Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
48
Sial
Aksi

Aku tak tahu apa yang sedang terjadi? Melihat langkah kaki para manusia pemburu memanglah sialan.

Bukan. Bukan dia. Bukan mereka. Tapi kamu.

Benar. Kamu. Kau adalah manusia sialan. Manusia rendah, pemburu, dan bajingan. Bukankah kalian adalah makhluk yang suka menghina bangsa kami?

Memutar balikkan fakta, menyerang tanpa dosa, hingga mencaci maki kami dengan segala kepintaran kalian. Hingga kalian tidak menyadari jika sikap itulah yang menunjukkan betapa hina kalian. Betapa sombong makhluk sialan ini.

Jangan. Berhenti berpikir jika itu bukan kalian! Kalian adalah bagian dari golongan sial ini. Introspeksi diri, jangan menyebar kebencian seolah kalian yang tersakiti. Karena aku tahu ke mana tujuan dan visi itu, kalian hanya mencari validasi dan mencari kekuatan tak berdasar. Kalian ingin menjadi tokoh utama yang diakui.

Bukankah kalian merasa lelah? Apakah hidup kalian tidak terganggu? Apa kalian sudah puas?Atau justru sikap itu membuat kalian lebih leluasa dan besar, menganggap jika kalian adalah manusia sempurna.

Demi satu butir pasir yang dipijak, demi embusan napas yang terpendam, juga setiap doa yang tercantum, semoga alam menjadi balasan nyata dalam satu kata sial yang terucap dari mulut sialan kalian.

Dari tempatku ini, aku sungguh muak melihat kalian saling mengadu domba. Tapi tenang, terkadang itu menjadi tontonan favoritku. Aku rasa salah satu dari dua malaikat yang selalu bersama kalian juga merasakan hal yang sama denganku.

Mereka berdua pasti tertawa karena buku catatan mereka penuh dengan kalimat durjana kalian. Tak masalah, itu adalah catatan terindah kalian di alam baka nanti, karena kalian sudah membentuk kumpulan manusia sial.

Berbuatlah buruk, hinalah orang lain, fitnah mereka, bencilah mereka dengan sesuka hati karena salah satu malaikat akan senang menulis perjalanan indah hidup kalian.

"Apa begitu menyenangkan melihat kumpulan makhluk itu?" celetuk salah satu teman yang kini duduk di sampingku.

"Tentu saja. Menghina adalah keahlian mereka. Tentu saja aku harus menonton akhir kisah hidup mereka."

"Lalu, apa yang kau harapkan dengan akhir kisah mereka?"

"Entah. Akhir bahagia, mungkin? Biarkan mereka bahagia dengan mulut sialan mereka hingga mereka tidak menyadari jika satu kata yang menyakitkan bisa menjadi ketapel magma dalam mulut mereka."

Aku mendengar suara nyaring dari temanku. Aku pun ikut tertawa. Sialan. Ini sungguh lucu.

Benar. Sangat lucu. Melihat orang-orang yang menebar kebencian sangatlah lucu. Kepuasan adalah saat kebencian itu berhasil menyakiti objek yang mereka tuju hingga tak berkutik.

Tidak. Tidak ada yang salah. Dan jangan berhenti melakukan itu. Terus lakukan sikap itu hingga akhir. Lagi pula tidak ada larangan. Itu adalah habitat kalian.

Jadi, tidak masalah. Lakukan hal yang membuat kalian suka. Bukankah kita sudah hidup di tahun 2026?

Sekali lagi. Aku kembali tertawa bersama temanku. Ya, ideologis modern memang menantang.

Namun, tiba-tiba mulutku terbungkam. Helaan napas panjang keluar dari mulut hinaku.

"Ada apa?"

Aku beralih memandang langit biru yang kosong tanpa awan. "Bukankah mereka seharusnya bersyukur?"

"Bersyukur? Tentang apa? Apakah mereka belum puas?"

"Entah. Apa kau tidak berpikir? Berapa lama kita hidup? Apakah kita akan menyiakan kehidupan kita pada hal yang tidak berguna?"

"Bukankah dengan sikap itu mereka berpikir telah menggunakan hidupnya dengan baik? Ingat, menebar cacian adalah habitat mereka."

"Benar. Aku tidak bisa melarang atau menyalahkan mereka. Tapi terkadang aku merasa kasihan. Jika saja mereka bersyukur sedikit saja, mungkin mereka akan merasakan ketenangan yang sesungguhnya. Tanpa harus melibatkan dengan rasa benci, dendam, dan amarah. Apa mereka tidak takut pada Tuhan mereka? Atau mungkin, Tuhan sudah tidak harga dirinya di mata mereka. Menyembah tapi dipenuhi rasa kebencian. Apa mereka tidak berpikir sedang mempermainkan Tuhan?"

"Entahlah. Mereka adalah populasi paling bebal."

Lagi, kami berdua tertawa.

"Jika saja mereka mau bercermin, melihat diri sebelum menghina orang lain, mungkin dunia akan terasa lebih baik," celetuk temanku.

Aku menggeleng. "Tidak. Justru tanpa mereka, kita tidak akan bisa bersyukur seperti sekarang. Dengan semua hinaan, kebencian, dan kebohongan itu, membuat kaum kita semakin bersyukur dan menyadari Tuhan selalu bersama kita."

"Kau benar. Harus ada air dan api untuk menstabilkan kehidupan. Lalu, apa mereka akan tersindir dan menyerbu kita jika berbicara seperti ini?"

"Mungkin. Aku sudah siap menerima hinaan lagi."

Sekali lagi, kami tertawa tanpa henti. Tanganku memegang perut karena tak berhenti tertawa.

Tiba-tiba saja, ada salah satu anggota dari kumpulan manusia tanpa syukur itu mendatangi kami berdua. Aku lihat dia mengangkat tangan hendak menampar kami, tapi, dengan cekatan aku memegang tangan temanku untuk segera menghindar.

Sialan. Dasar manusia sial.

"Mau ke mana kalian? Dasar monyet sialan!" teriak dari manusia sial itu.

"Matilah kau di neraka Jahannam, sialan!" balasku dengan keras. Tapi, manusia itu seolah tidak mengerti.

Tentu saja mereka tidak mengerti. Satu fakta, aku dan temanku adalah monyet sungguhan. Kami berdua duduk di dahan, lalu tiba-tiba diburu oleh manusia sialan seperti kalian.

Kalian selalu menghina kami. Mencaci maki kami sepuas kalian. Membuat kebohongan pada bangsa kami. Merendahkan kami serendah-rendahnya. Tanpa kalian mengerti jika kami adalah makhluk yang memiliki hati dan perasaan.

Mungkin kami tidak berakal, tapi ... kami memiliki otak untuk berpikir secara naluriah karena kami selalu menyertai Tuhan dalam doa kami.

Kami juga memiliki rasa marah dan batasan sabar, tapi Tuhan selalu mengatakan kepada kami untuk diam agar kalian bisa leluasa menghina kami. Kata Tuhan, setiap satu rasa sakit kami, akan ada satu kerikil balasan.

Aku tidak tahu benar atau tidak, tapi aku percaya pada Tuhan. Bukan seperti kalian yang percaya pada Tuhan, tapi menghina ciptaan Tuhan.

"Sepertinya manusia itu marah pada kita," ucapku sambil melompat ke dahan lain.

"Biarkan. Biarkan mereka marah sepuasnya. Biarkan mereka hidup dalam pilihan mereka. Kita sebagai monyet hanya bisa melihat kehidupan mereka. Meladeni mereka hanya akan membuat kita sama dengan mereka."

"Ternyata Tuhan menciptakan kita sebagai bangsa monyet adalah pilihan terbaik. Aku sangat bersyukur hidup sebagai 'seorang' monyet. Sungguh."

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)