“Aku punya usul yang aneh, mau dengar engga?”
Rachel mengangkat kepala dari buku yang sedang dibacanya. Di seberang meja perpustakaan kecil itu, Rhevian tampak memainkan ujung pulpen di tangannya, wajahnya terlihat lebih serius daripada biasanya.
“Seaneh apa?” tanya Rachel.
“Jangan ketawa dulu.”
“Belum juga ngomong.”
Rhevian tersenyum, lalu menghela napas panjang.
“Kita buat resolusi Desember, yuk.”
Rachel mengernyit.
“Resolusi Desember?”
“Iya.”
“Bukannya orang bikin resolusi Januari?”
“Nah, makanya aku bilang ini aneh, atau sebut aja Janji Desember, terserah deh.”
Rachel tertawa.
“Lanjutkan aja, aku mau dengar.”
Rhevian menatapnya beberapa saat sebelum berbicara lagi.
“Sekarang kita nggak pacaran kan?.”
Rachel mengangguk.
“Kita juga sama-sama sendiri.”
Rachel kembali mengangguk.
“Bulan lahir kita sama, dan hidup kita lagi sama-sama berantakan.”
Kali ini Rachel tersenyum miris, karena kalimat terakhir itu terlalu sulit untuk dibantah.
Mereka memang tidak lagi bersama. Perpisahan yang terjadi beberapa bulan lalu tidak disebabkan oleh kurangnya rasa sayang, justru sebaliknya, mereka terlalu banyak memikirkan masa depan. Masih egois dengan diri mereka masing-masing dan banyak tekanan di sekeliling mereka yang menimbulkan banyak ketakutan. Sampai akhirnya hubungan yang mereka bangun perlahan runtuh oleh hal-hal yang bahkan tidak bisa mereka duga.
Namun anehnya, setelah semua itu berakhir, mereka tidak langsung bubaran, dan pergi begitu saja dari kehidupan satu sama lain. Mereka masih saling bertanya kabar, saling mengingatkan makan atau merasa saling mengkhawatirkan diam-diam. Seolah cinta mereka berubah bentuk, tapi tidak pernah benar-benar hilang.
“Aku mau kita berpura-pura,” kata Rhevian.
“Berpura-pura?”
“Anggap saja mulai hari ini kita pacaran lagi.”
Rachel tertawa keras.
“Kamu gila.”
“Aku serius.”
“Itu namanya balikan.”
“Bukan.”
“Terus?”
“Ini lebih seperti perjanjian.”
Rachel menatapnya penasaran, Rhevian merapikan posisi duduknya.
“Mulai sekarang sampai Desember nanti, kita saling menemani.”
Rachel terdiam.
“Kita saling menyemangati.”
Ia diam lagi.
“Kita saling mendengarkan cerita.”
Rachel masih diam.
“Kita saling menyayangi seperti pasangan.”
“Rhevian.”
“Tapi tanpa tuntutan.”
Kalimat itu membuat Rachel terdiam. Tanpa tuntutan, ikatan janji yang memberatkan, kewajiban untuk memiliki, seperti platonic, pokoknya tanpa ketakutan akan kehilangan. Hanya dua orang yang sama-sama sedang berjuang untuk hidup mereka.
“Dan setelah Desember?” tanya Rachel pelan.
Rhevian tersenyum.
“Setelah Desember, biarlahTuhan yang menentukan.” Rachel menatapnya, untuk sesaat ia tidak bisa membaca ekspresi laki-laki itu.
“Aku mau bekerja keras sampai Desember,” lanjut Rhevian.
“Aku mau cari uang sebanyak yang aku bisa.”
“Kenapa?”
“Karena aku capek jadi orang yang tidak bisa memberikan apa-apa.”
Rachel menunduk, ia tahu luka itu darimana datangnya, luka yang sering disembunyikan Rhevian, karena perasaan gagal, tertinggal, dan ia selalu merasa menjadi laki-laki yang belum mampu mewujudkan impiannya.
“Kalau nanti takdir menyatukan kita,”
Rhevian tersenyum, “aku akan bersyukur.”
Rachel merasakan dadanya menghangat.
“Dan kalau tidak?”
Rhevian menatapnya lembut.
“Kalau tidak, aku tetap ingin melihatmu bahagia.”
Rachel tidak menjawab.
“Aku akan memberikan semua yang bisa kuberikan kepadamu.”
“Jangan ngomong begitu.”
“Aku serius.”
“Rhevian.”
“Aku ingin kamu bisa mengejar impianmu.”
Rachel menggigit bibirnya.
“Kalau nanti kamu menemukan seseorang yang lebih baik, seseorang yang benar-benar bisa membuatmu bahagia, aku akan menerimanya, hidup bahagialah dengannya.”
“Aku tidak suka dengar itu.”
“Tapi itu kemungkinan yang harus diterima.”
Rachel menunduk, entah kenapa matanya mulai terasa hangat.
“Aku cuma ingin Tuhan baik padamu,” lanjut Rhevian.
“Kalau kebahagiaanmu ternyata bukan aku, aku tidak mau marah sama Tuhan.”
Rachel memandangi jemarinya sendiri karena menurutnya tidak banyak orang yang mampu mencintai sampai sejauh itu, tanpa meminta, apalagi memaksa. Mencintai bahkan ketika dirinya tidak dipilih pada akhirnya nanti.
“Kenapa kamu melakukan ini?” bisiknya.
Rhevian tersenyum.
“Karena aku tahu rasanya sendirian.”
Rachel menatapnya.
“Dan aku tahu kamu juga sedang merasakan hal yang sama.”
Kalimat itu terasa langsung mengenai bagian terdalam dirinya, karena selama berbulan-bulan terakhir, Rachel berjuang sendirian. Berusaha untuk kuat di depan banyak orang, tersenyum meskipun hatinya sakit, dan berusaha bisa menyelesaikan tanggung jawabnya, agar ia terlihat baik-baik saja.
Namun setiap malam ia merasa seperti sedang mendaki gunung yang tidak pernah berujung karena begitu banyak hal yang ingin ia capai, tapi juga banyak ketakutan yang ingin ia kalahkan.
Dan sering kali, ia berharap ada seseorang yang berkata,
"Aku percaya kamu bisa."
Hanya itu, tidak perlu menyelesaikan masalahnya, mengubah hidupnya, cukup hanya percaya. Dan kini orang itu duduk tepat di depannya.
“Jadi,” kata Rhevian.
“Mulai Juni sampai Desember.”
Rachel menatapnya.
“Kita punya satu tujuan.”
“Apa?”
“Kita menjadi versi terbaik dari diri kita masing-masing.”
Rachel tersenyum.
“Cuma itu?”
“Cuma itu.”
“Tidak ada target menikah?”
Rhevian tertawa.
“Ada, maksudku bisa iya bisa tidak.”
Rachel ikut tertawa.
“Tuh kan.”
“Tapi bukan target wajib.”
“Kok bisa?”
“Karena aku tidak mau menjadikan kamu hadiah.”
Rachel terdiam.
“Aku ingin kamu menjadi orang yang memilih.”
“Memilih?”
“Iya.”
Rhevian menatapnya dengan hangat.
“Kalau nanti Desember datang dan kamu memilih aku, aku akan jadi orang paling bahagia.” Rachel merasakan dadanya bergetar dan kehangatan menjalar.
“Dan kalau tidak?”
“Aku tetap akan bahagia karena kamu berhasil menjadi orang yang selama ini ingin kamu capai.”
Rachel memalingkan wajahnya, ia tidak ingin Rhevian melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Beberapa menit berlalu, mereka mulai membicarakan hal-hal kecil tentang target pekerjaan, impian yang belum tercapai, daftar novel yang ingin dibuat, dan usaha yang ingin dicoba. Tiba-tiba masa depan tidak terasa menakutkan, karena ada seseorang yang berjalan di sampingnya. Bukan di depan, atau di belakangnya.
Hari-hari berikutnya setiap pagi mereka saling menyapa.
"Sudah sarapan?"
"Jangan lupa istirahat."
"Semangat hari ini."
Semua sapaan dengan kalimat-kalimat sederhana, tapi membuat beban terasa lebih ringan.
Ketika Rachel gagal dalam sebuah wawancara, Rhevian adalah orang pertama yang mengatakan bahwa kegagalan itu tidak mendefinisikan dirinya. Sebaliknya, ketika Rhevian kehilangan peluang bisnis yang sangat ia harapkan, Rachel yang mengingatkannya bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh satu kesempatan yang hilang.
Mereka tumbuh bersama, saling menguatkan, menjaga, meski tanpa status yang jelas, dan itu artinya tanpa kepastian. Namun justru karena itulah semuanya terasa tulus, karena tidak ada yang bertahan karena kewajiban, tapi karena memang inginnya mereka.
Waktu terus berjalan tanpa disadari, Juni berubah menjadi Juli, lalu menjadi Agustus, Oktober.
Dan suatu malam di akhir November, Rachel menemukan catatan kecil yang pernah dibuatnya, di bagian atas tertulis, Resolusi Desember dengat banyak target yang sebagiannya tercapai, lainnya tidak. Namun satu hal yang ternyata menjadi pencapaian terbesar, Rachel sekarang tidak lagi merasa sendirian.
Rachel menatap layar ponselnya, sebuah pesan dari Rhevian baru saja masuk.
"Hari ini capek?"
Rachel tersenyum.
"Lumayan."
Beberapa detik kemudian balasan datang.
"Aku bangga sama kamu."
Sesederhana itu, tapi itu membuat Rachel menangis, bukan sedih, tapi karena ia menyadari sesuatu. Selama ini ia mengira Janji Resolusi Desember adalah tentang uang, pekerjaan, pernikahan, masa depan.
Padahal bukan, Resolusi Desember sebenarnya adalah alasan, janji pada diri mereka sendiri untuk tetap berjalan ketika hidup terasa terlalu berat. Tentang dua orang yang saling meminjamkan harapan, dua hati yang memilih bertahan sampai esok, dan mungkin itulah bentuk cinta yang paling dewasa.
Bukan cinta yang berkata, "Kamu harus menjadi milikku." Melainkan cinta yang berkata, "Mari kita berjuang sampai Desember. Jika Tuhan mengizinkan, kita akan berjalan bersama. Jika tidak, setidaknya kita pernah menjadi alasan satu sama lain untuk bangkit kembali."