Disukai
1
Dilihat
1,561
Hal-Hal yang Diajarkan Kemiskinan Tanpa Bertanya
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Namaku Re. Sejak kelas dua, aku berteman akrab dengan tiga hal yang tak pernah gagal menemani hari-hariku, sepasang sepatu robek, nasib buruk, dan keinginan untuk terus bertahan. Sepatuku menyerah lebih dulu. Sepatu kain dengan leher panjang yang sedang tren di pasar loak kampungku ini sudah macam taik sapi, bertoping hijau oleh rontokan rumput dan lembab disapa embun pagi. Solnya menggantung seperti lidah anjing yang kelelahan sehabis berlari.

Pagi itu, langit menggantung rendah di atas sekolah kami, warnanya kelabu seperti seragam kusam yang kami kenakan tiap Senin. Di depan gerbang, aku bernegosiasi dengan tanah. Kakiku berjinjit tak beraturan karena sol kananku kini resmi copot total. Setiap langkah terasa seperti berjudi, antara bertahan atau terpeleset di tanah becek sisa hujan semalam.

Anak-anak lain yang lalu lalang di gerbang memperhatikan caraku berjalan. Sebagian tertawa kecil sambil menutupi mulut, sebagian lagi hanya melirik dengan tatapan yang sukar kuterjemahkan. Aku pura-pura tidak melihat. Dalam dunia orang miskin, berpura-pura kuat bukan hanya keterampilan, melainkan keharusan.

Setiap hari kecuali hari Minggu aku selalu berjalan kaki berangkat ke sekolah melewati jalan setapak yang dipagari semak-semak pendek, selututku paling tinggi. Ibu selalu menyuruhku memakai sendal atau berkaki ayam alias telanjang kaki, ibu khawatir tahun depan sepatuku rusak dan mau tak mau ibu harus meminjam uang lagi untuk membeli sepatu. Aku selalu mengiyakan petuah dari ibu, tapi jarang sekali mengindahkannya.

"Kenapa tak bawa sepeda aja sih, Re?" tegur Cinta, teman sebangkuku. Cinta menggeleng-gelengkan kepala melihatku menepuk-nepuk ujung sepatu agar rumput yang menempel jatuh. "Kalau kau pakai sepeda, tak payah sepatu kau tu kotor," tambahnya kemudian.

"Kau macam tak tau keluargaku saja," jawabku jengkel.

Semua orang di sekolah ini, baik teman sekelas, kakak kelas, guru, bahkan ibu-ibu warung sudah tau betapa miskinnya keluargaku. Cinta, anak tukang kayu yang satu ini macam lupa saja, tak hanya ekonomiku, dia juga sering lupa betapa miskin keluarga cemaranya itu.

Cinta hanya cengengesan. "Kau mau kujemput besok pakai sepedaku?" tawarnya.

"Tak." Pernah aku bonceng di belakang Cinta, berdiri memegangi bahunya sepanjang jalan bebatuan. Sepatuku memang tidak kotor, tapi tapaknya langsung menganga, bonusnya tanganku pun jadi hitam berkat rantai sepeda Cinta yang doyan putus, jarang sekali mereka akur-- macam mak bapaknya Cinta.

Belum kering sepatuku, lonceng gantung di depan ruang guru sudah berbunyi, menggema sampai ke kantor kepala desa yang jaraknya tak sampai 10 meter dari sekolah menengah kami. Jam pelajaran dimulai. Seperti biasa, Pak Amis guru Matematika merangkap Fisika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, memasuki kelas dengan buku paketnya yang sangat tak layak dilihat, tapi berisi banyak pengetahuan yang mencerdaskan kami selama ini.

"Cin, yok jajan."

Teu, entah siapa nama orangtuanya, aku lupa. Yang jelas bapaknya tukang sapu di kantor desa, mamaknya tukang cuci di rumah bu Opet, bidan satu-satunya di kampung kami. Teu ini teman sekelasku yang cinta monyet sama Cinta. Heran betul aku, kecil-kecil dia sudah birahi. Umur memang tak ada yang tau, tapi kelakuan pun juga tak pandang umur.

"Ayo!" jawab Cinta cepat. Macam orang kelaparan yang sudah tak sabar dijajani si bodoh Teu. "Mau ikut Re?" ajak Cinta.

Aku menggeleng. "Aku bawa bekal," jawabku sambil mengeluarkan bungkusan nasi yang dimasukkan paksa ibu ke dalam tas karena tau aku belum sarapan dan tak punya uang jajan. Aku tersenyum kecil, aku senang masih bisa makan, tapi sedih juga karena tak bisa jajan.

Aku makan bersama teman-teman sekelas lainnya yang juga bawa bekal dari rumah. Kami saling melempar tanya tentang menu yang kami bawa, sok-sokan penasaran dengan rasanya, ujung-ujungnya saling bertukar menu. Begitu terus setiap hari, padahal menunya itu-itu saja, ikan, tahu, tempe, dan sayur lodeh. Tapi yang jelas, ini bukan tentang menu, tapi kebersamaan dan kenangan yang akan selalu kami rindukan saat dewasa nanti.

"Patah hati aku, Re. Kukira si cantik itu juga menyukaiku, tapi naas kali nasibku. Sudah dibenci Cinta, diusir bapak, dikutuk pula oleh mamakku. Macam mana ini, Re?" Tak ada angin tak ada hujan, si bodoh Teu tiba-tiba datang ke rumahku, mau curhat katanya. Kami duduk di bawah pohon jambu yang ditanam bapak saat menikah dengan ibu.

Kupandang muka si bodoh Teu dengan kening berkernyit. Ingin sekali aku menendang bokongnya itu, tak ingin aku terdamprat sial karenanya.

"Kenapa kau tanya aku? Tanya Cinta sana!" seruku mengusir.

"Dia tak mau ketemu aku, Re."

Aku menghela nafas, tak paham dengan situasi sekarang. "Kenapa dia tak mau ketemu kau lagi? Sudah sadar dia betapa buruknya dirimu itu?" tanyaku heran.

Teu menggeleng, memajukan bibir bawahnya, tampak kesal karena kubilang buruk. "Aku tak punya uang membelikannya bedak dan lipstik."

Aku terpana, tak tau harus bereaksi seperti apa. Sejak mahasiswa-mahasiswai dari kota datang ke desa kami untuk KKN, Cinta mulai peduli dengan muka polosnya, dia mulai tertarik dengan bedak dan lipstik, saat kutanyai alasannya, jawabannya sederhana, "Aku ingin cantik dan bergaya macam kakak-kakak tu."

"Bapakku tak mau kasih aku uang lagi, dia marah dan melarangku pulang ke rumah. Mamak pun mengutukku jadi babi karena ketahuan mencuri uangnya."

"Oh, syukurlah bapakmu sudah sadar dan mamakmu cuman mengutukmu jadi babi, setidaknya kau masih bisa bernafas dan berjalan. Daripada kau dikutuk jadi batu." Aku sok-sokan menghela nafas lega.

"Oh iyakah?" Pupil mata Teu langsung membesar, dia nampak sedikit lega...?

Ah, si Teu ini benar-benar paket lengkap. Sudah buruk, bodoh, mudah diangin-angini pula.

"Kenapa kau sama anak ini, Re?" tanya ibu selepas pulang dari warung, mengernyitkan kening melihat Teu. "Jangan berteman kau dengan anak yang suka menipu bapaknya dan maling duit mamaknya ini!" tegur ibu marah, berkacak pinggang.

Teu langsung berlari terbirit-birit, takut dia melihat ibuku yang lebih garang dari kak Ros ini.

"Masuk!"

Aku langsung berlari ke rumah. Sudah kuduga aku akan terbawa sial karena dekat-dekat dengan si bodoh Teu itu. Tak hanya dimarahi ibu, malamnya pun aku diceramahi abis-abisan karena berteman dengan si bodoh Teu.

Singkat cerita, Teu menghilang. Tidak tau aku kemana dia. Orangtuanya sudah mencari kemana-mana, tapi tak pernah berhasil menemukan Teu.

Kulihat Cinta, dia tampak tak merasa bersalah pada Teu, peduli pun tidak.

"Re, kata mamakku. Semua laki-laki itu anjing. Jadi ga perlu dibaik-baiki, porotin aja, udah habis semua, buang, cari anjing baru."

Anjing maksud Cinta di sini adalah pelayan yang harus menjaga, melindungi, menemani, dan menafkahi dan mengerti perempuan. Anjing juga berarti buruk, seperti makian. Tapi yang dimaksud mamak Cinta adalah anjing yang cuman bisa menggigit dan membuang pesingnya di sembarang tempat, lalu menggonggong sok hebat. Itulah bedanya pemikiran polos anak-anak dan pemikiran orang dewasa yang sudah merasakan pahit asinnya kehidupan-- kata abangku, bang Ando, setelah tertawa ngik-ngik mendengar ceritaku. Aku ikut tertawa setelahnya karena ibu memukuli kepala bang Ando dengan pantat panci, tawanya merusak suanasa tenang di rumah kami.

"Ah anjing!" seru bang Ando refleks. Langsung dia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan lari keluar rumah sebelum mulutnya digosok ibu dengan cabe.

Aku menghentikan tawaku melihat ibu yang memelototi pintu tempat bang Ando keluar tadi. Aku lanjut mengerjakan tugas rumah yang diberikan pak Amis.

Setelahnya, kuceritakan juga omongan Cinta pada bapak. Bapak memegang bahuku, menatapku lamat-lamat. "Re, laki-laki itu manusia, bukan anjing. Kau perlu tau, manusia itu banyak yang baik, tapi juga tak sedikit yang jahat, jadi Re perlu berhati-hati, pandai memilih teman agar yang buruk-buruk itu, tidak menjerumuskan Re."

"Bapak tak ingin anak gadis Bapak punya pemikiran seperti orang-orang buruk itu. Bapak ingin selalu melihat Re yang baik, pintar, pemberani, dan tidak membuat bapak, mamak, dan abang sedih. Karena itu, Re harus selalu bisa mempertahakan pemikiran yang positif dan tindakan yang baik, seasing apapun pemikiran dan tindakan itu ke depannya. Re mengerti?" tanya bapak yang kurespon dengan anggukan saja. Aku tak benar-benar mengerti apa yang bapak katakan.

"Dan, Re, anjing itu tidak buruk, manusia saja yang mengistilahkannya sebagai kata bermakna buruk. Jadi, Re, jangan sampai membenci dan mengkasari anjing ya?"

Aku menggeleng. "Boro-boro mengkasari, Pak, melihat anjing dari jauh saja Re sudah takut, lari kek orang gila," jawabku, mengingat kenangan-kenangan penuh trauma ketemu anjing.

Bapak tertawa, mengelus lembut kepalaku.

Dua minggu kemudian, Teu balik sekolah lagi. Tidak tau aku dia kemana saja selama ini, tapi kata Aisyah, teman sekelasku. Teu selama ini tinggal di hutan belakang desa. Saat warga mencarinya, dia bersembunyi di atas pohon. Untuk makan, dia hanya memakan buah-buahan yang ada di hutan. Sudah macam tarzan saja, pikirku.

Setelah lulus sekolah, aku baru tau, Teu ternyata tidak setarzan itu. Abangku, bang Ando, ternyata selama ini membawakan Teu makanan atas izin ibu. Bersama dengan abang sepupu Teu. Teu juga dibuatkan rumah pohon sederhana agar dia bisa istirahat di sana sampai mak bapaknya benar-benar memaafkannya. Tapi Teu terlambat pulang, karena katanya dia masih belum sanggup melihat Cinta.

Si bodoh Teu itu, sama sekali tidak sakit hati pada Cinta.

Apa dia masih cinta Cinta? Entahlah.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi