Hari ini aku membuka kembali halaman-halaman lama yang pernah kutulis.
Aneh juga. Ada begitu banyak hal yang sudah kulupakan. Nama dosen, jadwal magang, tugas-tugas yang dulu terasa melelahkan. Semuanya memudar seperti tinta yang terlalu lama terkena matahari. Lucunya, aku masih mengingatmu. Padahal kita bahkan tidak pernah benar-benar saling mengenal.
Aku masih ingat hari ketika kita hanya saling menyapa sebentar. Mungkin tidak sampai satu menit. Mungkin bahkan kurang. Bagimu, bisa jadi itu hanya pertemuan biasa dengan seseorang yang kebetulan berada di tempat yang sama. Entah kenapa, bagiku tidak sesederhana itu.
Aku pulang membawa rasa penasaran yang bahkan tidak bisa kujelaskan. Aku tidak tahu namamu. Aku hanya tahu jurusanmu. Bermodal itu, aku mulai mencarimu.
Awalnya aku hanya ingin tahu siapa namamu. Sesederhana itu. Namun rasa penasaran memang pandai menyamar. Ia selalu datang dengan alasan yang terdengar masuk akal.
"Cuma mau tahu namanya."
Lalu berubah menjadi...
"Sekalian lihat kegiatan jurusannya."
Kemudian...
"Oh, ternyata ada video tugas kelompok."
Dan tanpa kusadari, aku berjalan semakin jauh.
... aku menemukan namamu, lalu wajah-wajah yang sering bersamamu, keluargamu, dan cerita-cerita yang bahkan tidak pernah kauucapkan sendiri.
Internet memang aneh. Ia membuat dua orang asing terasa hanya berjarak beberapa ketukan jari.
Aku pernah mengira bahwa semakin banyak aku tahu tentangmu, semakin dekat pula jarak di antara kita.
-- padahal tidak.
Ada satu malam yang masih kuingat. Saat aku menatap layar ponsel cukup lama. Entah sudah berapa banyak akun yang kubuka malam itu. Tiba-tiba muncul pertanyaan yang membuatku menaruh ponsel begitu saja.
"Kalau ada orang melakukan semua ini kepadaku... apa aku tidak akan takut?"
Aku tidak punya jawaban. Yang ada hanya rasa malu. Malu karena selama ini aku mengira sedang mengenalmu. Padahal yang kukenal hanyalah jejak-jejak yang kau tinggalkan.
Aku tahu bagaimana bentuk rumahmu, tapi aku tidak tahu seperti apa caramu menghadapi hari yang buruk.
Aku tahu nama keluargamu, tapi aku tidak tahu siapa yang paling sering membuatmu tertawa.
Aku tahu tanggal-tanggal yang penting bagimu, tapi aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi dirimu pada hari-hari itu.
Ternyata manusia memang tidak bisa dipahami hanya dengan mengumpulkan fakta.
Ada bagian dari seseorang yang hanya bisa ditemukan melalui percakapan, kepercayaan, dan waktu. Masalahnya, aku tidak pernah memiliki ketiganya.
Bertahun-tahun kemudian, aku masih sesekali mengingatmu. Bukan karena aku masih berharap. Mungkin lebih karena aku belum pernah benar-benar mengucapkan selamat tinggal pada kemungkinan yang tidak pernah terjadi.
Lucu ya.
Aku pernah menyimpan perasaan begitu lama kepada seseorang yang bahkan mungkin tidak akan mengingat wajahku. Dulu aku menganggap itu menyedihkan. Sekarang tidak lagi.
Sekarang aku justru bersyukur pernah mengalaminya. Karena darimu aku belajar bahwa hati manusia ternyata bisa menetap begitu lama pada sebuah pertemuan yang begitu sebentar.
Kalau ternyata tidak pernah bertemu lagi?
Ya sudah.
Kamu akan tetap menjadi seseorang yang pernah membuatku sadar bahwa hati manusia bisa bertahan pada sebuah pertemuan yang hanya sebentar. Dan itu pun bukan pengalaman yang sia-sia. Kadang seseorang tidak hadir untuk menjadi pasangan, melainkan menjadi cermin yang memperlihatkan bagaimana cara hati kita bekerja.
Hari ini aku menutup kembali halaman lama itu.
Aku tidak lagi ingin mencari tahu kabarmu. Bukan karena aku sudah lupa. Melainkan karena akhirnya aku mengerti bahwa beberapa orang memang lebih indah dikenang daripada dikejar.
Jika semesta memang tidak pernah mempertemukan kita lagi, semoga itu bukan akhir dari kemampuanku untuk mencintai.
Semoga suatu hari nanti ada seseorang yang membuatku berhenti mencari jejak, karena aku sibuk menciptakan kenangan bersama.
Kurasa, begitulah seharusnya cinta bekerja. Bukan dengan mengumpulkan potongan-potongan kehidupan dari kejauhan. Melainkan dengan hadir... lalu perlahan menjadi bagian dari kehidupan satu sama lain.
Boleh gak aku berterima kasih pada Tuhan? Karena untuk sesaat, pernah mempertemukan kita dan membuatku menyadari bahwa ternyata aku juga bisa jatuh cinta-- walau tak berbalas. Tak apa, setidaknya rasa yang indah ini, pernah kumiliki.
Denganmu pula aku menyadari sesuatu. Bahwa ternyata aku pernah mengira semakin banyak tahu tentangmu, semakin dekat pula jarak di antara kita. Nyatanya tidak. Yang bertambah hanyalah informasi, bukan hubungan.