Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
11
Badut Biru
Drama

Cat biru ini mulai mengeras, menarik kulit pipiku hingga terasa kaku seperti semen kering. Aku berdiri di depan cermin toilet yang penuh uap, menatap sepasang mata yang kehilangan binar di balik lingkaran riasan elektrik. Namaku Arlan, tetapi malam ini aku adalah properti. Aku adalah kebisingan yang dipesan Shinta untuk mengisi kekosongan di sela tawa tamu-tamunya.

Aku gemetar saat memandang bayangan jenaka yang tengah mengejar cinta. Baju kebesaran, muka layaknya karikatur. Kaki memakai sepatu kendur, mulut pelan-pelan menghitung mundur.

Demi Shinta. Dia tahu aku rela melakukan apa saja untuknya. Dia juga tahu aku masih menyimpan perasaan yang dia anggap sebagai asuransi emosional.

Entah. Satu sisi, aku berharap bahwa aku terlalu jauh berprasangka. Bisa saja dia sedang melunakkan hatinya untukku. Dia peduli, mengundangku, meski dengan cara yang tak biasa.

Huh! Semoga.

Gelas-gelas kristal berdenting di ruang tengah. Aku menuju ruang utama pesta dengan langkah tersendat. Datang bukan sebagai tamu, melainkan memenuhi tuntutan peran sebagai pecundang yang menghibur.

Shinta berdiri anggun, terbalut gaun sutra yang berkilau. Dia tertawa bersama teman-temannya yang necis, sementara aku memamerkan wajah yang dilukis tebal. Tidak ada atraksi menawan yang bisa kutunjukkan. Hanya ada mimik yang dipaksakan sambil menjatuhkan diri ke lantai berkali-kali untuk memicu tawa mereka.

Setiap kali tubuhku menghantam marmer yang beku, aku merasa ada bagian dari jiwaku yang retak. Aku memberikan waktu, tenaga, bahkan sisa-sisa harga diri yang masih kupunya. Namun, di mata Shinta, aku tetaplah sebuah latar belakang yang statis. Aku adalah warna biru yang dia butuhkan untuk membuat dunianya terlihat lebih cerah.

"Arlan memang selalu totalitas," ucap Shinta sambil menyesap minumannya. Tawa mengguruh ke udara, menyebut namaku. Semua orang akhirnya tahu siapa di balik kostum lucu ini. Padahal, kukira dia akan menyembunyikan identitasku.

Pertunjukkan usai. Cukup singkat dalam hitungan waktu, cukup lama dalam menahan rasa malu.

Lampu ruang pesta meredup saat lilin ulang tahun dinyalakan. Aku berdiri di pojok ruangan, memegang nampan kosong, menyaksikan Shinta tersenyum puas dikelilingi orang-orang yang hanya mengenalnya saat dia bahagia.

Sesak naik ke tenggorokanku. Aku tidak bisa lagi sekadar menjadi dekorasi. Aku butuh dia melihatku sebagai manusia dengan rasa yang tulus.

Aku menunggu, duduk bersila dalam remang. Sesekali siluet mereka memanjang, menutupi pandanganku, mengubahku menjadi hitam.

Setelah satu per satu tamu beranjak pulang, aku menghampirinya. Kulepas wig kribo sintetis yang gatal, membiarkan rambut asliku yang lepek terlihat kontras dengan wajah biruku yang rusak.

"Shinta, aku mau bicara serius sama kamu," ucapku, sedikit gemetar, menahan nada supaya tak bercampur amarah.

“Aku sudah transfer sesuai jumlah yang kita sepakati, walau sebenarnya aku tidak puas menikmati hiburan yang kamu berikan.” Dia memalingkan muka, dan mengulurkan tangan ke arah pintu keluar.

Maaf. Aku tak ingin malam menggantung siangku, lagi dan lagi.

“Lihat aku!” suaraku parau, pecah, meluruh di antara hening yang mencekik. "Aku pikir aku bukan sekadar datang untuk tampil, tapi juga mendapatkan undangan.”

Shinta menghela napas panjang. Desahannya merembes ke udara, memecah dingin yang sedari tadi bersemedi di atas kepalaku. Aroma parfum mawarnya yang tajam berkelindan dengan bau apek tubuhku.

“Kenapa kamu lakukan ini? Selama ini, aku turuti semuanya: menaruh bunga yang berbeda setiap hari di tempat dudukmu, membawakan pasir dari pantai yang kamu tunjuk, dan mengubah penampilanku sesuai permintaanmu tanpa kamu tahu rasanya jadi aku. Aku sudah korbankan segalanya.” Air mataku menyedak keluar. “Sekarang, aku minta kepastian. Katakan sesuatu yang nyata. Katakan bahwa semua yang kulakukan punya arti bagimu."

Shinta terdiam di ambang pintu. Dia tidak tampak marah atau merasa menang. Dia justru menatapku dengan sorot mata yang sangat letih.

"Arlan, justru karena kamu selalu bersedia menuruti kemauanku, aku memintamu menjadi badut malam ini," ucapnya pelan. Suaranya terdengar lembut dan tidak mengandung kebencian. "Aku ingin kamu sadar betapa konyolnya posisimu. Aku tidak pernah meminta pengabdianmu yang berlebihan. Kamu yang membuatnya demikian.”

“Aku? Sekarang kamu mau bilang aku yang bodoh?” Suaraku meninggi. “Siapa yang memberiku harapan? Siapa? Hah?”

“Setiap kali kamu berkorban untukku, apa yang kamu rasakan dalam dirimu? Apakah kamu merasa berhasil? Tidakkah kamu berpikir bahwa aku sengaja mempermainkanmu?” Tangannya yang halus bergerak ragu, hampir menyentuh bahu kostum biruku, tetapi kemudian ditariknya kembali.

“Aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri,” seruku penuh emosi.

“Tapi aku tidak. Aku sudah katakan itu dari awal, tapi kamu terus memaksaku untuk menjadi jahat.” Dia berteriak. Pipinya basah. "Cintamu itu membuatku tercekik. Dan aku memanggilmu ke sini agar kamu merasa asing, agar kamu muak melihatku tertawa atas segala pengorbananmu, hingga akhirnya kamu memutuskan untuk pergi. Aku ingin kamu berhenti mengejarku."

Shinta berbalik, melanjutkan langkahnya, lalu menutup pintu. Aku membeku dihujani kata-katanya. Pahit, perih, tetapi tak sepenuhnya bisa disangkal.

Ya, benar. Pengorbananku bukanlah bentuk cinta yang mulia, melainkan pemaksaan yang membuat dirinya terkekang. Aku menolak menerima kenyataan. Aku terlalu naif, berpikir bahwa biru adalah cinta, padahal ia hanya tanda akhir dari semua yang kuserahkan.

Kuputuskan menjauh dari rumahnya, menyeret langkah di atas trotoar yang mulai basah oleh rintik hujan. Langit malam seolah tahu bahwa riasan ini butuh dibilas.

Hujan pun turun lebih deras, menghantam wajah biruku tanpa ampun. Aku berhenti di bawah lampu jalan yang berkedip, menengadahkan kepala, membiarkan butiran air melarutkan lapisan minyak yang menyumbat pori-pori.

Cairan berwarna biru mengalir, melumuri leher dan kain satinku. Ia terus turun, menggenang ke aspal hingga tampak seperti darah dari luka yang sudah lama membusuk.

Aku menggosok pipiku. Warna itu mencoreng jemari, menyelipkan noda di bawah kuku. Dua tahun aku memelihara rasa yang ternyata egoku sendiri.

Sudah. Aku kalah. Aku salah dalam memahami cinta, diriku, dan dirinya.

Bayangan asliku merekah dari sisa warna yang memudar. Pucat, lelah, dan tidak tahu diri.

Aku merogoh saku, mengeluarkan rambut palsu yang kuyup. Aku menjatuhkannya begitu saja di pinggir jalan. Lampu mobil yang lewat menyinari tubuhku sekejap, lalu meninggalkanku dalam kegelapan lagi.

Aku terus berjalan, membiarkan air dari langit membersihkan segalanya. Mungkin esok aku bisa menjadi peran utama dengan cerita yang kubuat, bukan lagi sebagai badut di cerita orang lain.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi