Disukai
5
Dilihat
42
Kenapa Harus Dia?
Drama

Belakangan ini, Mas Reza terasa aneh bagiku.

Ia lebih sering tersenyum sendiri. Sebentar-sebentar mencari ponselnya, seolah tak bisa jauh darinya. Dan yang paling membuatku curiga, ia menjadi sangat protektif. Ponsel itu tak pernah diletakkan sembarangan lagi. Setiap kali berdering, langsung disambarnya cepat, seolah itu urgen untuk sesuatu yang katanya “hanya pekerjaan”.

Padahal nama yang muncul selalu nama laki-laki.

Lalu kenapa harus panik?

Sebagai istri yang sudah hidup bersamanya bertahun-tahun, perasaanku mulai terusik. Tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang disembunyikan dariku.

***

“Mas, teleponnya bunyi lagi,” ujarku suatu pagi.

“Kamu sibuk banget ya sekarang?”

“Iya, lagi banyak kerjaan di kantor,” jawabnya singkat.

Tak lama, ia berdiri tergesa. “Yaudah, aku berangkat dulu ya, sayang.”

Seperti biasa, ia mencium keningku.

Tapi entah kenapa sekarang ini terasa beda.

***

Siang itu, aku beresin rumah, memasukkan tumpukan kain laundry satu per satu ke dalam mesin.

Hingga sesuatu terjatuh.

Dua lembar tiket.

Dan sebuah foto polaroid.

Tanganku langsung gemetar saat membaca tulisan di latar foto itu. Napasku tercekat.

Champ de Mars Eiffel Tower, Paris. Pesta Kembang Api Bastille Day?

Di foto itu ada Mas Reza.

Dan Maya.

MAYA

Aku berusaha mengingat-ingat nama itu untuk memastikan ingatanku, karena benar-benar tak percaya.

Tanggalnya sama persis dengan jadwal kepergiannya ke Eropa dua hari lalu yang katanya ke London bersama teman laki-lakinya.

Pintu tiba-tiba terbuka.

Mas Reza pulang.

Aku menatapnya, lalu mengangkat tiket itu dengan tangan gemetar.

“Ini apa, Mas?”

Suaraku pelan, tapi bahkan rasanya menyakitkan di telingaku sendiri.

“Jadi Mas ke Paris? Bukannya ke London?”

Wajahnya langsung berubah.

“Ajeng, aku bisa jelaskan. Ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”

Dadaku terasa sesak.

“Tapi itu kan impianku, Mas” suaraku pecah, “kenapa harus dia yang Mas ajak?”

Suara Ajeng serak, bukan hanya karena marah, tapi karena sesuatu seperti kehilangan yang tiba-tiba, tanpa tanda.

Reza mengusap wajahnya. “Ajeng, dengerin aku dulu. Ini nggak sesederhana yang kamu lihat.”

Ajeng tertawa. “Nggak sesederhana?” Ia mengangkat foto polaroid itu, tangannya gemetar. “Kamu senyum di sini, Mas, bahagia sama dia. Senyum yang udah lama banget nggak aku lihat waktu kamu sama aku.”

Ruangan itu mendadak seperti menyusut.

“Dia cuma teman kerja”

“Jangan bohong!” potong Ajeng, kali ini suaranya meninggi. “Aku kenal dia, Mas. Maya, Ibu dari teman sekelas Aira, yang waktu itu kamu bilang "ramah banget ya orangnya" di acara sekolah, yang kamu sapa hangat di acara kantor, dan sekarang kamu bawa ke tempat yang bahkan aku cuma bisa mimpiin dari brosur travel!”

Reza terdiam tak berkutik, diam yang paling menyakitkan karena di dalamnya ada pengakuan yang tak diucapkan.

Ajeng mundur satu langkah, seolah menjaga jarak dari luka yang baru saja membelah dadanya.

“Berapa lama?” tanyanya pelan.

Reza menunduk. “Nggak lama.”

“Berapa lama, Mas?” ulang Ajeng, lebih tegas.

“Empat bulan”

Sesuatu langsung runtuh di dalam diri Ajeng. Empat bulan cukup lama untuk sebuah pengkhianatan tumbuh, cukup lama untuk kebohongan dipelihara dengan rapi di balik senyum dan kecupan di kening setiap pagi.

“Aira” suara Ajeng tiba-tiba melemah, “kamu juga bohongin anak kita?”

Reza menatapnya cepat. “Jangan bawa Aira ke masalah kita.”

“Kenapa nggak?” Air mata Ajeng jatuh tanpa bisa ditahan lagi. “Dia tiap malam nanya, ‘Ayah kapan pulang?’ Dia gambar keluarga kita lengkap, Mas. Dia selalu gambar kita bertiga tanpa tahu kalau ayahnya lagi sibuk bikin keluarga lain di belakang kita.”

Reza memejamkan mata, seperti tak sanggup menatap kenyataan yang ia ciptakan sendiri.

“Aku khilaf, Jeng”

“Khilaf?” Ajeng menggeleng pelan. “Khilaf itu satu kali, Mas, ini empat bulan, itu pilihan namanya.”

Sunyi, bergelanyut dalam diam mereka berdua.

Hanya suara mesin cuci yang terus berputar, seperti mengulang-ulang kenangan yang tak bisa dibersihkan.

Ajeng menatap tiket itu sekali lagi. Eiffel. Tempat yang dulu mereka bicarakan sebelum tidur. Tempat yang katanya akan mereka datangi saat Aira sudah cukup besar.

“Mas ingat?” suara Ajeng kini nyaris berbisik. “Dulu kamu bilang ‘nanti kita akan lihat menara itu bareng-bareng, Ajeng. Aku, kamu, sama Aira.’”

Reza menelan ludah.

“Tapi ternyata kamu pergi duluan, sama orang lain.”

Air mata Ajeng jatuh lagi, kali ini lebih pelan, lebih pasrah.

Malam itu, rumah mereka tidak lagi hangat seperti sebelumnya.

***

Aira berlari kecil menyambut Reza yang pulang, tanpa tahu badai apa yang baru saja menghantam kedua orang tuanya.

“Ayah!” serunya riang, memeluk kaki Reza. “Aira dapat bintang hari ini!”

Reza berjongkok, memeluk anaknya erat, seolah takut kehilangan.

“Pinter ya anak ayah”

Ajeng berdiri di ambang pintu kamar, memperhatikan. Dadanya sesak, karena pemandangan itu dulu selalu membuatnya hangat. Sekarang justru terasa seperti tikaman yang diputar pelan di ulu hatinya.

“Ayah besok ke sekolah Aira lagi kan?” tanya Aira polos. “Katanya mau ketemu Bunda Maya juga, mau rapat katanya.”

Ajeng memejamkan mata.

Reza membeku menatap Ajeng.

Kalimat itu keluar dari mulut anak kecil yang tak tahu apa-apa, tapi jatuh seperti vonis mematikan.

Ajeng berbalik, tak sanggup lagi melihat.

***

Beberapa hari setelahnya, Ajeng memilih diam. Terlalu banyak yang ingin ia tanyakan kepada Maya, tapi ia takut semua jawabannya akan semakin menghancurkannya berkeping-keping.

Hingga suatu sore, Ajeng benar-benar bertemu Maya.

Di halaman sekolah Aira.

Perempuan itu berdiri anggun, seperti biasa. Senyumnya sama seperti yang Ajeng ingat, hangat, ramah, tapi sekarang terasa begitu menyakitkan.

“Ajeng” sapa Maya sedikit ragu.

Ajeng menatapnya lama. Ada ribuan kata di matanya, tapi yang keluar hanya satu pertanyaan.

“Kenapa harus suami saya?”

Maya terdiam, wajahnya berubah pias menahan kejutan.

“Aku nggak pernah merencanakan ini semua.”

Ajeng tersenyum tipis. “Nggak ada yang pernah ‘berencana’ selingkuh, Maya. Tapi kalian tetap memilih untuk melanjutkan.”

“Aku sayang sama dia.”

Kalimat itu seperti menampar Ajeng.

“Terus aku?” suara Ajeng bergetar. “Aku apa? Aku yang nemenin dia dari nol. Aku yang ada waktu dia belum punya apa-apa. Aku yang lahirin anaknya. Aku yang nungguin dia pulang tiap malam.”

Air matanya jatuh lagi.

“Tapi yang dia pilih untuk bahagia, kamu.”

Sunyi menggantung di antara mereka.

Tak ada yang benar-benar menang, hanya ada yang terluka lebih dulu, dan lebih dalam.

***

Malam itu, Ajeng duduk di samping tempat tidur Aira yang sudah tertidur. Ia mengelus rambut anaknya sambil berusaha menguatkan dirinya sendiri.

Di luar kamar, Reza masih terjaga, menunggu dan berharap.

Cinta yang dulu utuh kini retak, dan beberapa retakan tidak pernah benar-benar bisa diperbaiki.

Ajeng menatap nanar ke langit-langit, lalu berbisik.

“Kalau aku tetap bertahan, apa aku masih punya harga diri?” Kini ia sendiri tidak yakin lagi dengan jawabannya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi