Preman itu. Darah mengucur bercucuran di permukaan aspal. Kuda-kuda mulai goyah tergontai. Tangan kanannya menahan di aspal jalanan saat membungkukkan badan. Preman itu menoleh ke belakang perlahan tapi pandanganya yang mulai blur itu membuatnya terjatuh terkapar diatas aspal jalanan. 

“Mampus lo bangsat”

Semua warga meluap amarahnya hendak memukulinya

“Cukup. Berhenti semua. Stop.. Berhentiiiiiii….”

Semua warga berhenti berkerumun melingkari Preman itu.

“Jangan ada yang menyentuh, nanti kena corona. Siapa tahu Preman ini sudah kena”

Semua warga kemudian memandang kearah pemegang linggis yang masih tercenung tak bergeming memegangi linggisnya. Orang berbadan gempal berpeci serta bersarung itu hanya melongo tetap dengan menggenggam linggis keatas. Warga juga heran memandanginya. Setahu mereka anak itu tidak pernah marah atau galak. Baru kali ini bisa sebegitunya. Warga yang penuh tatapan keheranan itu membuatnya berbeda tanggapan. Wajahnya yang culun itu berubah takut dilihatin warga. 

“Gue gak bunuh dia lho Cuma gini in doang” marbot Masjid itu praktekin cara dia mukul preman itu.

“Gabut? Untung ada ente But. Top dah ente”

Warga ada yang membalikan badan Preman itu dengan bambu yang dipeganginya. Dan wajahnya yang berlumuran darah itu terlihat jelas oleh Gabut pemukul linggis.

“Bang Codet? Kok elu Det?” teriak Gabut. Warga pada menoleh Gabut lagi, “Maafin gue ya Bang”

“Ente kenal But”

“Pan dia yang pernah menolong gue waktu dikeroyok di orkesan dangdut, kalau gak ada Bang Codet dah nihil kali gue”

“Jadi elu dari tadi didalam Masjid, But?”

Gabut mengangguk

“Elu kenapa gak WA gue kasih tau dia nyolong apa egak di Masjid”

“Kalau dia nyolong gue pasti WA lah, kalau gue gak WA kenapa elu-elu pada keroyok dia”

“WA gak WA dia kan preman But, bahaya. Lu dah denger berita kan”

“Kalau Bang Codet mah beda”

Sebuah mobil pick up menepi. Keluar dari pintu pick up itu sopir bertato, orang itu langsung menyeruak diantara kerumunan warga yang lain. Dia memandangi preman yang terkapar itu. 

“Udah bawa ke Rumah Sakit, terus telfon Polisi” sergah Pak RT ditengah riuh rendah pembicaraan dengan Gabut. Pak RW mencari telfon RS dan seorang warga mendial telfon polisi.

“Gak usah..” kata supir pick up, “biar saya saja yang antar ke RS mumpung searah”

Warga yang lain spontan menggotong preman itu berbarengan menuju ke pick up si supir. Preman direbahkan telentang diatas pick up. Supir kembali masuk mobilnya dan segera menjalankan mobil pick up itu

Pak RT memberi kode pada salah satu warga 

“Lu kenal sama supir itu…?”

“Dari RT sebelah kali”

“RT sebelah RT berapa maksud lu?”

Ternyata tidak ada satupun yang mengenali supir pick up itu. Pick up sudah jauh belok di perempatan. Tidak ada yang menyadarinya, tidak ada yang mengenalinya.

***

Mata Codet terkeriap membuka perlahan. Dia terbaring di ruang depan sebuah kontrakan. Lukanya sudah dibersihin. Satu dua kulitnya yang sobek sudah dihandsaplast. Dihadapannya bocah 5 tahunan sedang bermain robot-robotan di depan televisi yang menayangkan berita Kepala Bagian Humas dan Protokol Ditjen PAS, Rika Aprianti sedang mengatakan “Perlu dimengerti masyarakat, narapidana yang dilepaskan dalam program asimilasi dan intergrasi penyebaran covid 19 ini, jangan dianggap penjahat. Semua orang bisa punya masa lalu dan kesalahan tapi semua orang punya kesempatan. Tuhan saja kasih kesempatan kita berkali-kali, kita hanya ditutupi dosanya samaTuhan jadi tidak ketahuan”

Ditengah siaran berita itu terdengar keributan si supir pick up dengan istrinya di kamar. 

“Ngapain bawa-bawa preman itu kemari Bang, kan bahaya, apalagi abis kejadian begitu, entar bisa berurusan sama polisi, abang ke bawa masuk lagi”

“Abang cuma pingin bales budi nolong dia Neng, selama di penjara bareng, Bang Codet sering nolong abang kalau ada masalah, masa sekarang giliran mau nolong gak boleh?”

“Bukan gak boleh Bang, abang sendiri mikir dong mestinya, nolong diri sendiri saja belum bisa mau nolong orang lain, belum lagi kalau dia sudah kena corona, kita bisa kena semua, duh abang pulang bikin tambah mumet saja, puasa gak puasa temen abang kan butuh makan, makan kita aja dari utang sono tutupi utang sini, apa gak nambah banyak utang kita kalau nolong dia Bang”

“Cuma 2 atau 3 hari aja sampai lukanya sembuh”

“2 hari kek 3 hari kek emang makan segitu gak dapet dari ngutang? Lagian utang bayar pegawai penjara ngempani abang supaya bisa ikut dibebasin aja belum lunas. Mana sekarang cari duit tambah susah Bang lagi corona begini. Tempat Neneng kerja londry aja udah mulai sepi. Apalagi panggilan pijit urut Eneng juga sepi pada takut ketular virus semua”

“Sekarang kan udah ada Abang bisa bantuin bayar utang”

“Nah bayaran nyopir hari ini aja mana? Masih belum dibayarkan? Ngutang lagi kan makan kita malam ini sama sahur nanti?”

Mendengar itu semua, perlahan Codet berusaha bangkit meski masih pening dirasa. Bocah kecil itu hanya memperhatikan Codet berusaha berdiri dan melangkah keluar dari kontrakan rumah petak itu.

Lembayung senja seakan mengiring untaian perpisahan terang kepada kegelapan. Apa yang sudah dilakukan Codet terhadap supir pick up itu sudah dianggap terbayarkan. Dan pertolongan Codet kepada supir pick up yang sama-sama napi itu seperti pergantian waktu terlewatkan begitu saja. Tanpa kesan mendalam apapun arti pertolongan itu terkadang. Kemana benderang siang itu terlewatkan hingga sejauh mana fajar akan menyingsing kembali. Kehidupan manusia seperti siang berganti malam dan terus akan bergulir bergantian. Bagi Codet semua itu hal yang biasa. 

Langkah Codet telah membawanya di tempat orang biasa jual beli sepeda motor bekas. Tapi disitu sepi, hanya ada segelintir orang di pojok warung rokok sedang ngopi dan merokok. Codet menjulurkan uang 10.000,- ke tukang jual rokok.

“Filter, semua”

Tukang Rokok membuka bungkus rokok filter yang dimaksud Codet dan mengurangi isinya.

“Ada lihat yang mau jual motor Yahama C70 bebek merah modif gak Pak”

“Gak ada lihat, Bang. Coba aja tanya Kang Kisut, Noh disebarang”

Codet menerima rokok yang dibelinya. Mengambilnya sebatang sisanya dimasukkan kantong celananya. Codet menyulut rokok sembari melihat kearah Kang Kisut diseberang. Saat hendak menyebrang jalan, dari belakang Codet melintas anak muda 25 tahunan mengendarai motor Yamaha bebek merah C70 modif yang dimaksud.

“Woi motor gue, berhenti lu!”

Anak muda yang mengenakan helm nazi itu menoleh. Codet mengejarnya sambil terus meneriakinya. Anak muda itu tancep gas. Makin kenceng larinya motor. Ia menuju jalan raya. Codet berlari sekuatnya mengikuti motor itu. Seperti dugaannya, motor itu tersendak berangsur-angsur mogok dan membelok ke jalan kecil. Codet semakin kencang larinya. Di tikungan itu tampak anak muda sedang menstarter ulang motor cempenya. Codet sekuat tenaga lari menghampiri anak muda itu. Bertepatan sejengkal lagi Codet sampai, motor itu hidup kembali. Anak muda segera memasukan gigi dan langsung ngegas. Tapi tangan Codet secepat kilat menyautnya krah jaketnya dan membanting anak muda itu ke trotoar. Tanpa basa basi anak muda dicekik.Warga yang lewat menyaksikannya. Dia lari mencari pertolongan warga lain.

“Lu nyolong motor gue!”

“Egak Bang”

Anak muda itu mengambil belati dan langsung menusuk lengan Codet sampai anak muda itu terlepas. Anak muda itu menyerang Codet dengan belatinya. 

“Dapet darimana lu motor gue?!”

“Banyak bacot lu preman sialan”

Ayunan belati menggores dada Codet dan masih terus menyerang bertubi-tubi. Codet hanya menangkis dan mengelak. Anak muda itu tambah beringas 

“Belagu lu, ayo lawan gue dongo”

Anak muda itu menyerang lagi tambah kesetanan emosinya. Membabi buta mengayunkan belatinya. Tanpa disadari Codet terperosok trotoar yang ambrol dan terjatuh. Anak muda itu menerkamnya dan menusukkkan belatinya. Mengenai lengannya. Ketika belati dicabut lagi dan mau menusukkan ke leher Codet ditepis dengan tangkisan kilat secara reflek menohok leher anak muda itu sendiri. Darah mengucur dari lehernya. 

Warga mulai berdatangan. Mereka semua menghambur kearah insiden Codet dengan anak muda itu. Warga dari arah lain yang melihat darah muncrat dari leher anak muda itu shock terkejut

“Astagfirullah”

Anak muda itu terpelanting di trotoar menghabiskan nafas terakhirnya. Codet segera bangkit. Betisnya yang tersangkut kawat sobek saat dikeluarkan. Codet menyempatkan membuka jok motor cempenya. Diambilnya pistol rakitan buatannya sendiri. Pistol rakitan itu diselipkan celana dibagian punggungnya sambil berlari secepatnya.

“Begal… Begal… “

Warga berduyun-duyun berlarian kearah Codet 

“Jangan lari lu”

Codet menerobos gang tikus. Berlari sebisanya. Dari gang tikus yang satu ke gang tikus lainnya. Codet membuka kaosnya sambil terus lari. Cipratan darah ditubuhnya dilapnya sampai tak berbekas. Dia menyambar baju yang digantung di emperan depan rumah kumuh. Sambil terus berlari dia berganti baju.Hingga sampai di perkampungan kumuh. Dia menyusuri pinggir sungai rumah rumah kumuh. Warga beramai-ramai mengikutinya sambil terus meneriaki begal, pembunuh, tangkap dia, sehingga tambah banyak warga yang mendengar ikut mengejarnya. Di tiap persimpangan ada saja yang mendadak menyerang Codet. Untung reflek Codet cermat. Lihai menghindari atau menangkis serangan mendadak. Bahkan ada yang harus dibanting penyerangnya. Codet terus berlari di tepian jalanan pinggir sungai Manggarai. Suara orang-orang mengejar bertambah ramai dari berbagai arah. 

Codet berbelok dan langsung masuk bedeng kumuh. Dia menghambur kedalam sekat kain jarik rombeng. Didalamnya seorang wanita sedang mau berganti pakaian sehabis mandi. Codet bergegas membekap mulutnya seerat mungkin. Wanita itu berusaha memberontak sambil terus memegang handuk bodol untuk menutupi tubuhnya yang belum berganti pakaian. Codet setengah berbisik

“Diam bentar, kalau lu bisa diam gue segera cabut dari sini”

Diluar terdengar suara-suara orang 

“Lari kemana begal itu”

“Tadi belok sini Pak”

“Udah lu kesono, yang lain belok sini”

Tiba-tiba ada yang memasuki bedeng kumuh itu

“Jangan ngumpet disini lu bangsat”

Warga yang masuk bedeng mendekati sekat jarik rombeng itu. Secepatnya Wanita itu membuka lebih dulu hanya sebatas dadanya yang dibuka. Codet yang jongkot tersundul pantat wanita itu saat didorong warga itu yang mendesak mau masuk

“Keluar sono gue lagi ganti baju, gak ada orang ngumpet disini. Sembarangan aja masuk tempat orang”

Warga itu terperangah melihat wanita itu marah dengan kondisi seperti itu. Daya telitinya berkurang tergoda melirik dada wanita itu yang terlihat belahan dadanya. Tanda beneran terlihat belum berganti baju. 

“Keluar sono, keluar!”

Warga itu hanya tersenyum menggoda sambil mundur mau keluar dari bedeng. Pintu bedeng terbuka, bocah umuran 8 tahun yang masuk mengejutkan

“Bang, begalnya lompat pagar bengkel depan sono noh, cepetan kejar Bang”

“Iya.. tengkyu Cil” 

Warga bergegas keluar bedeng lari kearah pagar bengkel itu. Bocah itu memperhatikan warga itu berlari meninggalkan tempat itu. 

“Aman Bu, kesono dulu ya Bu” bocah itu berlari mengikuti arah lari si Warga.

Codet yang masih jongkok dibelakang wanita itu bergegas segera keluar dari kamar sekatan jarik itu. 

“Ngak usah keluar dulu, kena mereka nanti.”

Codet tertahan di pintu bedeng. Wanita itu menutup kembali sekatan jarik rombeng itu. Sambil berganti baju dia terus berbicara

“Tunggu disini dulu gak apa-apa”

Wanita berumuran 37 tahun itu keluar dari sekatan jarik itu mengenakan daster lusuh. Codet baru menyadari rona wajahnya tampak pucat pasi hampir seperti mayat. Menyiratkan kurang sehat dan kurang makan. Meskipun tubuhnya tampak masih montok. Dibalik semua itu tetap aura wanita itu baik orangnya. Dia mengambil air putih dari botol bekas yang tergeletak dihamparan perlak kusut dari spanduk. Wanita itu menuangkannya kedalam gelas plastik yang warnanya kusam. 

“Minum dulu”

Codet mendekatinya turut duduk dibawah yang beralaskan MMT bekas. Codet menerima gelas itu dan meminumnya. Codet mengamati ruangan sepetak ukuran 4 x 5 meter persegi itu terbangun dari bekas-bekas triplex dan seng yang dirakit jadi dinding yang memagari rumah yang seperti kadang burung merpati itu. Kaso-kaso nya pun bekas dan kropos disana sini sudah dicapit kawat yang disangga bambu dan besi bekas apasaja supaya tetap sedikit tegak meski agak doyong. Atapnya dari asbes bekas yang berbeda-beda jenisnya. Sarung dan apa saja yang dijadikan bantal berserakan disana sini. Plastik-plastik berisi pakain dilipat sekenanya.

“Habis maling apa kok dikejar-kejar orang”

“Bukan. Mereka salah paham”

“Maklum musim corona jadi semua pada kevirusan”

Wanita itu membuat Codet ikut tersenyum

“Sebaiknya saya pergi kalau suamimu pulang ntar salah paham”

“Udah 3 bulan suamiku belum pulang. Hari-hari biasa saja suamiku sulit dapet duit apalagi hari gini, corona serba bikin makin susah… tadi saya cari buruhan nyuci kemana-mana gak dapet.. hari apes hari ini.. gak dapet sepeserpun..mana dah puasagini mau lebaran.. utang makan numpuk sampai belum ku kasih makan seharian anakku, gak tau dia makan dimana…tadi aku sampai khilaf.. ada motor jelek parkir di depan Masjid. Orangnya mungkin lagi ambil air wudhu. Eh ku starter bisa.. mana mesinnya gak brisik lagi.. ya udah ku bawa aja gitu… gak ada yang lihat juga.. niatnya mau kujual.. dah nyari pembeli, dapet pembeli, brondong.. udah nunjukin uangnya.. tapi katanya mau coba bentaran eh malah ngegas dia kabur.. udah motor nyolong gak dapet duit ketipu pula.. kadang ada aja hari apes itu…”

Codet menatap kepolosan wanita itu berterus terang pada pertemuan pertama mereka. Dan Codet pun jadi mengetahui kalau motornya yang di parkir di depan Masjid dicuri Wanita yang berada di depannya saat ini.

“Kamu sering begitu”

“Sumpah Bang itu baru pertama kali, seumur-umur baru itu..namanya lagi ruwet pikiran udah buteg keruh bingung ngasih makan anak-anakku gimana…”

“Anak kamu berapa?”

“Tiga Bang, yang tadi Damar yang paling kecil. Yang 2 perempuan lagi pada ikut ngaji biar pulang bawa gorengan buat makan bareng.. Aku dah nikah 2 kali lho…si Damar sama suami yang ngilang gak tahu kemana…Abang udah berkeluarga?

Codet menggeleng

“Masa belum.. udah umur..”

“Tahun ini 44..”

“Kenapa belum nikah?”

Damar anaknya yang ragil tiba-tiba teriak

“Bu bukain pintu, panas ni mangkoknya.”

Wanita itu bangkit menuju pintu membukakan Damar yang masuk bawa tentengan mangkok mie rebus. Belum sempat menutup pintu, anak-anak temannya Damar ikutan masuk ke bedeng dengan membawa sendok masing-masing. Wanita itu menutup kembali pintu bedeng sambil bertanya pada anaknya.

“Dikasih siapa?”

“Mie rebus telor dapet ngutang di Mak Lasmi soalnya bantuin buangin sampah jadi boleh ngutang lagi katanya”

Damar duduk didepan Codet sambil meniup asap panas mie rebus, diikuti teman-temannya yang membawa seplastik krupuk useg. Mereka makan mie rebus itu bersamaan. Damar sambil makan mulai sok akrab sama Codet.

“Abang tadi yang dikejar-kejar ya.. orangnya Damar kibulin.. Bang ajak-ajak Damar kerja buat makan kasihan ibu ngutang terus, ya Bu ya”

“Tanya sama Abang kerja apa, anak kecil boleh ikutan kerja apa egak ntar malah ngerecokin kerjaan abang,” sanggah ibunya sambil duduk kembali ke dekat Codet.

“Tahu gak Bang,” lanjut Damar meneruskan ngobrol samaCodet, “Ibu gak dapat sembako dari yang dari gubernur itu, gara-gara ibu gak punya KTP. KTP nya ilang gak tahu kemana.”

Terdengar suara kaki-kaki berlari kearah pintu bedeng. Codet secepat kilat masuk dalam sekatan jarik rombeng itu untuk bersembunyi. Pintu langsung ada yang membuka. Masuk Dina putrinya yang kedua. Dengan nafas tersengal-sengal dan panik dia terus nyerocos ngomong….

“Bu, Diana kejang-kejang di depan mushola, orang-orang bilang kena corona.. Cepetan Bu ayo kesana..”

Wanita bergegas keluar bersama Dina anaknya. Codet pun keluar dari sembunyiannya.

“Kamu tunggu di rumah ya”

“Iya Bang” jawab Damar sambil terus makan mie rebus

Codet keluar dari bedeng mengikuti Wanita itu bersama anaknya berjalan menuju mushola. 

 

***

 

Di depan mushola sudah berkerumun melingkar tapi berjauhan satu sama lain hanya memandangi Diana yang terkejang-kejang dan nafas tersendat. Riuh rendah suara-suara mereka. Ada yang bilang jangan deket-deket ntar ketularan corona. Kasihan tuh anak. Ketular dimana ya. Siapa tadi yang deketan sama dia. Udah ada yang telfon ambulance belum. Pak RT setempat dan perangkatnya mengamankan area itu. Remaja pengajian disuruh pada bubar. 

“Pada pulang semua, ayo pada pulang, jangan pada nonton”

“Sudah telfon Rumah Sakit Pak RT?”

“Ambulance sudah dikirim, bantu bukain jalanan saja supaya ambulance mudah masuk”

Perangkat RT berusaha membubarkan orang-orang. Tapi orang malah pada megang hape merekam kejadian itu bikin konten masing-masing. Tak lama terdengar suara raung ambulance. Keluar dari ambulance petugas yang berseragam seperti astrounot standar pelayanan penanganan penderita corona. Mereka membawa tandu. Proses pengangkutkan dilakukan dengan seksama. Diana diletakkan diatas tandu dan dibawa masuk kedalam ambulance. Sementara area tempat mushola ada yang menyemprot disinfektan. Proses ritual penanganan itu berjalan dengan ringkas dan cepat. Ambulance menyeruak kumpulan warga yang masih keranjingan membikin konten pakai handphone nya masing-masing hingga ambulance keluar ke jalan raya. Bertepatan dengan itu, Ibunya Diana, Dina dan Codet sampai di area mushola dari arah belakang sehingga ketinggalan moment itu. 

“Dibawa kemana anak saya Pak RT?”

“Sudah dibawa ambulance ke Rumah Sakit, kita doakan saja semoga tidak terkena corona”

“Anakku…” 

“Ibu di rumah saja berdoa. Ibu tidak boleh menemaninya sama pihak Rumah Sakit”

“Anakku…”

“Khawatir nanti ibu terkena virus corona”

“Dina, bawa ibumu pulang Nak”

Wanita itu meneteskan air mata. Codet meliriknya. Merasakan pilunya seorang ibu yang anaknya terkena corona dan tidak bisa bertemu. Wanita itu terus berjalan dan berjalan tanpa henti menuju jalan raya diikuti Dina, anaknya

“Anakku…. Anakku….”

“Ibu… Ibu… Ibu mau kemana?”

Belum sampai jalan raya wanita itu semakin rapuh. Kakinya gemetaran. Dan tiba-tiba terjatuh. Dina dan Codet mengangkatnya untuk berdiri lagi. 

“Dina, kamu pulang, jaga adikmu di rumah”

“Ibu mau kemana?”

“Biar ibu ditemani Abang ini ke Rumah Sakit”

Codet membangkitkan Wanita itu. Memapahnya hingga jalan raya. Dina masih terpaku memperhatikan ibunya. Ibunya menoleh melambaikan tangannya mengkode supaya Dina pulang. Taksi yang lewat dicegat Codet untuk berhenti. Codet memapah Wanita itu sampai ke masuk ke dalam taksi. Begitu taksi itu jalan kembali, Dina baru balik badan untuk pulang. 

***

Taksi sampai di depan Rumah Sakit. Wanita itu buru-buru keluar dari taksi tanpa menunggu Codet. 

“Aduh saya belum ambil ATM, Bapak tunggu disini sebentar ya, saya ambil uang dulu di ATM”

Codet keluar dari taksi mengejar wanita itu. Taksi kelihatan cari parkir yang mudah dicari. Wanita itu sudah terlebih dulu di depan resepsionist Rumah Sakit. 

“Anak saya dimana..dimana anak saya Suster”

“Siapa namanya Bu?”

“Diana Sari.. katanya kena corona dibawa kesini”

“Codet yang sampai disampingnya menimpali “Baru dibawa ambulance dari Rumah Sakit ini” 

“Silakan tunggu ya Bu, satu atau dua jam lagi saya kabari”

Codet membawa Wanita itu jalan menuju tempat duduk di ruang tunggu. Beberpa remaja berbondongan masuk Rumah Sakit langsung menanyakan dimana ruang UGD. Seorang suster menunjukkan arah jalan ke UGD. Remaja-remaja itu menghambur ke UGD. Salah satu remaja terhenti. Perlahan mengamati wanita yang duduk bersama Codet. Dia mengeluarkan handphone nya dan mencari tiang tembok untuk sembunyi. Camera handphone nya diarahkan ke tempat Codet dan wanita itu. Mereka berdua difoto tanpa sepengetahuan Codet maupun wanita itu yang sedang bersedih hatinya. Pacar remaja itu menghampirinya.

“Motret apaan lu?”

“Lihat, wanita ini yang menjual motor sama Boni, terus motornya yang dijual wanita ini dibawa kabur sama Boni, malamnya Boni lehernya ditusuk belati. Pasti laki-laki biadab ini yang membunuh Boni.”

“Terus ngapain mereka ke Rumah Sakit? Mau jenguk Boni?”

“Egak. Dia mau cari mati. Ayo kasih tahu temen-temen Genk kita”

Kedua remaja itu melanjutkan tujuannya berjalan menuju ruang UGD, meninggalkan Codet dan Wanita itu yang sedang menunggu kabar tentang apa yang diderita oleh anaknya Diana.

“Kenapa orang susah seperti saya ini terus menerus dilanda kesulitan. Kenapa Diana anak saya juga terkena corona. Apasalah kami ya Allah”

“Gak ada yang salah. Gak usah kuatir sama Diana. Dia pasti bisa sembuh. Kita cari jalan sama-sama.”

“O ya sampai lupa nanya nama kamu siapa?”

“Panggil saja Codet”

“Gak mau manggil itu, nama dari orang tua kamu siapa?”

“Saya dari lahir sudah tidak punya orang tua”

“Masa gak ada yang ngasih nama”

“Seingatku namanya saya Saeful”

“Saeful siapa?”

“Kalau gak salah Saeful Jihat”

“Kok kalau gak salah, emang sama kayak aku ya”

“Sama kenapa?”

“Sama-sama tidak punya KTP”

Codet tersenyum. “Iya KTP saya buang waktu …”

“Waktu apa?”

“Waktu masuk tahanan”

“Kamu napi yang dibebaskan itu?”

Codet menggangguk

“Udah kapok belum?”

“Semua orang intinya pingin hidup baik tapi sering keplesetnya dan gak mati-mati, kata temenku nunggu kita perbaikan dulu”

“Jadi kalau udah bener baru mati, kalau pingin hidup terus ndablek aja terus gitu”

“Saya gak tau pasti, itu kata temen saya”

“Hmmm mungkin bener juga sih, bumi ini bengkel untuk manusia, yang rusak-rusak dibenerin biar jalan lagi, kayak kamu”

Codet tersenyum sekali lagi. Wanita itu pinter membuat Codet tersenyum sehingga membuat Codet betah bersamanya.

“Kamu belum ngasih tahu nama kamu”

“Panggil saja Nur kalau manggil Jannah kan susah”

“Nur Jannah?”

“Ngomong-ngomong sudah berapa hari kamu dibebaskan?”

“Mmmm” tampak wajah Codet menghitung hari. “10 harian mungkin, sebelum puasa”

“Kenapa bisa sampai ketemu saya? Mau cerita ke aku gak?”

“Kep-poh”

“Banget”

“Kamu gak takut cerita dunia hitam, serem, sadis tapi memang harus begitu.”

“Gak usah panjang-panjang, dari kamu dibebasi corona aja”

“Boleh.. Semua napi pasti berakal bulus.. kalau gak susah bebasnya lagi.. aku rajin ikut jamaah sholat di penjara sekalipun semua bacaan sholat gak ada satupun yang hapal. Jadi cuma ikutan-ikutan aja. Kalau semua nunduk apa tuh namanya”

“Rukuk?”

“Iya gitu, kalau semua rukuk ya ikutan rukuk kalau sujud yan ikutan sujud. Nengok kanan kiri. Salaman. Udah lama-lama nilainya bagus kan. Tapi lucunya waktu tadi di Masjid aku mau sholat aku baru sadar kalau aku gak hapal satu ayatpun.”

“Kamu ke Masjid mau tobat?”

“Enggak”

“Lalu?”

“Aku merasa konyol dah menjual alat sholat untuk makan”

“Gimana ceritanya bisa gitu?”

“Dari aku dibebaskan temenku ngasih sarung sama peci. Tapi nyari-nyari kerja ga ada nyari duit ga dapet ya aku jual. Tapi jadi merasa bersalah, ke Masjid pingin doain yang kasih sarung samapeci. Aku gedor-gedor pintu Masjid mau masuk mau buka-buka Al Qur an semua Masjid digembok juga pintu-pintunya terkunci.”

“Kan lagi Corona Bang jadi dikunci jangan baper deh apa kuper nih”

“Waktu keluar ada pegawai tahanan yang temen panti asuhan dulu, dia jadi pegawai tahanan dan baik banget. Dia yang menyodorkan supaya saya ikut asimilasi pembebasan napi. Waktu keluar juga ngasih saya kopiah baru masih kardusan. Sarung baru masih kardusan. Ngasih duit. Dia ngomong gini. Aku ngarepin bisa sholat sama kamu lagi suatu saat. Dia sangat yakin dia sangat ngarepin berubah. Tapi 10 hari cari kerja tambah susah kan, uang yang dikasih habis. Sarung peci baru ya akhirnya saya jual untuk ulur hidup. Dia sebenarnya juga bilang, apapun berapapun kapanpun aku butuh sesuatu disuruh datang ke rumahnya. Kalau gak bisa makan suruh datang ke rumahnya atau ke kantornya. Dia janji akan mengusaha memberi apapun yang saya butuhkan. Tapi aku gak mau nyusahin orang. Apa yang dikasih sudah lebih dari cukup”

“Baik banget temen kamu”

“Salahudin memang baik banget, saya juga paling bisa bales doain dia masuk sorga biarpun saya masuk neraka”

“Hush ngaco ah ngomongnya, ngomong itu yang baik-baik, kata pak Ustadznya Diana, omongan itu doa, ngomong yang baik supaya doain diri kita juga”

“Iya Nyai”

“Ih manggilnya Nyai, Nur nama gue”

“Tapi kan gak punya KTP”

“Sama kayak kamu”

“Emang kamu tinggal dimana..?”

“Dibawah kaki langit, diatas bumi manusia”

Nur memandanginya dengan mendalam. Dibalik tampangnya yang keras itu ada aura kebaikan.

“Terus setelah ini mau tinggal dimana?”

“Dimana saja yang bisa aku tinggali”

Sekali lagi Nur memandanginya penuh rasa yang berbeda.

“Tinggal sama Damar mau?”

“Bukan tidak mau, kamu tahu duniaku selalu ada musuh yang aku tidak tahu dia dendam atau iri atau merasa tersaingi bisa sewaktu-waktu membahayakan diriku sendiri apalagi kalau aku tinggal sama orang lain…. Itu…itu kenapa aku belum berani nikah.”

“Kamu kalau pingin nikah dan tidak ada yang mengusikmu, ya nikah di hutan”

“Emang ada wanita yang mau diajak nikah di hutan?”

“Kalau kamu tarzannya aku pasti mau”   

Tanpa disadari supir taksi itu mencari-cari Codet di sekitar tempat itu. Codet langsung mengajak Nur berdiri dan langsung berjalan kearah belakang.

“Ke kantin yuk”

“Ngapain, emang punya duit”

“Cukup buat ngopi segelas berdua”

“Dasar Codet”

Codet sama Nur menyelonong berjalan menuju kantin. Supir taksi itu masih celingak celinguk mencari Codet.

***

Di tempat tunggu UGD para remaja meriung berkumpul mengamati foto Codet bersama Nur dri handphone masing-masing yang telah dishare oleh remaja yang memotretnya tadi.Rupanya remaja-remaja itu kumpulan Genk Motor temennya Boni si Helm Nazi yang tertusuk lehernya kena tangkisan Codet. Tapi mereka tahunya yang membunuh diduga Codet.

“Binyo, lu hubungi bang Samson, kenal sama begundal di foto itu apa egak. Temuin langsung aja sekalian minta back up kalau kita ada apa-apa”

Binyo mengangguk

“Simon lu awasi dia. Ikutin kemana saja dia pergi. Handphone lu jangan sampai lowbat. Yang bawa power bank pinjemin ke Simon dulu”

“Siap” jawab Simon singkat

“Yuyun tunggu di UGD kabari kami apapun hasil operasi Boni. Mati atau hidup kita harus balas dendam anggota kita. Ngerti semua”

Mereka saling menjawab ngerti dan segera menyebar sesuai tugas masing-masing. Simon remaja yang tadi motret Codet langsung menuju ruang tunggu mencari Codet dan Nur. 

***

Simon telah kembali di ruang tunggu dan tidak menemukan Codet disitu. Dia terus mencari dan menemukannya di sudut kantin yang di luar. Disitu, Codet sedang menghisap rokok dan ngopi bersama Nur. Simon mencari sudut yang mudah untuk mengamati mereka di kantin itu.

“Bang kalau Diana positif gimana kalau enggak gimana?”

“Setahuku kalau positif corona semua biaya ditanggung pemerintah, tapi kalau ternyata penyakit lain ya harus bayarsendiri”

“Uang dari mana Bang untuk bayar sendiri”

“Kamu tunggu disini”

“Aku gak mau kamu masuk penjara lagi. Kalau anakku sembuh atau tidak atau tidak bisa membayar Rumah Sakit, tapi yang penting kita usaha pakai jalan yang benar. Kalau gagal ya pasrah sama Allah mau digimanain lagi”

Codet menganggguk seraya bangkit dari kursinya mau pergi dari situ tapi tangannya ditahan dipegangi sama Nur

“Ingat itu ya”

“Pasti”

Nur memperhatikan kepergian Codet. Sekali lagi Codet menoleh ingin melihat sekali lagi Nur tersenyum tapi Nur sudah tidak ada di tempatnya. Sambil terus berjalan tatapan Codet kearah kantin itu hingga tak disadari berpapasan dengan Simon.

“Maaf Bang gak sengaja”

Codet hanya menatap Simon sekilas karena masih penasarankemana Nur pergi dari tempatnya. Sementara Simon belaga acuh melangkah kearah lain. Namun begitu Codet membelok kearah keluar, Simon berbalik mengikuti arah kepergian Codet.

***

Foto Codet dari gallery handphone Binyo disodorkan Bang Samson oleh anak buahnya.

“Suruh masuk anak itu” perintah Samson pada anak buahnya. Anak buahnya menerima handphone itu untuk dibawa keluar ruangan memanggil pemilik handphone itu. Binyo diiringi anak buah Samson melangkah memasuki ruangan. 

“Darimana dapet foto itu?”

Binyo masih berdiri disamping anak buahnya.

“Dari Rumah Sakit Bang temen yang motoin” jawab Binyo kalem

“Masih disana dia?” tanya Samson tetap membelakangi Binyo karena sedang dirapikan rambutnya sama seorang perempuan.

“Setengah jam yang lalu menuju Ramawangun, Bang, Si Simon lagi ngikutin dia”

“Jebot, simpan nomer handphone Simon, kalau sudah, dia boleh pulang”

Jebot anak buah Samson menyimpan nomer handphone Simon yang di share contact dari handphone Binyo.

“Saya pulang dulu Bang” ujar Binya seusai mengantongi handphonenya”

“Tunggu, lo tadi juga ke UGD?”

“Iya Bang”

“Gimana ponakan gue?”

“Barusan Yuyun dari RS ngabarin operasinya udahan tapi Boni masih koma”

Tangan Samson melambaikan kode Binyo boleh pulang. Binyo melangkah keluar ruangan.

“Jebot, tanya sama Simon dimana posisi Codet saat ini, suruh Onggo kesana”

“Baik Bang”

***

Codet berdiri disebrang komplek perumahan yang ramai beberapa orang memandang kearah komplek. Di gerbang komplek itu ramai orang-orang komplek melihat ambulance keluar dari komplek. Ibu-ibu di depan Codet berkomentar.

“Kasihan mertua Salahudin bisa kena Corona, padahal penutupan pengajain udah sebulan yang lalu”

“Bu Haji kan aktif juga kalau urusan sosial, bagi-bagi sembako, cari-cari donator. Pasti sering pergi-pergi banyak ketemu orang juga”

Mendengar itu Codet tertegun, sepertinya dia harus mengurungkan niatnya menemui Salahudin temannya itu. Perlahan Codet menyeruak kerumunan meninggalkan tempat itu. Dan berangsur-angsur dia menyadari tidak mungkin akanterus menerus merepotkan temannya panti yang sudah baik sekali padanya. Melihat mertuanya dibawa ambulance diduga corona, juga apa yang bisa dia perbuatan untuk balas budi. Hanya doa yang dia bisa. Entah diterima atau tidak.

Dalam perjalanannya pulang ke Rumah Sakit untuk menemui Nur kembali hanya dengan harapan doa agar Diana putrinya Nur tidak kenapa-kenapa. Tapi kalau bukan terkena Corona justru akan membutuhkan biaya Rumah Sakit yang tidak kecil. Sementara melihat anak-anaknya juga pada belum makan dan tidak punya persediaan makan di rumahnya. Codet teringat istri supir pick up yang menolongnya yang risau soal tolong menolong di masa corona ini. Nolong diri sendiri saja belum bisa mau nolong orang lain. 

Codet juga heran pada dirinya sendiri kenapa dia jadi ikutangalau memikirkan putrinya Nur atau dia sedang terpikat pada Nur. Sudah terlalu lama hatinya kosong dan merasa selalu gagal dengan perempuan. Bukan tidak bisa memikat wanita. Tapi hidupnya di dunia hitam tak membikin hidupnya nyaman didampingi wanita. Yang dikhawatirkan justru lingkungan hidupnya tidak menjamin keselamatan wanita yang menjadi pendampingnya. Sasaran dendam dan picingan mata tetangga hanya menyudutkan perasaan pendampingnya. Dan itu trauma besar dalam hidup Codet. 

Jadi apa yang telah membuatnya risau? Dalam hidup Codet hanya mengenal beraksi atau kelaparan, melawan atau jadi korban, menolong atau ditolong. Balas budi dalam prinsip hidup Codet jangan sampai ditunda. Alamiahnya seperti lingkaran kehidupannya yang disadari atau tidak selalu dalam bahaya atau ancaman tidak terduga jadi bila punya kesempatan balas budi jangan sampai tertunda. Berhutang budi bagi Codet haram. Apalagi Nur waktu menolong dari ancaman kejaran puluhan warga, dia tidak ada rasa takut sama sekali. Dari tatapan matanya yang terbayang di benaknya, Nur penuh kepasrahan saat menolongnya. Memang dalam kamus preman picisan apapun yang menguntungkan diri sendiri saja yang diutamakan. Tapi lain bagi Codet. Urusan Codet selalu tuntas lunas. Tapi mau dapat uang dari mana kalau bukan dengan beraksi. Asalkan Nur tidak tahu dapat dari mana. Hanya saja pesan Nur yang begitu sederhana masih terngiang di benaknya. Jangan sampai ketangkep polisi atau masuk penjara lagi. Kalau pun beraksi, apaNur mau menerima pertolongannya yang akan dianggap haram sama Nur. 

“Lebih baik aku jujur apa adanya daripada Nur jadi kecewa.” bisik hati Codet masih dalam kegalauannya.”Yang penting menolong sebisanya saja” itulah tekad bulat yang dipilih Codet. Sebelum melanjutkan perjalanan, Codet mampir ke Mini Market yang buka 24 jam di dekat komplek perumahan. Dia mampir ingin numpang buang air kecil. 

“Toiletnya sebelah mana ya Mas”

“Itu Pak pojok belakang”

“Makasih Mas”

Codet menuju toilet. Tak disadarinya Onggo dan Jebot memantaunya dari sebrang. Jebot menuliskan chating ke Samson. Karyawati yang baru datang mau oplosan kerja langsung aja masuk toilet dan terkejut di dalam toilet Codet sedang mengelap pistol rakitannya yang baru jatuh. 

“Rampok!!! Rampok!!!” karyawati itu teriak sejadi-jadinya karena takut dan panik

“Diem lu!”

Dibentak Codet tambah keder karyawati gendut itu. Dia lari keluar melewati koridor bahan makanan sambil terus teriak-teriak rampok. Rekan kerja yang dilewatinya melongo kebingungan kenapa dia teriak rampok dari toilet, dan langsungbergegas menuju keluar dari Mini Market. Bersamaan dengan itu, mendengar teriakan itu, Onggo dan Jebot yang sedang menyebrang jadi langsung lari membobos masuk Mini Market itu. Codet keluar dari toilet dengan rilex karena tidak punya niat merampok. Dia berjalan melenggang menuju rekan kerja si cubby. Bahkan Codet melempar senyum pada rekan kerja si cubby. Tiba-tiba wajah Codet menyeringai menahan benda tajam yang menusuk pinggangnya. Tapi dengan reflek, dia memelintir tangan yang menancapkan belati itu. Saat Onggo berontak hendak meloloskan belati yang digenggam dari pelintiran Codet, Jebot menghambur dengan terburu-buru mengayukan kampak. Codet mengindarinya. Kampak mengenai lengan Onggo. Kaki Codet secepat kilat menendang Jebot hingga tersungkur merubuhi koridor mie instan dan snack. Dengan memegang lengannya, Onggo bangkit menyerang tusukan lagi ke Codet tapi langsung digamit tangan Onggo yang memegang belati itu dan dipatahkannya. Jebot bangun lagi mengambil kampaknya. Mengayunkan sekali lagi kearah Codet. Ditangkis Codet dengan kaleng biscuit hingga bongkah kaleng dan isinya berhamburan. Kampak ditarik kembali dan diayunkan sekali lagi. Dielakan Codet mengenai tempat menyimpan ice cream. Si Cubby tampak menjerit-jerit diantara beberapa motor genk motor berparkiran di sekitarnya sambil mengeluarkan senjata masing-masing. Dan mereka langsung berhamburan masuk kedalam Mini Market itu. Codet yang kewalahan dikeroyok Jebot dan Onggo semakin jadi rumyan dikeroyok genk motor teman-teman Boni. Semua senjata tajam bergantian menusuk-nusuk ke tubuh Codet sekalipun dia terus berusaha menghindar dan menjauhi orang-orang beringas itu. Rekan kerja si Cubby yang sembunyi dibawah tempat kasih tampat mendial nomer telfon polisi. Seseorng yang menahan pintu Mini Market melihat rekan kerja si Cubby itu menghampirinya. Menodongkan pisau dan mengambil handphone si Rekan Cubby itu. Tanpa disadar seorang anggota genk terlempar mengenai punggungnya. Codet mulai berdarah-darah disana-sini. Codet mulai mematahkan tangan para anggota genk satu per satu supaya berhenti menyerangnya. Terutama memelintir dan mematahkan tangan Onggo yang berulang kali mengayunkannya ke arahnya. Hingga kampak berhasil direbutnya dan dilemparkan hingga memecahkan kaca luar Mini Market. Bertepatan dengan itu tampak mobil combi berhenti di depan Mini Market dan turun Samson dari mobil itu. Samson bergegas masuk Mini Market itu. Codet dalam keadaan tergamit diantara anggota genk dan Jebot serta Onggo. Samson yang baru masuk Mini Market itu langsung menghujamkan belati Boni berulang-ulang ke tubuh Codet. Dari kejauhan terdengar suara mobil polisi dan motor patroli polisi. Samson mengkode anggota genkdan anak buahnya untuk segera keluar dari tempat itu. Codet sempoyongan terjatuh menabrak koridor. Darah berceceran. Samson masih memastikan Codet mati. 

“Bos, cepetan kabur” teriak Jebot

Samson menghampirinya sekali lagi menusukkan belatinya untuk terakhir kalinya. Jabot dan anak buah Samson lainnya menarik paksa Samson untuk secepatnya meninggalkan tempat itu. Codet pun akhirnya roboh tak bergerak lagi. Samson lari memasuki mobil combinya bersama anak buahnya. Genk motor sudah pada kabur duluan. Mobil Combi pun segera tancap gas hengkang dari situ. 

***

Di depan Rumah Sakit terdengar iringan anak yang meneriaksahur-sahur sambil berlarian takut dikejar petugas keamanan yang keliling. Iringan itu mengantar motor-motor memasuki area parkiran Rumah Sakit. Dimana di salah satu sudut tampak Nur mencari-cari sisa-sisa makanan di tempat sampah yang masih mungkin dimakan. Sementara motor Simon yang berboncengan dengan Binyo memperhatikan apa yang dilakukkan Nur. Anak-anak geng motor pada menuju toilet dekat parkiran. Seseorang membuka kantong plastik di pintu toilet. Satu persatu membuang kaosnya bercak-bercak darah itu ke kantong plastik. Seseorang anggota genk yang sudah rapi, membuang kantong plastik itu ke tong sampah. Mereka yang sudah pada berganti baju masuk kearah ruang tunggu. Nur hendak meneliti tempat sampah di depan toilet itu. Dia menemukan kantong plastik berisi kaos dan baju terdapat bercak-bercak darah. Saat diangkat kantong sampah itu terjatuh korek api milik Codet. Korek kuno yang khas itu berlumur darah. Nur langsung berjalan meninggalkan toilet itu kearah pintu keluar Rumah Sakit.

***

Mobil polisi dan motor patroli polisi sudah terparkir di depan Mini Market itu. Ambulance pun baru sampai sedang diparkir. Mini Market itu porak poranda. Disana sini berceceran darah. Seorang polisi sedang mengintrograsi Karyawati Cubby dan Rekannya. Tapi tidak ditemukan sosok Codet disitu. Ceceran darah keluar dari Mini Market sudah ditelusuri dua orang polisi. Salah satu polisi yang berdiri didekat mobil polisi, handphonenya berdering. Dia mengangkat handphonenya.

“Gimana? Ketemu ?”

“Ceceran darah berakhir di pagar jembatan. Menurut saksi orang yang berlumuran darah itu mencebur ke sungai Dan”

“Telusuri sampai ketemu”

“Siap Dan”

Komandan polisi itu mematikan handphone dan mengantonginya kembali. Dia sejurus berfikir. Tak jauh dari situ Onggo dan Jebot yang baru sampai tempat itu lagi mengamati bersama kerumunan orang-orang. Mereka sudah memakai jaket bertudung hood.

“Kuat juga tuh preman. Dikeroyok, dibacokin, ditusuk-tusuk masih kuat jalan nyebur ke kali”

“Nyebur di kali mana Bang?” tanya Jebot belaga ingin tahu

“Sono.. yang arah Manggarai”

“Emang Abang lihat sendiri?”

“Ya pas gue disitu mau beli rokok”

Onggo dan Jebot pelan-pelan menepi dan menyingkir dari situ. Disudut yang tidak begitu ramai orang dan lumayan jauh dari kejadian, Jebot langsung kirim WA ke Samson seperti berita yang dia terima. Tak berapa lama, WA Jebot juga getar, dibukanya ada WA dari Samson tertulis ‘Cari sampai ketemu, jangan sampai keduluan polisi dan jangan lupa kabari anak-anak genk motor suruh ikutan nyari’. Jebot memperlihatkan WA dari Samson ke Onggo. Mereka pun berangkat menuju sungai yang dimaksud sambil menulis WA untuk dikirim ke handphone anak-anak gengk motor.

Dalam beberapa menit, Jebot telah menyisir jalanan kampong kumuh pinggir sungai yang sebelah kiri dan Onggo menyisir jalanan pinggir sungai yang sebelah kanan. Jebot melihat baju bekas darah yang tersangkut tonggak potongan pohon yang retak. Jebot menghampirinya. Dan mendapati ceceran darah dan kucuran air pertanda seseorang baru mentas dari sungai. Dan kemungkinan besar itu Codet. Onggo mengikuti kearah gang sempit antar seng-seng. Secara mengejutkan sebuah tangan mengayukan sebilah ujung bambu yang runcing menohok ke lehernya. Onggo masih berdiri memegangi bambu itu. Sosok gelap yang memegang bambu itu perlahan menampakan diri. Dialah Codet dengan masih bersimbah darah disekujur wajah dan tubuhnya. Kaki Codet menendang tubuh Onggo supaya lepas dari bambu yang dipegangnya. Lalu tubuh Onggo diseretnya pinggir sungai dan ditenggelamkan kedalam sungai. Mendengar suara sesuatu diceburkan, Jebot menyongsong suara itu. Sesampainya ditempat itu, Codet dari tempat sembunyinya yang gelap itu keluar dan menusukkan bambu itu ke perut Jebot serta langsung mendorongnya hingga Jebot tercebur di sungai.

Codet dengan terseok-seok dan berpegangan papan maupun triplex yang ada di pinggir sungai itu untuk membawa dirinya ke rumah Nur. Tanpa disangka ditikungan dekat jembatan sungai berpapasan dengan Binyo. Dia langsung mengeluarkan pisau lipat dan menyerang Codet. Perut Codet dibiarkan tertusuk, dengan begitu dia bisa mematangkan tangan Binyo. Dan dengan secepat kilat mencabut pisau itu untuk disobekkan ke leher Binyo. Sekali mendorongkan badan Codet ke tubuh Binyo supaya terpental dan tercebur di sungai. Kejadian itu disaksikan Simon dari arah seberang jembatan bambu itu. Simon berlari kearah seberang. Codet telah siaga dengan pisau lipat yang masih digenggam nya. Simon mengeluarkan belatinya. Begitu sampai seberang jembatan, Simon tak melihat sosok Codet. Dengan cepat pisau lipat itu ditusukkan ke telapak kaki Simonberkali-kali sambil dipegangi kaki Simon oleh Codet. Rupanya Codet sembunyi dibawah. Simon kesakitan dan terpelanting terjatuh ke tanah tepat disebelah Codet. Codet langsung menancapkan pisau itu ke leher Simon. Dengan susah payah Codet berusaha berdiri untuk menyeret Simon diceburkan sungai. Bertepatan dengan suara imsak yang diumumkan di mushola terdekat, Codet yang baru selesai mencebutkan Simon, seperti kehabisan tenaga dan jatuh. Saat itu Nur berbelok kesitu.

“Bang, Ya Allah Bang” sahut Nur yang sedang berjalan kearah jalan rumahnya. Codet yang terjerembab dipinggir jalanan itu bergegas dibangunkan Nur. Dipapahnya dia berjalan kearah rumahnya. Namun rupanya diseberang sungai Samson telah memperhatikan sedari tadi. Samson mengikuti arah kepergian mereka. 

Sambil dipapah Codet membisikan sesuatu kearah Nur

“Saatnya untuk jadi Tarzan”

“Maksud kamu?”

“Mau menemaniku tinggal di hutan?”

Nur hanya tersenyum, “Iya mau”

“Diana gimana?”

“Diana positif corona, gak usah khawatir dia sudah diurus pemerintah”

“Sekarang juga kita harus berangkat”

“Iya.. Harus sekarang kita berangkat.. bagaimanapun caranya”

Selang beberapa menit mereka sampai di bedeng. Nur membawa masuk Codet. Direbahkannya Codet di kamarnya yang tersekat jarik rombeng itu. 

“Kamu rebahan dulu, aku siap-siap dulu sama bangunin anak-anak”

Codet rebahan. Mulai terdengar suara Nur membangunkan anak-anaknya. Dari bawah kain jarik rombeng yang menggantung itu Codet melihat pintu dibuka seseorang dengan perlahan. Codet perlahan mengeluarkan bungkusan plastik hitam berisi pistol rakitan itu. Lalu dia berdiri dengan susah payah dan mengarahkan pistol rakitannya itu. Diluar terdengar suara Nur dibekap mulutnya dan terdengar suara bisikan ‘Dimana dia?’.Begitu jarik rombeng itu dibuka, pistol rakitan itu ditembakkan ke mata Samson hingga tembus di kepala belakangnya saking dekatnya. Nur ditariknya kedalam pelukannya. Samson masih mau menyerang spontan pistol rakitannya itu disorongkan ke mulut Samson didorongnya sekuat tenaga hingga pintu bedeng itu rubuh bersama tubuh Samson dan Codet. Yang membuat bedeng itu pun doyong. Nur menghambur membangunkan Codet dari reruntuhan. Codet didudukkan di kaso besar dekat pintu. Nur membangunkan dengan paksa anak-anaknya sebelum warga sekitar berdatangan. 

“Bangun Nak, bangun… kita harus pergi dari sini… tempat ini mau digusur… cepetan bangun…”

Dina dan Damar bergegas bangun. Mereka kemas-kemas dan memapar Codet pergi dari tempat itu. Terdengar adzan subuh.

Begitu mereka sudah keluar dari perkampungan kumuh pinggir sungai itu, terjadi kebakaran di pinggir kali. Nur, Diana, Damar dan Codet yang telah berjalan di dekat pembuangan sampah terhenti melihat kearah kebakaran itu. 

“O iya, lilin Damar sama bensin yang mau dijual gak kebawa”

“Kebiasaan tuh Damar nyalain lilin gak dimatiin” sahut Dina

Kebakaran makin besar, orang-orang berkerumunan ke pinggir kali pada menonton dan memvideoin dengan handphone nya masing-masing. Nur dengan memapah Codet diikuti anak-anaknya terus berjalan meninggalkan tempat itu.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi