Damn, my cheeks are flushed again. Well, it's you; you're the main cause. I put your name in the prayers I say in silence. We've never met, and even our conversations last only a few seconds, always ending in silent silence.
We are building a future together, filled with prayers. In fact, I am not even aware if there is love in every letter I write to praise your name.
Aku selalu berharap, aku mati lebih dulu, karena aku tidak sanggup jika harus melihatmu di liang yang tidak lagi bisa ku merasakan hangatmu.
kamu tidak sehina itu, aku hanya menjaga batasan diriku, agar menyadari kamu bukan untukku dan aku pun begitu. Aku hanya meminjam dirimu dari seorang puan yang memintamu pulang; Aku tidak ingin hatimu terluka lagi.
Let me ask you, am I still your main home when your back is gone? Am I still someone who will be the end or a stopover for your next step?
aku telah menduga, semesta pun mengatakannya, kamu memang tidak untukku bahkan aku berharap, andai saja kamu berbalik menghadapku, dan memelukku, seperti hadirmu hanya bayang yang akan hilang karena redup cahaya.
Aku tidak akan pernah tercipta untukmu, sekeras apapun Aku berdoa kepada Tuhan. Jika itu mau semesta, maka aku akan melepaskanmu, semoga kau bahagia dengannya. Merelakanmu, adalah hal sulit tak terelakkan meski enggan, namun tak apa hadirmu tidak bersandiwara.
Semoga Tuhan menjagamu dalam doa, aku berharap kau tumbuh dan indah, seperti bunga bakung.
Aku mencintaimu tanpa tepi, mencintaimu setiap hela napasku hingga tak jemu, dirimu mencuci pikiranku sehingga isinya hanya kamu dalam pikirku.
Akal sehatku benar bener tak masuk logika, Aku terbius lakon piyawaimu, Aku menuliskanmu sembari menyesap minuman dingin yang meninggalkan kulacino diatas meja. Memikirkanmu seperti menguncangkan dunia
Tapi sayangnya, aku tidak tercipta untukmu, sekali lagi. Akankah ku temukan cinta yang sama seperti itu, cinta yang menghangatkan, cinta yang tidak menuntut, cinta yang hanya mengagungkan dan mendamba satu sana lain.
Aku tak akan menemukan sama sepertimu Tuan, tapi Aku akan bertemu mungkin setara atau yang lebih darimu, karena aku tau mencintaimu adalah Amiin yang paling sulit diwujudkan oleh Tuhan.
Aku menuliskan bait terakhir pesan yang ingin ku sampaikan padanya. Menyesap minuman yang menenangkan hatiku, Aku sakit hati karena ia tidak mencintai sebesar Aku melakukannya.
Dia sempat sekali mengatakan, "Dimanapun Aku berlabuh, entah kenapa Rumah paling menenangkan adalah dirimu." Itu bukan, karena Aku yang benar Kau tuju, tapi Aku adalah tempatmu menepi disaat sepi, disaat Kau paling rapuh dan aku paling sungguh.
Aku selalu merasakannya, Kau mengatakan Aku adalah Milo, minuman manis yang akan disukain anak-anak dan kau juga, tapi aku merasa tidak menguntungkan dirimu.
Aku selalu menyimpan rasa yang berbeda dari teman tanpa ku pungkiri aku bodoh, Mencintaimu, Aku masih dan semakin tersakiti karena itu, sama Amiin, beda keyakinan.