Ali menggebrak meja dengan keras. Gelas kopi kosong langsung tumpah. Semua orang kaget melihat tingkahnya. Wajahnya merah, matanya melotot.
“Mereka juga memiliki hak untuk memilih!” katanya sambil menunjuk seseorang di depannya.
Ardi menengadah dan menunjuk balik. Tatapannya tajam. “Kau berbicara soal hak, tapi kau sendiri tak paham sifat dasar manusia!”
Teman-temannya diam melihat perdebatan kedua orang itu. Tak ada yang menyela. Tak ada yang memisahkan.
“Apa salahnya mereka mencintai sesama? Mereka hanya menuntut haknya. Mereka tidak berbuat jahat,” lanjut Ali. Tangannya tak berhenti menunjuk-nunjuk.
“Ini bukan soal hak. Ini tentang benar dan salah. Urusan mereka baik atau tidak, itu beda cerita,” timpal Ardi.
Sandi yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara. “Sudahlah, Ali. Yang benar itu pasti baik dan yang baik belum tentu benar,” katanya. Rokok mengepul tipis dari mulutnya.
“Kalian sama saja...” gerutu Ali. Dia kembali duduk dengan wajah kesal, menahan amarah di dadanya.
Sandi dengan tenang menghisap rokoknya lagi sebelum berbicara.
“Hak itu sudah ada porsinya masing-masing. Perempuan untuk laki-laki, dan sebaliknya. Logikanya jangan salah...”
Namun, Ali kembali meledak. Dia melemparkan bungkus rokok kosong ke wajah temannya itu.
“Omong kosong! Itu sama saja membatasi hak manusia...”
“Omong kosong katamu?” bentak Ardi. Nadanya tinggi saat melihat temannya dilempar bungkus rokok. “Lihat sekelilingmu. Lihat berita yang beredar. Mereka bukan hanya merusak moral, tapi juga menyebarkan penyakit!”
“Halah, kalian terlalu homofobia. Aku tahu itu. Kalian hanya iri melihat mereka bahagia. Mengaku saja.”
Sandi menenangkan Ardi yang mulai di luar kendali. Dengan nada datar dan ekspresi dingin, dia mematikan rokoknya.
“Ya, aku homofobia...” kata Sandi. Dia menatap Ali tajam sebelum melanjutkan, “Jangan salah paham. Aku tidak takut pada kalian. Aku hanya takut hukuman dan azab Tuhan datang bersama kalian...”
“Itu hanya cerita nenek moyang yang dilebih-lebihkan. Jangan terlalu banyak drama!” potong Ali. Wajahnya mengejek.
“Itu sama persis seperti yang disebutkan di kitab suci. Aku tidak melarang kalian, tapi aku sudah mengingatkan,” lanjut Sandi. Dia saling tatap dengan Ardi.
Kemudian pandangannya beralih. Sandi menatap Ali dengan tatapan dingin. Suaranya rendah, namun menggema di tengah keheningan.
“Aku bukan takut pada manusia seperti kamu, Ali. Aku takut semua yang kamu sebut ‘hak’ ini berubah menjadi malapetaka.”
Ali membeku. Tangannya gemetar. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik, mendorong kursi dengan kasar hingga nyaris jatuh.
Dia menatap Sandi lama. Mulutnya terbuka, tapi tak ada kata yang keluar. Ali hanya menggeleng pelan, lalu berjalan pergi. Lampu jalan menyinari punggungnya yang menjauh di trotoar. Bayangannya memanjang dan perlahan hilang.
Sementara itu, dua orang masih saling tatap dalam diam di atas meja yang berantakan. Tak ada kata lagi yang terucap, hanya tinggal keheningan yang tersisa malam itu.