Menurutku yang sering tidak sabaran kalau soal hati, tiga bulan adalah waktu yang cukup untuk membuat seseorang belajar sabar, untuk tidak menyerah. Pada akhirnya aku bimbang untuk bertahan, karena hatiku terus berisik. Bahkan angin saja berhembus agar kita tahu dia hadir, kenapa ia tak bisa menyisihkan waktu barang sebentar untuk berkabar?.
Di luar, suara azan Isya dari musala di ujung gang baru saja selesai. Di dalam kamar, hanya ada bunyi kipas angin dan detak jantungku sendiri.
“Ya Allah” doaku lirih. “Kalau memang dia baik untukku, dekatkan. Kalau bukan, tolong kuatkan aku.”
Kalimat itu sudah berulang kali kutasbihkan, tapi tetap saja, hatiku masih menoleh ke satu nama laki-laki itu.
Darwis.
Laki-laki yang dulu paling rajin mengingatkanku salat tepat waktu. Laki-laki yang tak pandai merayu, tapi pandai membuatku tenang. Ia selalu bicara hanya seperlunya, seolah takut berlebihan dalam segala hal.
Lalu dia pergi begitu saja.
Bukan pergi dengan perempuan lain, atau kami bertengkar, tapi ia ingin mengejar hidup, katanya.
“Aku pamit dulu, Sana,” katanya waktu itu.
“Berapa lama?”
“Entah.”
“Kenapa entah?”
“Karena aku takut berjanji pada sesuatu yang belum Allah izinkan.”
Aku marah saat itu, karena seperti hendak ditinggalkan, tapi aku tidak bisa membencinya.
Kini, yang tersisa hanya percakapan lama dan rasa rindu yang tidak tahu harus aku letakkan di mana.
Ponselku berbunyi.
Bukan Darwis.
Tapi pesan dari ibu.
Besok ikut ke rumah Bu Haji, ya. Ada tamu.
Aku menghela napas, aku tahu arti “ada tamu” dalam bahasa ibuku dan juga ibu-ibu kampung.
Biasanya pasti lelaki, apalagi membawa-bawa nama Bu Haji, meskipun kadang aku merasa jengah. Apa sih urusannya.
Biasanya seseorang gadis akan dikenalkan, dan diminta mempertimbangkan.
Aku malas, jadi hanya membalas singkat.
Iya, Bu.
Namun setelah itu aku aku merasakan gelisahku sendiri, membuat dadaku sesak.
Takut.
Takut kalau nanti ada orang baik datang, sementara hatiku masih menyimpan orang yang tak memberi kabar. Kalau aku mulai membuka hati, lalu itu dianggap mendua. Tapi kalau menunggu terlalu lama justru penantianku menjadi sia-sia. Serba salah jadinya.
***
Esok sorenya, rumah Bu Haji ramai. Bau kue timphan dan kopi memenuhi ruang tamu.
Aku duduk rapi dengan jilbab warna krem, aku tidak tahu harus bagaimana, jadi aku memilih menunduk lebih banyak daripada bicara.
Lelaki yang datang bernama Fikri, guru honorer di madrasah. Wajahnya teduh, tutur katanya sopan, tidak banyak bicara, tapi wajahnya menyiratkan seseorang yang jelas terdidik.
Ibuku tampak senang.
Setelah beberapa percakapan ringan, Bu Haji dan ibu sengaja ke dapur, meninggalkan kami berdua di ruang tamu, dengan jarak hanya dua kursi.
Fikri tersenyum canggung.
“Kalau saya boleh jujur,” katanya, “saya sebenarnya agak sungkan.”
Aku ikut tersenyum. “Saya juga.”
“Berarti kita sama.”
Diam sebentar.
“Boleh saya bertanya sesuatu?”
“Silakan.”
“Apakah Mbak Hasana sedang menunggu seseorang?”
Pertanyaan itu membuat jantungku berhenti sesaat.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Karena orang yang hatinya kosong biasanya menatap lawan bicara, sedang yang hatinya penuh, matanya sering pergi ke tempat lain.”
Aku menunduk.
“Maaf kalau lancang.”
“Tidak,” jawabku pelan. “Saya memang sedang bingung.”
“Karena seseorang?”
“Iya.”
“Dia sudah melamar?”
“Belum.”
“Dia meminta menunggu?”
“Juga tidak.”
“Dia memberi kabar?”
Aku menggeleng.
“Kalau begitu, yang menahan Mbak bukan dia, tapi harapan Mbak sendiri.”
Aku memikirkan kata-katanya, karena untuk pertama kalinya aku merasa ada seseorang jujur menilaiku.
***
Malamnya, aku duduk di sajadah setelah salat tahajud.
Rumah sepi, semua orang tidur, hanya suara jam dinding dan sesekali anjing jauh menyalak.
Aku menangis.
“Ya Allah, Aku capek menebak-nebak isi hati manusia.”
“Aku takut salah menjaga rasa, berharap pada sesuatu yang tak pasti. Aku bahkan takut membuka hati pada orang baru, nanti dianggap tak setia. Tapi Aku juga takut menunggu orang yang tak pernah datang.”
“Kalau Darwis memang untukku, tolong jaga dia dan dekatkan dengan cara yang baik.”
“Kalau bukan cabut dia perlahan dari hatiku, tapi jangan sekaligus, Aku lemah.”
***
Tiga hari kemudian, ponselku berbunyi saat pagi.
Nama itu muncul.
Darwis
Tanganku gemetar.
Aku membaca pesan singkat itu berkali-kali.
Assalamu’alaikum, Sana. Maaf baru datang kabar. Aku baru bisa berdiri lagi setelah banyak jatuh. Aku tak tahu apakah masih pantas mengetuk hatimu. Tapi kalau belum ada orang lain, izinkan aku datang pada keluargamu dengan cara baik. Jika sudah ada, aku akan ikut bahagia dari jauh.
Aku menatap layar lama sekali.
Dulu aku membayangkan jika pesan ini datang, aku akan menangis sejadi-jadinya, nyatanya tidak. Sebaliknya yang hadir justru tenang.
Aku mengambil wudu, lalu salat dua rakaat. Setelah itu baru aku membalasnya.
Wa’alaikumussalam. Aku tidak marah. Aku juga tidak menunggu dalam arti yang kamu kira. Aku hanya belajar menitipkan semua pada Allah. Kalau memang kamu sungguh-sungguh, datanglah baik-baik. Kalau tidak, tak apa. Semoga kita sama-sama dijaga.
Pesan itu lalu kukirim. Tidak berdebar seperti dulu, dan juga tidak kecewa, hanya lega seperti terlepas dari beban.
Ibu masuk kamar sambil membawa cucian.
“Itu siapa? Dari tadi senyum sendiri.”
Aku tersipu. “Teman lama.”
“Laki-laki?”
“Ibu selalu tahu ya.”
“Karena ibu juga pernah muda.”
Mereka tertawa, Ibu lalu duduk di samping ranjang.
“Nak,” katanya pelan, “jodoh itu bukan siapa yang paling lama ditunggu, tapi siapa yang datang dengan sungguh-sungguh.”
“Kalau ternyata bukan Darwis?”
“Berarti Allah sedang menyelamatkanmu dari cerita yang salah.”
“Kalau ternyata dia?”
“Berarti Allah menyimpan dia setelah sama-sama selesai diperbaiki.”
Aku memeluk ibu.
Hati yang mendua itu ternyata bukan karena mencintai dua orang, tapi karena terlalu lama berada di antara berharap dan pasrah.
Akhirnya aku memilih pasrah, sisanya, biar Tuhan yang menulis cerita kami akan jadi seperti apa.