Disukai
0
Dilihat
274
Muazin Terakhir
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Sejak tiba di basecamp, lalu melepas penat setelah perjalanan jauh dan melelahkan, kami bersyukur lokasi KKN di tempatkan di sebuah Desa yang makmur dan warganya ramah.

Desa bernama Bojong Haur bertanahnya subur, dan memiliki pemandangan dengan kontur indah seperti dalam sebuah lukisan.


Ketika tiba waktunya shalat ashar, terdengar suara adzan lewat toa.


Tetapi alangkah heran suara adzan itu terdengar kepayahan.

Dari suara parau dan terputus-putus bisa ditebak yang adzan pasti sudah tua. Malah sempat jadi candaan kami karena dibuat geli oleh suara yang memilukan itu.


Sekalian shalat Ashar, kami pergi ke mesjid mencari tahu apa yang terjadi?

 

Dugaan kami benar. Muadzin itu seorang Kakek renta.

Ia kulihat berjalan tertatih-tatih bertumpu pada apa saja dari tempat mengambil air wudhu kembali masuk ke masjid.


Akhirnya kami tahu, Abah itulah satu-satunya muadzin di desa ini dan satu-satunya orang yang shalat lima waktu di mesjid itu.


Kemana gerangan orang-orang lain?

 

 

***

 

Itu pertanyaan kami ketika pertama kali menginjakkan kaki di kampung ini. Sekarang setelah lama larut dalam kegiatan bersama masyarakat kampung, akhirnya kami tahu duduk persoalan mengapa hanya Kakek bernama Toyib itu saja yang selalu adzan dan shalat di mesjid?

 

“Warga kampung ini terlalu sibuk melakukan pekerjaan rutin setiap hari sehingga tidak ada waktu untuk pergi ke mesjid sekedar melakukan shalat berjemaah.” Papar Ibu Iyam.

Ibu Iyam adalah pemilik rumah yang kami sewa sebagai basecamp. Sementara janda tua itu sendiri tinggal di rumah anak bersama cucu-cucunya.

 

“Sejak dini hari setiap orang sudah pergi menjemput pekerjaan masing-masing,” sambung Ibu Iyam.

 

Mayoritas pekerjaan warga di desa ini adalah memerah sapi. Ya, kampung ini dikenal sebagai bagian desa sentra penghasil susu sapi. Demikian pula sehari-hari pekerjaan Ibu Iyam.

 

Rumah panggung yang kami sewa bersebrangan jalan dengan rumah anak Ibu Iyam, sehingga kami sering menyempatkan diri melihat kesibukan Ibu Iyam mengurus sapi-sapi milik anaknya di belakang rumah itu.

Rumah anak Ibu Iyam besar dan permanen seperti kebanyakan rumah-rumah lain di kampung ini.

 

Hari ini kami pulang siang-siang setelah mengikuti kegiatan mengajar di sebuah SD dekat kantor Desa. Setelah cukup beristirahat aku mengajak siapa yang mau ikut untuk melihat ke kandang sapi Ibu Iyam. Sekalian kami gunakan kesempatan itu untuk bersilaturahmi dengan keluarganya.

 

Ibu iyam sendiri girang melihat kedatangan kami. Ia sedang memerah salah seekor sapi.

Sapi-sapi milik anaknya ada 10 ekor yang produktif sedangkan yang masih remaja ada 4 ekor.

Semua besar dan terlihat sehat. Dari ujung hidung sampai ujung-ujung kuku sapi-sapi itu bersih karena dirawat baik-baik.

Dan kandang-kandangnya pun selalu dalam keadaan bersih sehingga tidak tercium aroma kotoran yang biasa ada pada kandang-kandang ternak.

 

Kami sering ditawari susu gratis oleh Ibu Iyam yang ramah. Lumayanlah untuk perbaikan nutrisi kami, ha… ha… ha.

Jadi sebagai balas jasa, kami bantu Ibu Iyam membersihkan kandang-kandang sapi.

 

“Bu, berapa banyak air susu yang bisa diperah setiap harinya?” tanyaku.

 

“Memerah sapi sehari dua kali setiap hari dan satu sapi bisa menghasilkan 10 liter di pagi hari, 8 liter di sore hari,” Jawab Ibu yang selalu ramah menjawab sapaan kami.

 

“Lalu dijualnya ke mana, Bu?” Tanya Fathin.

 

“Ke Koperasi.” Jawan Ibu Iyam lugas.

Ibu Iyam duduk di atas bangku kayu sambil memerah. Ia mengenakan kaus tangan panjang dan celama panjang. Sepatu boot yang yang ia pakai tingginya sampai kelutut karena badannya yang pendek.

Ada tiga ember plastik di samping Ibu Iyam yang disiapkan untuk mengisi air susu perahan. Sementara sapi yang diperah diam berdiri sambil mengunyah rumput.

 

Tiba-tiba sapi di kandang sebelah tempat Fathin berdiri, buang kotoran. Crot, crot … pluk!

 

“Aaw!” teriak Fathin yang kaget kejatuhan durian runtuh.

 

Sontak momen ini menimbulkan gelak tawa melihat tingkah Fathin yang terbirit-birit pergi menjauh menghindari kotoran sapi supaya tidak mengenai roknya.

 

Aku memungut selang plastik, lalu mengarahkan air yang keluar dari selang supaya mendorong kotoran sapi yang masih hangat, hanyut ke parit.

Parit-parit yang dibuat di sekeliling kandang-kandang mengarah ke sebuah bak pengolah limbah kotoran yang nantinya berproses menjadi biogas.

 

Fathin yang sempat kaget bersyukur pakaiannya tetap bersih. Lalu bergegas datang kembali  mengambil sapu lidi unutk bantu saya mendorong kotoran sapi.

 

“Fathin, sekalian diseka bokong sapinya,” pinta Warnengsih sambil matanya menatap nakal.

 

“Idih …” sungut Fathin menolak mentah-mentah.

 

Gelak tawa kembali menyambut tingkah kikuk Fathin yang menutup hidung dengan kain kerudung yang ia kenakan.

 

Ibu Iyam tampaknya bertambah senang mendapat hiburan dari kelakuan anak-anak kota yang canggung berada di lingkungan kampung.

 

Lalu aku menyambung obrolan yang tadi sempat tertunda.

“Berapa harga per liternya, Bu?” tanyaku jadi ikut kepo.

 

“Tujuh ribu lima ratus per liter.” Ujar Ibu Iyam.

 

Wow, gumamku kagum mendengar pengakuan Ibu Iyam.

Bayangkan, berarti rata-rata bila setiap KK punya 10 ekor sapi yang produktif, minimal satu ekor sapi bisa memberikan 18 liter setiap hari, lalu susunya dijual Rp. 7.500 per liter ke koperasi pengepul. maka dihitung rata-rata setiap KK bisa mendapatkan Rp. 135.000 setiap hari.

Bisa dibayangkan lagi bila satu hari bisa dari 2 atau 3 ekor atau bisa lebih banyak lagi.

 

“Tetapi kami harus mencicil setiap satu ekor sapi Rp. 450.000 setiap bulan ke koperasi dengan pembayaran berupa setoran susu sapi ini,” sela Ibu Iyam. “Ada tiga ekor yang masih harus kami cicil.”

 

Aku mengangangguk-angguk mendengar informasi ini. Tetapi ternyata meskipun demikian mereka mampu membayarnya. Bahkan bila sudah lunas, sapi itu menjadi milik mereka.

Menurut pengakuan Ibu Iyam pula, setiap pemilik sapi di desa ini masih bisa punya uang lebih untuk di bawa pulang.

 

Oh ya, pekerjaan mengurus sapi-sapi dilakukan oleh Ibu Iyam dan anaknya. Sementara Kang Jumadi, menantu Ibu Iyam pergi ke sawah atau ke ladang.

 

“Tapi bila waktunya untuk mengantar air susu, Jang Jumadi lah yang pergi ke posko pengepul. Karena mengangkat jerigen-jerigen besi berisi air susu terlalu berat dilakukan oleh perempuan.” Kata Ibu Iyam.

 

“Kadang-kadang kalau air susu yang harus diantar sedikit, barulah diantar oleh Nyi Imas atau oleh Ibu sendiri,” tutur Ibu Iyam sambil mengganti ember yang telah penuh terisi air susu dengan ember kosong.

Melihat hal itu, rahmat cekatan mengambil air susu di ember yang sudah terisi penuh itu, lalu menuangkan isinya ke jerigen baja stainless.

 

Tanpa menunggu ditanya olehku kenapa? Ibu Iyam menjelaskan sendiri alasannya mengantar air susu ke pengepul.

“Ini kesempatan bisa ketemu dengan tetangga yang sama-sama pergi ketika kumpul di posko tempat menyetor air susu. Setelah air susu lulus melalui uji standar mutu, kami menerima pembayaran kontan dari pengepul setelah dipotong kewajiban cicilan.”

 

Teman-teman yang lain tidak tinggal diam. Kulihat Rahmat dan Warnengsih membantu ceu Imas memetik sayuran dan buah-buahan yang tumbuh di pekarangan rumah.

Sementara yang lain menemani anak-anak ceu imas bermain congklak di teras.

 

Ibu Iyam memerah susu sambil terus bercerita. Kami pun tidak merasa dibebani membantu pekerjaannya, malah jadi pengalaman menyenangkan buat kami yang anak-anak dari kota.

Kami hanya pernah mencoba ikut memerah, tetapi sebaiknya dilakukan oleh ahlinya. Karena bila dilakukan oleh kami, sapi-sapinya tidak bisa diam. Kaki sapi suka mendang-nendang karena geli diperah bukan oleh orang yang biasa melakukannya.

 

“Trus kalo sudah dapat duitnya, ke mana Bu?” Tanya Fathin lagi.

 

“Ya kami terus pulang dong, Neng.” Timpal Bu Iyam sambil tersenyum karena merasa geli dengan pertanyaan Fathin.  

 

Ya kami selalu melihat mereka pulang mengantar air susu, berjalan kaki sambil bersenda-gurau. Atau yang jaraknya cukup jauh, jerigen-jerigen besi di bawa naik sepeda motor.

Sepeda-motor sepeda-motor mereka tahun keluarannya semua baru. Kalah deh kami ada yang pajaknya sudah mati, bahkan masih ada yang pakai Fit-X.

 

Sungguh menyenangkan melihat aktivitas orang-orang di desa ini yang selalu menampakkan wajah riang, sambil bergegas kembali ke rumah masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan lain.

 

Tapi ada sayangnya. Ternyata dengan semua kegiatan itu mereka tidak bisa meninggalkan barang sebentar untuk pergi meninggalkan kampung karena untuk mengurus sapi-sapi itu yang tidak bisa ditelantarkan barang seharipun. Mereka sudah terikat oleh rutinitas.

 

Hanya di hari jumat saja yang laki-laki tidak pergi ke sawah atau ke ladang. Kesempatan di hari jumat mereka gunakan untuk beristirahat, dan bantu memerah sapi.

 

Anak-anak merekapun sepulang sekolah membantu pekerjaan orang tua. Oleh sebab itu kami tidak pernah melihat ada orang tua atau remaja kampung ini nongkrong di jalan.

Menjelang malam hari mereka selalu lebih cepat pergi tidur karena kelelahan telah beraktifitas sepanjang hari.

 

Setelah Ibu Iyam tampak selesai memerah sapi, kami berpamitan kembali ke basecamp.

Rahmat dan Warnengsih cengar-cengir sambil menenteng sayuran kangkung, terung, tomat, bahkan cabe rawit. Sedangkan buahnya ada pisang sesisir dan seikat strawbery.

 

Rupanya ceu Imas membekali mereka dengan hasil memetik tadi. Lumayan buat makanan nanti malam dan cemilannya.

Soal makan kami tidak pernah kekurangan. Walaupun kami iuran untuk bahan-bahan makanan, seringkali pulang dari sebuah kegiatan bersama warga kampung, kami dibekali hasil mereka berladang.

Bahan-bahan itu kami masak secara bergotong royong setiap hari.

 

***

 

Keramahan keluarga Ibu Iyam dan warga kampung ini membuat kami enggan bertanya lebih dalam kenapa tidak ada yang pergi shalat berjemaah ke mesjid? Selain itu warga kampung sendiri tidak banyak yang menyadari, karena mereka tahu sudah seperti itu.

Kenyataan itu membuat kami prihatin sehingga terus bertanya ke sumber lain mengapa bisa menjadi seperti sekarang?

 

Barulah setelah ada pertemuan seluruh mahasiswa yang KKN di Balai Kecamatan, kami sempat tanyakan hal ini ke Pak camat.

 

“30 tahun yang lalu, desa Bojong Haur ini merupakan desa tertinggal. Pekerjaan di sawah dan ladang tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup, sehingga banyak yang pergi meninggalkan desa mencari pekerjaan di kota atau menjadi TKI.” Papar Pak Dadang Sukendar.

 

“Kemudian ada program pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat desa.” Tutur Pak Dadang, Kepala Camat yang mengatur penempatan kami.

“Pelan-pelan dari desa tertinggal menjadi desa percontohan di kabupaten ini. Masyarakat desa menjadi giat dengan adanya perubahan yang menolong mereka dari kemiskinan.”

 

“Mengurus sapi bagi mereka yang petani tidaklah sulit, hanya perlu penerapan metoda yang lebih baik dari para juru suluh koperasi.

Dengan beternak sapi, mereka bisa hidup layak, menyekolahkan anak-anak bahkan banyak yang sampai ke perguruan tinggi. Tidak sedikit pula mampu  membeli sepeda motor atau mobil untuk menunjang usaha lainnya.”

 

“Mereka terlalu takut kembali terperosok ke dalam jurang kemiskinan untuk sekedar sehari meninggalkan pekerjaan rutin yang telah menolong mereka selama ini.” Pungkas Pak Dadang.

 

Akhirnya kami mengerti kenapa hal ini bisa terjadi di kampung yang hanya ditempuh 1 jam dari ibu kota kabupaten. Dan akhirnya kami mengerti mengapa KKN ditempatkan di kampung ini.

Desa ini terhitung berhasil dalam pembangunan ekonomi tetapi selama ini mengabaikan pendidikan agama.

 

Sebagai mahasiswa semester akhir Sekolah Tinggi Tarbiyah, kami diharapkan oleh kepala camat bisa memberikan solusi untuk masalah ini.

Walaupun  selama ini sudah rutin ada yang melakukan KKN di desa ini, tetapi rupanya baru kali ini dari  Sekolah Tinggi Agama.

 

Setelah kami mendapat pengarahan dari Pak Camat, kami kembali ke basecamp kelompok masing-masing.

Tiba di basecamp sudah sore. Lalu kami bergegas masuk rumah biar bisa segera melepas lelah.

Rumah panggung ini ada 2 kamar, dan dua-duanya diisi oleh teman-teman perempuan. Sedangkan yang laki-laki mengalah bergelatakan di lantai bambu beralaskan tikar supaya di waktu malam hari tidak kedinginan.

 

Sepeda-sepeda motor, kami parker di pekarangan selama kami tinggal di sini karena tidak ada tempat. Tetapi kami merasa aman dan dalam sejarahnya dikampung ini tidak pernah terjadi pencurian.

 

Dan, walaupun di kampung, warga di sini banyak yang mampu memasang parabola untuk televisi.

Kami beruntung, di rumah ini ada telivisi sehingga berita politik dan apa saja tetap upto dated. Apa lagi signal HP oke sehingga internet tetap ngebut.

Sambil menonton acara di TV kami mengobrol dan yang lain WA an. Tetapi Warnengsih kelelahan dan langsung tidur-tiduran di kamar.

Sedangkan kami mengobrol saja dan membicarakan kesan pertemuan tadi siang di balai Kantor Kecamatan.

 

Sebenarnya sudah banyak usaha pernah dilakukan oleh orang lain untuk mengisi kegiatan agama, tetapi tidak yang sampai mampu mengubah mengubah masyarakat desa dalam pembangunan spiritualnya.

Dari informasi teman-teman kelompok lain, ternyata di kampung-kampung lain keadaannya tidak lebih baik dari kampung Cihaur Koneng ini.

 

“Aku usul, kita adakan pengajian untuk anak-anak dan remaja. Daripada mengumpulkan Ibu-ibu dan Bapak-bapaknya, susah minta ampun.” Keluhku membuka obrolan.

 

“Ide bagus tuh! Wan.” Timpal Ika Saliha. “Tapi masalahnya yang punya Al Quran sedikit. Kalaupun ada yang masih punya, sudah lapuk, keriting dan halamannya sudah tidak lengkap.”

 

“Kayaknya kalau aku nanti pulang, akan mampir ke kampus, buat meloby Pak Slamet,” gumam Rahmat.

 

“Maksudmu, mau pinjam Al Quran milik mesjid?” Tanya Ika menegaskan.

 

“Iya, sebagai DKM Mesjid di Kampus, mudah-mudahan Pak Slamet bisa meminjamkan buku-buku Al Qurannya,” papar Rahmat.

 

“Diminta saja sekalian, masak buat sosial begini gak ngasih!” Usul Nengsih. “Lagipula selalu banyak yang nyumbang al Quran ke Mesjid itu.”

 

“Iya kita lihat saja nanti” Ujar Rahmat. “Yang penting kita harus pikirkan apa yang bisa kita lakukan saat ini.”

 

“Kita mulai saja dari pelajaran Iqra! Gimana?” usul Fathin. “Kemarin aku tawarkan ke anak-anak, mereka banyak yang antusias loh!”

 

“Setuju!” dukung Rahmat. “Kita hanya butuh papan tulis dan anak-anak, biar bawa buku tulis masing-masing.”

 

“Kalau aku, akan mengawali jadi khatib jumat saja,” usulku.

 

“Wah ide brilian tuh Wan, aku bahkan tidak terpikir ke situ.” puji Rahmat.

 

“Iwan, geto loh!” pujiku pada diri sendiri. “Gak percuma kan kalian memilihku jadi ketua kelompok.”

 

Sontak teman-teman koor, “…Uuuuuh!”

Mereka protes sambil menunjukkan ibu jari masing-masing ke bawah.

 

“Biarpun jemaahnya cuma kita-kita, jalan terus!” Ujar Rahmat mengajak kembali ke laptop.  “Mudah-mudahan nantinya ada yang ikutan.”

 

Kami sepakat menjalankan ide-ide itu mengisi kegiatan untuk warga selama 3 bulan KKN di sini.

Dan yang paling penting harus ijin dulu dengan DKM mesjid di kampung. DKM mesjid ini tidak lain adalah Abah Toyib, muadzin satu-satunya di kampung.

 

Setelah shalat Ashar, Aku, Ika dan Rahmat sebagai perwakilan teman-teman pergi ke rumah Abah Toyib.

 

Kami berjalan sambil bersenda gurau menikmati jalan setapak dari tanah merah.

Aku menghirup udara segar dalam-dalam untuk mengisi rongga dada sambil merentangkan kedua tangan.

Jalan-jalan di kampung ini selalu bersih dari sampah, terutama sampah plastik tidak pernah kami temui, padahal warung jajanan banyak.

 

Jalan ke mesjid menurun, tetapi tidak kuatir licin karena sudah ditebar dengan batu-batu kerikil sepanjang jalan.

Tangga yang kami temui, titiannya diperkuat dengan susunan batukali sehingga di musim hujan sekalipun tidak kuatir jatuh kepeleset.

 

Tidak jauh dan tidak susah mencari rumah Abah Toyib yang masih dekat mesjid.

Dari keluarga yang kami lewati, memberi petunjuk ke mana arah rumah Abah Toyib. Ternyata Ia tinggal di salah satu keluarga cucunya. 

 

Tiba di sebuah rumah yang sesuai petunjuk, kami disambut oleh Mak Kokom yang telah lama kami kenal pula. Ternyata Abah Toyib adalah Bapaknya. Dan ternyata pula, tetangga-tetangga Mak kokom masih anak-anaknya juga.

 

Kami menemui kakek itu di dalam rumah sedang duduk memandangi televisi dan menonton bersama cicit-cicitnya yang tidak terusik oleh kedatangan kami.

Mulut yang keriput dan sudah ompong tersenyum gembira melihat kedatangan kami. Kedua tangannya gemetar menyongsong kami yang menyalaminya bergantian.

 

Lalu kami duduk mengelilingi si Abah. Tetapi Abah Toyib sendiri sudah tidak bisa diajak bicara karena pikun. Apapun yang kami katakan selalu ia sambut dengan mulut terbuka tanpa ada tanggpan

Kulit keriputnya bersih dan dari pakaian yang dikenakan sama sekali tidak tercium bau “aki-aki”.

 

Selama bertemu di mesjid kami tahu Abah Toyib sudah susah diajak berkomunikasi, jadi sekarang Mak Kokom lah yang menjadi protokolnya.

 

Lalu kami menyampaikan apa maksud kedatangan kami.

 

Ibu yang telah kami kenal baik ini ternyata sudah maklum dan menyampaikan bahwa Abah Toyib selama ini senang dengan apa yang dilakukan kami shalat bersamanya di mesjid.

Ia atas nama Bapaknya mengharapkan kami mampu menyemarakan kembali mesjid itu.

Ternyata ini pucuk dicinta ulampun tiba, niat kami malah gayung bersambut.

 

Dan yang membuat kami terkejut, ternyata Mak Kokom lulusan Aliyah.

Karena malu, sejak itupula kami mengganti sebutan kepadanya semula Emak jadi Ibu.

Gak sangka dibalik sifat humorisnya, Mak… eh Ibu Kokom juga agamis dan luas wawasannya.

 

Ia pernah menyelenggarakan pengajian anak-anak dan ibu-ibu di mesjid ini. Tetapi itu dulu sesalnya.

 

Selama kami berkunjung, Mang Didin, suami Ibu Kokom tidak menampakkan batang hidungnya. Meskipun begitu kami maklum, pasti sedang mengurus sapi-sapinya.

Dan Ibu Kokom tidak menyalahkan diri mendapatkan suami yang tidak taat beragama.

Begitulah akhirnya semua itu menjadi seperti sekarang.

 

Setelah ada titik temu antara harapan Ibu Kokom dan Abah Toyib dengan gagasan-gagasan kami, lalu kami bergegas pamit dan siap-siap pergi ke Mesjid menjelang waktu magrib.

 

…..

 

Sejak malam itu yang laki-laki bergantian menjadi muadzin bahkan bergantian menjadi imam shalat. Sementara yang perempuan ikut jadi makmum.

 

Abah yang zuhud ini selalu menolak bila diminta menjadi imam bahkan tidak pernah menjadi makmum juga, karena ia sudah tidak mampu mengimbangi kecepatan shalat kami yang sebenarnya kecepatannya normal.

 

Ia selalu shalat di shaf paling belakang menyisakan shaf kosong di antara kami dan anteng dengan kecepatannya sendiri.

Setiap kami selesai melakukan shalat, orang tua itu masih di rakaat-rakaat awal. Tapi tentu saja kami maklum dengan keadaannya.

 

Dan tentu saja kami tetap hormat kepadanya.

Sebagai seorang yang sudah renta, Ia masih mampu menjaga shalat  lima waktu di mesjid. Padahal sudah lama ditinggalkan oleh orang lain.

Dan hebatnya pula, selama mengurus mesjid ini Ia tidak pernah meminta pertolongan orang lain dan semua ia lakukan sendiri dengan ikhlas tanpa pernah kami dengar mengeluh sekalipun.

 

Abah Toyib adalah sisa dari generasinya yang masih hidup dan yang masih istiqomah menjalankan shalat lima waktu setiap harinya.

 

Lalu kami pun meniru apa yang dilakukan oleh Abah, yakni menumbuhkan dulu kebiasaan shalat itu kepada anak-anak, sekalian  mempersiapkan regenerasinya. Karena perlu satu generasi lagi untuk mengubah desa ini menjadi masyarakat yang seimbang antara kemajuan ekonomi dengan kemajuan spiritualnya. []

 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi