Dua hari yang lalu, kebakaran besar melanda sebuah rumah megah di Bali. Rumah yang selama ini hanya dihuni oleh seorang ibu dan putrinya itu habis dilalap api tanpa menyisakan banyak hal selain puing-puing yang menghitam. Dalam semalam, segala yang pernah menjadi tempat pulang berubah menjadi hamparan abu yang ditiup angin.
Di hadapan kobaran api yang masih menyala, sang ibu hanya mampu berdiri dengan lutut yang nyaris kehilangan tenaga. Wajahnya dipenuhi jelaga, matanya sembap, dan tubuhnya gemetar hebat. Ratapan demi ratapan memecah udara malam, bercampur dengan suara sirene, teriakan para petugas, dan bunyi kayu yang roboh satu per satu.
Namun, tak ada satu pun suara yang ia nantikan.
Tak ada seorang gadis yang berlari keluar sambil memanggilnya.
Tak ada senyum yang biasanya menyambutnya sepulang bekerja.
Tak ada Denaya.
"Denaya..." bisiknya lirih.
Suara itu tenggelam ditelan kobaran api.
Air matanya mengalir tanpa henti. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyadari bahwa penyesalan benar-benar datang ketika semuanya telah berakhir. Ia rela menukar apa pun agar dapat memutar waktu, agar dapat mengulang satu hari saja, satu jam saja, bahkan satu menit saja untuk memeluk putrinya.
Tetapi waktu tidak pernah berjalan mundur.
Ia sadar, hubungan mereka memang tidak pernah benar-benar baik. Rumah yang seharusnya dipenuhi tawa sering kali dipenuhi suara pintu dibanting, tangisan yang ditahan, dan kalimat-kalimat yang menyisakan luka.
Ia sering mengira Denaya hanya gadis yang keras kepala.
Ia mengira semua akan membaik seiring waktu.
Ia mengira putrinya hanya sedang berada di fase sulit.
Betapa bodohnya dirinya.
"Hari ini ibu berjanji akan memasakkan makanan kesukaanmu..." bisiknya lagi.
Tak ada jawaban.
Hanya bara api yang terus beterbangan, seolah membawa setiap kenangan mereka pergi satu per satu.
Gaun biru yang dikenakannya kini dipenuhi abu dan jelaga. Di balik kobaran itu, rumah yang dahulu dipenuhi ornamen bunga lili—bunga kesayangan Denaya—telah berubah menjadi puing-puing yang tak lagi memiliki bentuk. Pot-pot bunga yang dulu dirawat dengan penuh kasih kini pecah dan tertimbun reruntuhan.
Ia teringat bagaimana Denaya selalu tersenyum setiap kali bunga-bunga lili itu bermekaran.
"Ibu, bunga ini cantik, ya?"
Kini tak ada lagi yang akan bertanya seperti itu.
"Kasandra... Denaya... maafkan ibu...."
Tangisnya berubah menjadi lolongan panjang yang membuat siapa pun yang mendengarnya menundukkan kepala. Bahkan para petugas pemadam hanya mampu saling berpandangan. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menghibur seorang ibu yang baru saja kehilangan anak semata wayangnya.
Ingatannya mulai berputar.
Satu demi satu kenangan bermunculan seperti kepingan kaca yang menusuk dadanya.
Ia masih ingat perdebatan mereka yang terakhir.
Denaya berdiri di depan ruang makan dengan mata merah dan suara yang bergetar.
"Ibu pernah benar-benar mendengarkan aku?"
Saat itu ia hanya menghela napas kesal.
"Bukan sekarang, Denaya."
Kalimat sederhana itu ternyata menjadi salah satu kalimat yang paling ia sesali.
Ia masih mengingat malam ketika Denaya harus dilarikan ke rumah sakit setelah menelan terlalu banyak obat tidur. Gadis itu selamat, tetapi sejak hari itu sinar di matanya perlahan menghilang.
Semua orang menyebutnya sebagai anak yang terlalu sensitif.
Tak seorang pun benar-benar bertanya mengapa ia begitu putus asa.
Yang lebih menyakitkan, keluarganya sendiri justru meminta Denaya merawat neneknya—orang yang telah menjadi sumber luka masa kecil yang tak pernah benar-benar sembuh. Saat Denaya menangis dan memohon agar tidak dipaksa kembali, suaranya tenggelam oleh tuntutan keluarga yang menganggapnya hanya sedang membangkang.
"Ia sudah tua. Kamu harus mengerti."
Kalimat itu terus terngiang di telinga sang ibu.
Saat itu ia memilih diam.
Diam yang kini terasa seperti dosa yang tak mungkin terhapus.
Seandainya waktu bisa diputar kembali, ia ingin berdiri di depan putrinya. Ia ingin berkata bahwa tidak ada siapa pun yang boleh memaksa Denaya kembali menghadapi orang yang telah menyakitinya.
Tetapi semua itu kini hanya menjadi angan yang terlambat.
Denaya sudah tidak ada.
Ia teringat sebuah sore ketika tanpa sengaja menemukan buku harian putrinya. Saat itu ia tidak membacanya karena merasa itu adalah privasi.
Kini ia justru berharap pernah membuka halaman-halaman itu.
Mungkin di sana terdapat semua tangisan yang tak pernah sempat diucapkan.
Mungkin di sana ada permintaan tolong yang tak pernah berhasil ia dengar.
Atau mungkin hanya ada seorang gadis kecil yang selama bertahun-tahun berharap ibunya memeluknya tanpa menghakimi.
Di tengah puing-puing yang masih mengepulkan asap, seorang petugas menemukan sebuah gantungan kunci berbentuk bunga lili. Benda kecil itu sedikit hangus, tetapi masih utuh.
Sang ibu menerimanya dengan kedua tangan yang gemetar.
Ia mendekapnya erat ke dada.
Seolah dengan begitu ia masih bisa merasakan kehadiran putrinya.
"Denaya... maafkan ibu..."
Tak ada jawaban.
Yang ada hanyalah angin malam yang berembus pelan membawa aroma asap dan kayu terbakar.
Ia menengadah ke langit yang gelap.
Air matanya tak lagi bisa dibendung.
"Kalau saja ibu lebih banyak mendengar..."
"Kalau saja ibu lebih percaya padamu..."
"Kalau saja ibu memelukmu lebih erat..."
"Kalau saja ibu melindungimu..."
Kalimat-kalimat itu terus berulang seperti doa yang tak pernah selesai.
Namun, hidup tidak mengenal kata "kalau".
Api akhirnya mulai padam menjelang dini hari.
Yang tersisa hanyalah puing-puing, abu, dan kesunyian yang begitu menyiksa.
Rumah itu mungkin bisa dibangun kembali.
Ornamen bunga lili bisa dibeli lagi.
Perabotan yang hangus bisa diganti.
Tetapi Denaya...
Tak ada satu pun di dunia ini yang mampu mengembalikannya.
Malam itu, di hadapan reruntuhan yang pernah menjadi rumah mereka, seorang ibu menyadari bahwa cinta yang tak sempat diucapkan akan selalu menjadi penyesalan paling panjang dalam hidupnya.
Dan nama yang terus ia panggil dengan suara serak itu hanya bergema di antara sisa-sisa bara.
"Denaya..."
"Maafkan ibu..."
Tak ada jawaban.
Hanya sunyi yang tinggal, menjadi saksi bahwa ada luka yang akan terus hidup, bahkan ketika api telah lama padam.