Terkadang sebuah karma memang datang terlambat. Namun yang terjadi di keluarga Zainal memang begitu, kelakuan buruk yang telah mendarah daging seolah menjadi kebiasaan turun temurun dari zaman Zainal masih hidup.
Pagi itu matahari baru saja muncul, sisa hujan semalam baru saja reda, angin dingin berhembus membawa rintik-rintik kecil yang masih turun, di awal tahun baru yang sedikit mendung dan berawan.
Sudah menjadi tradisi umum di desa ini bahwa setiap tahun baru orang-orang akan meliburkan diri, walaupun sebagian besar hanya buruh tani dan tidak mengenal tanggal merah, kebanyakan orang memilih 'libur sendiri' kalau datang tahun baru.
Di depan pintu rumah mendiang Zainal banyak orang berkerumun seolah menyaksikan keseruan atas kemalangan tiga beradik yatim piatu yang sedari dulu sudah menjadi sampah masyarakat yang cukup memalukan di desa.
Tapi, memang ada segelintir manusia bersifat sok suci yang terkadang suka sok benar dan justru membela orang yang salah.
Contohnya Bu Anik, dia sudah sedari tadi sibuk mengobati wanita muda yang meringkuk di depan pintu, perutnya membesar dan wajah serta tubuhnya di penuhi memar. Tapi siapa yang berani kasihan padanya.
Lengannya separuh terkelupas karena luka bakar setelah di aniaya suaminya.
Dia adalah Marwah putri satu-satunya di keluarga Zainal. Semasa mudanya dia selalu di manjakan oleh keluarganya sehingga tumbuh menjadi wanita pembangkang yang suka main serong dengan suami orang.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Marwah ini sudah tidak suci lagi, bahkan kerap kali terdengar gosip dia suka menjual diri di luar.
Pagi ini, warga di kagetkan dengan sosok yang meringkuk di depan pintu rumah keluarga Zainal. Mereka mengira tubuh itu sebagai "mayat" yang tiba-tiba muncul di sana, akibat hujan deras setelah tengah malam tadi sehingga tubuh si "mayat" ini basah kuyup.
Satu-satunya orang yang tinggal di rumah Zainal ini adalah Riski yang ternyata semalam tidak pulang. Jadi si "mayat" terpaksa tidur di luar.
Kejadian ini bukan tanpa sebab, karena 3 tahun lalu ada seorang wanita gila yang mati mendadak di depan rumah mereka namun keluarga ini acuh tak acuh bahkan tidak Sudi keluar untuk melihat, jika bukan karena warga desa berkumpul mungkin mayat itu membusuk disana.
Jadi ketika melihat wanita itu tergeletak di depan pintu tidak ada yang berani mendekat.
Sudah hampir dua jam sejak kerumunan warga berkumpul di jalan depan rumah keluarga Zainal, barulah terlihat sebuah motor berwarna putih mendekat dari ujung jalan.
Pengemudinya adalah pria berusia sekitar 37 tahun yang baru saja memarkirkan motornya di pinggir jalan di depan rumah.
Pria itu turun dari motor dan terjungkal karena tidak bisa menyeimbangkan diri. Tampak wajahnya yang limbung dan bagian bawah matanya hitam cekung.
Ketika orang itu berjalan di lewat, orang yang berdiri paling dekat bisa mencium bau alkohol yang menyengat darinya. Orang-orang mulai berbisik-bisik lagi.
Riski yang berjalan sempoyongan berhenti di depan wanita muda yang masih meringkuk dan menjadi tontonan warga.
Meletakkan tangannya di pinggang dan bertanya. " Kenapa kamu pulang?"
Wanita itu masih menyembunyikan wajahnya di antara lututnya yang di tekuk, menjawab dengan samar. "Aku di usir sama Riyo. Tua Bangka itu yang bikin aku di usir."
Warga mendengar itu sedikit iba tapi juga lebih merasa bahwa itu karma, Riski kakak kedua Marwah dua tahun lalu menikah dengan gadis baik-baik tapi malah di sia-siakan, pada akhirnya mereka bercerai.
Itu semua karena Marwah yang terlalu ikut campur dan memanas-manasi hubungan Riski dengan Asnah mantan istrinya.
Kakak tertuanya juga bercerai karena melakukan KDRT dan hampir membunuh istrinya, akhirnya dia juga bercerai dan di benci semua orang.
Adik laki-lakinya juga kabur bersama istri dan anaknya yang masih balita karena terlilit hutang di mana-mana. Sekarang bahkan keberadaannya tidak ada yang tahu.
Semua itu adalah pembalasan atas perbuatan mereka sendiri.
Salah seorang warga bernama Nanik berbisik pada putrinya yang menonton paling depan. "Kasihan banget ya dek, mana lagi hamil besar malah di usir tengah malam, mana hujannya kan tadi malem deras banget."
" Hmm iya ya buk, kemanalah suaminya masa gak nyariin?" Jawab Tari polos.
Seorang pria desa bernama Aryo maju dengan petantang petenteng berkata dengan nada puas yang terang-terangan. " Sukur, itu karma namanya. Kakaknya saja nikahin anak orang kasih nafkah pas-pasan tapi mabuk-mabukan di luar. Hutang ibunya ke saya saja sudah berapa tahun gak ada niatan bayar. Itu karma namanya. Karma mah sampe ke neraka juga pasti datang."
Buk Anik yang masih terus mengelus punggung Marwah merasa jengkel dengan orang berlidah tajam ini. Melempar handuk bekas mengompres luka ke arahnya.
" Aryo. Kamu ini kalau bicara di jaga sedikit"
" Memangnya kenapa? Toh benar, si Riski ini pria brengsek, gak tahu diri udah tua gak laku, sekalinya punya istri malah di sia-siakan. Toh keluarga ini juga gak ada yang beradab. Kenapa aku gak boleh ngomong terus terang. Kamu juga orang luar, apa mau nikahkan si Poppy sama si Riski ya makannya di bela mati-matian??" Balas Aryo sewot.
Riski yang awalnya diam saja merasa telinganya memanas dan wajahnya berubah menjadi merah padam karena menahan malu.
"Heh Aryo apa sih masalahnya sama kamu. Adik ku emang pernah ngerugikan apa sama keluarga mu?"
" Oh merugikan sekali. Desa ini jadi jelek gara-gara pelacur kaya Marwah. Sudah bagus menikah dan pergi jauh. Kenapa harus kembali lagi. Mana suaminya masa iya seenaknya buang sampah disini." Balas Aryo membuat keadaan semakin memanas.
Perkataan Aryo sukses membuat orang-orang yang tidak suka pada keluarga itu kembali berbisik sinis dan menambah kebencian terhadap keluarga Zainal.
Riski berbalik menatap adiknya yang masih meringkuk seperti orang bodoh. Bertanya dengan tidak sabar. " Kemana si Riyo itu? Memangnya dia tidak punya otak biarkan kamu di pukuli dan pulang ke sini?"
Marwah mendongak dan berteriak pada Riski. " Memangnya kamu tahu apa??"
Riski benar-benar meledak karena marah. Dan menendang adiknya sambil berteriak yang lebih keras dari adiknya. " Diam!! Memangnya kamu tidak cukup membuat keluarga ini malu. Kalau punya otak masuk ke rumah, jangan jadi badut tontonan orang disini!!"
Riski dengan tidak sabar menyeret adiknya masuk ke dalam rumah. Lalu membanting pintu hingga tertutup dengan bunyi gedebuk yang keras.
Yang tersisa hanyalah suara tangisan Marwah dan keributan saling menyalahkan yang terdengar dari balik pintu.
Semua orang yang menonton saling berbisik sambil mengumpat. " Rasakan!!"
Lalu satu persatu mulai bubar.