Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
68
Moca
Aksi

Moca selalu mengira kehilangan pekerjaan akan terasa seperti petir yang menyambar. Keras, mengejutkan, dan menghancurkan dalam satu waktu. Namun kenyataannya tidak demikian. Kehilangan pekerjaannya justru datang seperti air yang merembes pelan-pelan ke dalam rumah. Awalnya hampir tidak terasa, sampai suatu hari ia menyadari seluruh lantai sudah basah.

Semua bermula ketika ia dirumahkan selama tiga hari.

Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada surat resmi. Hanya pemberitahuan singkat yang membuatnya menghabiskan tiga hari berikutnya dalam keadaan menggantung. Ia mencoba menenangkan diri dengan berbagai alasan. Mungkin toko sedang sepi. Mungkin sedang ada penyesuaian. Mungkin ini hanya sementara.

Ketika akhirnya ia dipanggil kembali bekerja, Moca menganggap badai telah berlalu.

Ternyata tidak.

Hari-hari setelah ia kembali terasa berbeda. Sesuatu berubah, meski tak ada seorang pun yang mengatakannya secara langsung. Tugas-tugas yang biasa ia kerjakan mulai berpindah ke tangan orang lain. Pencatatan stok diberikan kepada karyawan lain. Pemeriksaan dan penerimaan barang dilakukan orang lain. Bahkan pekerjaan-pekerjaan kecil yang selama ini rutin dikerjakannya perlahan menghilang dari hadapannya, kecuali menyapu halaman, toko, membersihkan frezzer, masih jadi rutinitasnya setiap pagi dan setiap hari.

Moca masih datang tepat waktu. Ia masih bekerja. Masih membantu mengangkat barang, menyusun dus, memindahkan stok dari satu gudang ke gudang lain. Terkadang ia harus membawa beberapa kardus produk beku menggunakan motor, bolak-balik di bawah panas matahari. Punggungnya pegal. Tangannya sakit. Namun ia tetap melakukannya.

Yang tidak bisa ia lakukan hanyalah memahami apa sebenarnya posisinya di sana.

Setiap hari ia pulang dengan pertanyaan yang sama.

"Sebenarnya aku ini bekerja sebagai apa?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi perlahan berubah menjadi beban yang menggerogoti pikirannya.

Moca bukan orang yang pandai mencari perhatian. Ia tidak pernah menjadi pusat keramaian. Ia lebih suka bekerja dalam diam daripada bercakap-cakap tanpa tujuan. Baginya, pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang selesai, bukan pekerjaan yang membuat semua orang menyukainya.

Namun tampaknya dunia kerja tidak selalu berjalan seperti itu.

Suatu sore, setelah jam pulang kerja, ia dipanggil oleh pemilik toko. Ia menunggu mereka sampai larut maghrib.

Percakapan mereka berlangsung singkat. Tidak ada teriakan. Tidak ada kemarahan. Tidak ada tuduhan.

Justru karena terlalu tenang, percakapan itu terasa lebih menyakitkan.

Mereka mengatakan bahwa Moca kurang cocok.

Kurang cocok.

Dua kata yang terdengar ringan. Dua kata yang tidak menjelaskan apa pun.

Kurang cocok dengan siapa?

Kurang cocok dalam hal apa?

Kurang cocok karena tidak pandai bergaul?

Kurang cocok karena terlalu pendiam?

Kurang cocok karena tidak menjadi orang yang mereka harapkan?

Tidak ada jawaban.

Yang ada hanyalah akhir.

Malam itu Moca pulang dengan langkah pelan. Langit kota terlihat biasa saja. Kendaraan tetap berlalu-lalang. Orang-orang tetap tertawa di warung makan. Dunia tidak berhenti hanya karena ia kehilangan pekerjaan.

Anehnya, justru itulah yang membuatnya semakin sedih.

Karena ternyata kesedihan seseorang tidak pernah cukup besar untuk menghentikan dunia.

Malamnya, dengan hati yang entah kenapa terasa sesak, Moga keluar dari semua grup pekerjaan. Tak ada notifikasi, hanya seorang anak manusia yang merasa dunianya mengalami kemunduran.

Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Moca bangun pagi tanpa tujuan yang jelas. Ia membuka ponsel lebih sering dari biasanya. Kadang melihat lowongan pekerjaan. Kadang hanya menatap layar kosong tanpa benar-benar membaca apa pun.

Yang paling menyiksa bukan kehilangan gaji.

Melainkan kehilangan kepercayaan diri.

Ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri.

Mungkin mereka benar. Mungkin aku memang tidak cocok bekerja. Mungkin aku terlalu pendiam. Mungkin aku terlalu kaku. Mungkin aku memang tidak cukup baik.

Pikiran-pikiran itu datang setiap malam seperti tamu yang tidak diundang.

Lalu datang hari gajian.

Semua karyawan mungkin sudah menerima gaji mereka.

Moca tidak.

Ia menunggu sehari.

Lalu dua hari.

Lalu tiga hari.

Pada akhirnya ia memberanikan diri mengirim pesan kepada mantan atasannya. Pesan yang ditulis berkali-kali sebelum akhirnya dikirim.

Jawaban yang diterimanya sopan. Katanya akan ditransfer.

Besok.

Kemudian besok lagi.

Dan besok berikutnya.

Moca tersenyum pahit.

Bahkan setelah keluar, ia masih merasa menggantung.

Waktu terus berjalan.

Perlahan ia mulai memperbaiki CV-nya. Awalnya ia kesulitan menulis pengalaman kerjanya. Rasanya seperti tidak ada yang bisa dibanggakan.

Namun semakin lama ia mengingat, semakin banyak hal yang ternyata pernah ia lakukan. Menyusun faktur. Mengelola stok barang. Membalas pesan pelanggan. Membantu pengemasan pesanan. Melayani pembeli. Membantu operasional gudang.

Ia terdiam ketika menyadari satu hal.

Ternyata selama ini ia bekerja lebih banyak daripada yang ia kira.

Mungkin yang tidak pernah diberikan kepadanya bukan kesempatan bekerja.

Melainkan pengakuan.

Berbulan-bulan setelahnya, saat sedang membuka media sosial, sebuah lowongan kerja muncul di berandanya.

Nama tokonya membuatnya tertawa.

Toko yang sama.

Tempat yang sama.

Orang-orang yang sama.

Mereka kembali membuka lowongan.

Moca menatap layar cukup lama hingga akhirnya ia tertawa sendiri.

Tawa yang aneh.

Tawa yang lahir dari luka yang mulai sembuh.

Dua bulan lalu, melihat lowongan itu mungkin akan membuatnya menangis.

Sekarang tidak.

Sekarang ia hanya merasa hidup ini lucu.

Namun malam itu, saat melihat status seorang teman lama yang masih bekerja di sana, senyumnya perlahan menghilang.

Temannya tampak bahagia. Semakin dipercaya. Semakin berkembang. Semakin menemukan tempatnya.

Dan tiba-tiba sebuah rasa yang selama ini bersembunyi kembali muncul.

Bukan iri.

Bukan marah.

Melainkan kehilangan.

Moca menyadari bahwa yang ia rindukan bukan pekerjaan itu.

Bukan gudangnya.

Bukan freezer atau stok barang.

Yang ia rindukan adalah kemungkinan.

Kemungkinan bahwa suatu hari ia juga bisa berkembang di sana.

Kemungkinan bahwa suatu hari ia akan dipercaya.

Kemungkinan bahwa suatu hari ia akan merasa menjadi bagian dari tempat itu.

Kemungkinan-kemungkinan itu mati pada hari ia diberhentikan.

Dan itulah yang selama ini ia tangisi.

Bukan pekerjaannya. Melainkan masa depan yang tidak pernah sempat terjadi.

Di luar sana, freezer-freezer tetap dingin.

Stok-stok tetap dihitung.

Nota-nota tetap dicetak.

Toko itu tetap berjalan tanpa dirinya.

Dirinya juga tetap berjalan tanpa toko itu. Pelan. Tertatih.

Kadang masih menoleh ke belakang. Namun tetap berjalan.

Malam semakin larut. Moca menutup ponselnya. Besok mungkin belum ada pekerjaan, besok mungkin masih ada rasa takut, besok mungkin masih ada keraguan.

Tetapi untuk malam ini, satu hal sudah cukup.

Ia berhasil melewati hari ini.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Rekomendasi