Malam turun perlahan di Kampung Cipanganggiran. Kabut tipis mulai turun dari perbukitan, menyapu jalanan tanah yang membelah sawah-sawah gelap di pinggir kampung. Lampu rumah penduduk satu per satu padam, menyisakan beberapa cahaya temaram dari jendela kayu yang belum ditutup sempurna.
Di ujung kampung, berdiri sebuah pos ronda kecil beratap seng. Bangunannya sederhana. Dindingnya hanya setengah badan dengan papan-papan tua yang mulai lapuk dimakan hujan. Sebuah lampu bohlam kuning menggantung di tengah langit-langit, berkedip pelan karena aliran listrik kampung yang sering naik turun.
Di depan pos, api unggun menyala kecil. Asap tipisnya melayang ke udara dingin malam. Empat orang duduk melingkar di dekat api itu.
Dadang, Oman, Tayat dan seorang bapak berusia sekitar lima puluhan bernama Parman. Mereka sedang ronda malam.
Tumpukan kayu terbakar pelan di sela bara merah. Aroma singkong bakar memenuhi udara, bercampur bau asap dan embun malam. Sementara di atas meja kayu kecil, kartu gapleh berserakan.
“Heh, Tayat! Jangan curang!” seru Dadang sambil tertawa.
“Curang gimana? Kau saja tidak bisa main,” balas Tayat cepat.
Oman terkekeh kecil sambil menyelipkan rokok ke bibirnya. “Dari tadi kau kalah terus Dadang. Nyalahin orang terus.”
Dadang mendecak. “Bacot!. Nih lihat, sekarang turun turun batu enam.”
Kartu dilempar ke meja. Tak lama terdengar suara Parman.
“Singkongnya sudah matang...”
Bapak itu mengambil sepotong singkong bakar dengan ranting kecil. Kulit hitamnya terbuka memperlihatkan isi putih mengepul.
Dadang langsung mengambil satu. Uap panas naik saat singkong dibelah. Mereka mulai makan sambil terus bermain gapleh.
Malam terasa biasa. Normal. Hanya suara jangkrik. Kadang anjing menggonggong jauh di ujung kampung. Kadang terdengar suara bambu bergesekan diterpa angin. Tak ada yang aneh. Sampai api unggun itu tiba-tiba bergerak.
Wuusshhh…
Angin dingin datang mendadak. Bara merah beterbangan. Api mengecil. Asap bergulung ke arah jalan gelap di depan pos ronda.
Ketiga pemuda itu spontan mengangkat wajah. Parman yang sedari tadi diam ikut menoleh. Tiba-tiba terdengar suara itu.
“aaauuuuuuuuulll....”
Pelan. Jauh. Seperti berasal dari balik bukit.
Tangan Dadang berhenti di udara. Kartu gapleh menggantung di jemarinya. Tayat menelan ludah. Oman perlahan menoleh ke arah jalan gelap.
Tak ada siapa-siapa. Hanya kabut dan pohon bambu yang bergerak perlahan.
“Suara apa itu?” bisik Tayat.
Tak ada yang menjawab. Mereka saling pandang. Kemudian suara itu terdengar lagi.
“Aaauuuuuulll....”
Kali ini lebih jelas. Lebih dekat.
Dadang mulai menegakkan badan. Oman memicingkan mata. Telinga mereka bergerak, seperti mencari arah suara.
Parman mendadak diam. Wajah bapak itu berubah. Sorot matanya kosong. Api unggun kembali bergoyang diterpa angin dan aungan ketiga terdengar.
“AAAUUUUUULLL!!!”
Keras. Nyaring. Panjang.
Seperti tepat berada sekitar sepuluh meter dari pos ronda. Suara itu menggema di antara pepohonan. Durasinya lama. Hampir lima belas detik.
Bulu kuduk mereka berdiri. Dadang refleks menjatuhkan kartu. Tayat langsung berdiri. Sementara Oman merasakan hawa dingin merambat dari tengkuk sampai punggungnya.
Parman ikut berdiri. Tapi bukan karena kaget. Wajah bapak itu terlihat pucat. Dia menatap lurus ke arah jalan gelap. Lalu tanpa bicara sepatah kata pun dia berjalan pergi.
“Kemana, Pak? Mainnya belum beres!” seru Tayat.
Parman tak menjawab. Langkahnya tetap pelan. Tak menoleh. Tak berhenti. Hanya terus berjalan masuk ke dalam gelap.
“Wah... padahal singkongnya baru mateng,” gumam Dadang.
Namun Oman masih memandang ke arah Parman pergi. Ada sesuatu yang salah. Karena selama ini, Parman terkenal tidak pernah takut apa pun.
***
Pagi itu masih diselimuti kabut tipis. Matahari baru saja muncul di balik bukit, cahayanya yang kuning pucat menyusup di antara daun-daun pisang yang basah embun. Udara dingin menusuk tulang, bercampur bau tanah basah dan keringat pagi.
Tiga pemuda itu sudah bekerja sejak subuh, memotong rumput liar di sela-sela pohon durian. Parman datang terlambat, seperti biasa.
Tubuhnya yang kurus berjalan pelan, mata agak cekung, seolah semalaman tak benar-benar tidur. Dia mengambil sabit tanpa banyak bicara, tapi ketiga pemuda itu langsung merasakan ada yang berbeda.
Tiba-tiba Tayat berhenti memotong. Dia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju.
“Tadi pagi orang kampung sebelah lewat. Katanya tiga ekor domba mati semalam. Bukan mati biasa. Lehernya koyak parah, perutnya terbuka, isi perutnya dimakan. Seperti diserang binatang buas. Tapi anehnya, tidak ada jejak kaki besar di tanah.”
Hening sejenak. Angin pagi berhembus pelan, daun-daun bergoyang pelan seolah ikut mendengarkan.
Tayat menatap Parman tajam. “Pak Parman... Kemarin malam kenapa pergi tiba-tiba?”
Parman berhenti mengayun sabit. Dia menunduk, jemarinya menggenggam gagang kayu itu terlalu erat. Suaranya rendah, hampir hilang ditelan angin.
“Aku takut,” katanya pelan. “Suara itu… aku sudah pernah dengar. Dulu. Aku pulang karena takut kalian ikut mendengar terlalu lama.”
Dia mengangkat wajah. Matanya gelap, penuh sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata biasa.
“Itu bukan suara biasa. Itu suara AUL.”
Ketiga pemuda saling pandang. Nama itu menggantung di udara seperti kabut yang tak mau pergi.
Parman tidak menjelaskan lebih lanjut. Dia hanya berkata, “Nanti siang kita ke Abah Kurdi. Lebih baik beliau yang cerita.”
***
Siang itu panasnya terasa berat. Mereka berempat duduk di beranda rumah panggung Abah Kurdi. Lelaki tua itu berusia tujuh puluhan, kulitnya gelap keriput, matanya tajam meski sudah sayu.
Dia mendengarkan cerita ketiga pemuda dengan tenang, sesekali mengangguk pelan. Ketika mereka selesai, Abah menghembuskan napas panjang.
“Aku juga dengar semalam,” katanya pelan. Suaranya serak, seperti daun kering yang bergesek. Abah Kurdi menatap mereka satu per satu, tatapannya seolah menembus sampai ke tulang.
“AUL. Makhluk itu namanya AUL. Tubuhnya seperti manusia. Tapi kepalanya anjing. Kepalanya menghadap ke belakang. Dan dia berjalan mundur. Selalu mundur. Kalau kau lihat dia dari depan, seolah dia sedang menjauh. Padahal dia sedang mendekat.”
Udara di beranda terasa lebih dingin. Seekor ayam di bawah rumah berhenti berkokok.
“Dulu… ada orang yang mencari ilmu hitam. Ilmu yang seharusnya tidak boleh disentuh. Tapi dia tak sampai. Jiwa dan raganya terbelah. Jadilah dia AUL. Setengah manusia, setengah siluman.”
Abah diam sejenak. Lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah, nyaris berbisik.
“AUL punya tiga suara. Kalau aungannya terdengar dekat artinya dia masih jauh. Kalau terdengar jauh berarti dia sudah sangat dekat.”
Sejenak lelaki tua itu berhenti, menyalakan rokok lintingnya.
“Lama aungannya pun punya arti. Pendek, dia hanya lewat. Sedang, dia memberitahu, ‘Aku ada di sini. Aku tidak berniat jahat malam ini.’ Tapi kalau aungannya panjang, maka dia sedang berburu atau sedang meminta tumbal.”
Abah Kurdi menatap ke kebun di depan rumah. Angin berhembus pelan, membawa bau tanah dan sesuatu yang asing. Sesuatu yang tak seharusnya ada di siang bolong.
“Semalam, aungannya panjang sekali.” dia memejamkan mata sebentar, seolah masih mendengar gema suara itu di kepalanya. “Semoga kalian tidak mendengarnya lagi...”
***
Seminggu berlalu sejak malam aungan pertama. Kampung Cipanganggiran kembali tenang, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Tiga ekor domba yang mati sudah dikubur, bekas darah di tanah sudah kering. Orang-orang mulai sibuk lagi dengan sawah dan kebun.
Malam Jumat itu, angin lebih dingin dari biasanya. Dadang, Oman dan Tayat kembali bertugas ronda. Parman tidak datang. Katanya sakit. Tak ada yang memaksa.
Sekitar pukul sepuluh malam, mereka selesai patroli mengelilingi kampung. Kembali ke pos ronda, api unggun sudah menyala besar. Kayu-kayu kering berderak, percikan api naik tinggi tiap kali angin menyapu.
Mereka duduk melingkar seperti biasa. Kartu gapleh dibagi. Tawa mereka pecah keras, seolah ingin mengusir bayangan yang sebenarnya masih mengintai.
“Eh, Oman! Kemarin kau bilang mau nikah sama Teh Siti. Berani tidak?” canda Dadang sambil tertawa ngakak.
Oman nyengir lebar, “Berani lah. Asal kau yang tanggung maharnya.”
Tayat ikut tertawa sambil membuang kartu. “Dasar goblok kalian berdua.”
Api unggun menari-nari. Cahayanya kuning jingga menyapu wajah mereka yang penuh keringat. Malam terasa biasa lagi.
Tiba-tiba angin kencang datang.
Wuussshhh...
Daun-daun bambu bergemeresak keras. Api unggun hampir padam, tapi mereka tetap tertawa. Terlalu asyik.
Jam menunjukkan tepat tengah malam.
“AAAUUUUUULLL!!!”
Aungan itu terdengar kembali. Keras. Lama. Menggema di seluruh perbukitan. Lebih dahsyat dari minggu lalu.
Tawa mereka langsung lenyap. Seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik kerongkongan.
Tayat menelan ludah. Suaranya bergetar, “Suaranya dekat. Berarti, dia masih jauh.”
Oman sudah berdiri setengah badan, wajahnya pucat. “Kita pulang saja, yuk.”
Dadang menggeleng keras, meski tangannya gemetar. “Tidak bisa, Man. Setelah domba-domba itu mati, kita tidak boleh pergi sebelum subuh. Kalau ada apa-apa lagi, kita yang disalahkan. Duduk. Main lagi.”
Mereka duduk kembali. Kali ini tak ada suara tawa. Hanya bunyi kartu yang ditimpa ke meja kayu yang kering, keras dan tegang. Keringat dingin mengalir di punggung mereka.
Tiba-tiba, dari balik api unggun yang besar, terdengar aungan kecil. Sangat pelan. Tapi sangat panjang.
“aaaaaaauuuuuullllll……”
Suara itu seperti bisikan maut yang merayap di telinga. Waktu seolah berhenti. Udara terasa berat. Napas mereka tertahan.
Mereka merasakan kehadiran itu. Tepat di depan mereka. Di balik tirai api.
Tayat memberanikan diri menoleh. Perlahan. Lehernya terasa seperti karatan. Dia melihatnya.
Sosok tinggi kekar berdiri tegak di balik api. Tubuh manusia berotot, tapi kepalanya anjing hitam besar menghadap ke belakang. Dia memakai celana dari kulit berbulu kasar yang basah oleh sesuatu yang lengket. Bau amis darah dan daging busuk menyengat hingga ke pos.
AUL tidak bergerak. Tapi dia memutar kepalanya.
Krek… krek… krek…
Bunyi tulang leher bergeser terdengar jelas, mengerikan.
Kini wajah anjing itu menghadap mereka. Moncong panjang penuh liur bercampur darah. Gigi taring kuning panjang menyeringai. Matanya menyala merah seperti bara. Napasnya berat, beruap di udara dingin.
Ketiganya membatu. Tubuh tak bisa digerakkan. Mulut tak bisa berteriak. Hanya mata yang bisa bergerak. Penuh ketakutan murni.
AUL melangkah maju. Menembus api unggun seolah itu hanya asap. Api tidak membakarnya.
Dia mendekat. Mengendus satu per satu. Napas panasnya menyentuh kulit mereka.
SRAKKK!!!
Cakar tajam menyobek pipi Tayat. Darah menyembur deras. Potongan daging jatuh ke tanah. Tayat tak bisa menjerit. Hanya air mata yang mengalir deras dari matanya.
CRAKKK!!!
Dada Oman terkoyak dalam. Bajunya robek lebar, tulang rusuk terlihat sekilas. Darah mengalir seperti air hujan di atap seng.
CLEEBB!!!
Paha Dadang ditusuk sampai tembus ke lantai papan pos. Darah menggenang di bawah kakinya. Rasa sakitnya luar biasa, tapi tubuhnya tetap kaku seperti patung.
AUL mengaum puas. Rahangnya terbuka lebar, tidak wajar. Bau bangkai menyembur keluar.
Dia mendekat ke Tayat. Kepala pemuda itu masuk ke dalam mulut AUL. Gigi tajam menekan kulit kepala. Dia merasakan tekanan mengerikan. Tulang tengkoraknya seperti mau retak. Darah hangat mengalir ke matanya. Dia sudah pasrah. Inilah akhirnya. Tiba-tiba...
SLASHHHH!!! KRAKKK!!!
Golok perak melesat dari kegelapan. Menebas leher AUL dengan bunyi yang basah dan keras. Kepala anjing itu terlepas dari mulut Tayat dan terpental ke api unggun. Tubuh AUL ambruk berlutut.
Abah Kurdi muncul dari balik pos, napasnya tersengal. Wajah tua itu penuh keringat dan amarah yang tertahan.
“Pergi kau, Daya!” bentaknya parau. “Berapapun tumbal yang kau makan, kau tak akan pernah jadi manusia lagi!”
AUL yang kepalanya sudah terbakar di api menggeram. Suaranya berubah. Bukan aungan binatang lagi, melainkan suara manusia yang tersiksa.
“Kakak… aku tak punya pilihan… Empat puluh tahun aku tersiksa… aku ingin jadi manusia lagi…”
Abah Kurdi terdiam sejenak. Suaranya bergetar pelan, “Daya… adikku. Caramu mencari kekuatan itu salah. Kau membuat perjanjian dengan siluman anjing. Inilah akibatnya.”
Abah Kurdi mengangkat golok perak dengan kedua tangan. Cahaya api memantul di bilahnya seperti kilat perak. Tapi sebelum golok itu turun...
“AAAAAUUUUUULLLL!!!!”
Aungan terakhir itu luar biasa. Tanah pos ronda bergetar hebat. Atap seng berderit. Angin kencang menderu seperti badai. Api unggun padam seketika. AUL lenyap. Hanya meninggalkan bau amis darah dan asap.
Ketiga pemuda langsung ambruk. Tubuh mereka bisa bergerak lagi.
Tayat tergeletak dengan pipi sobek dalam, darah terus mengalir. Oman memegangi dada yang menganga, napasnya pendek-pendek. Dadang menjerit kesakitan sambil menekan paha yang tembus. Darah mereka bercampur di lantai pos ronda.
Abah Kurdi berdiri diam, golok masih di tangan. Wajahnya basah. Entah keringat atau air mata. Dia menatap kegelapan perbukitan di mana AUL menghilang. Lalu dia berbisik, suaranya hampir tak terdengar.
“Empat puluh tahun aku tahan kau di hutan itu, Daya… tapi malam ini kau sudah mulai lagi.”
Abah Kurdi menutup mata sebentar. Napasnya berat. Di kejauhan, dari balik kabut tebal perbukitan, terdengar aungan keras. Bukan aungan lapar. Bukan aungan marah. Melainkan aungan yang menunggu.
Abah Kurdi membuka mata. Tatapannya dingin dan kosong. Dia tahu. Malam-malam berikutnya, bukan hanya tiga pemuda itu, tapi semua orang akan mendengar aungan itu lagi. Dan kali ini, tidak akan ada yang selamat.
“AAAAAAAUUUULLLLL!!!”