Dunia mencintai aroma yang nyaman.
Namun kejujuran sering tumbuh dari sesuatu
yang mereka sebut: BUSUK.
Dunia mengenalku hanya karena reputasiku yang sudah tersohor di semesta wewangian. Ke mana pun aku melangkah, mereka seakan menghirupku dengan rakus, lalu memujaku seolah aku adalah tiket menuju surga.
Namun, mereka tidak tahu betapa merananya aku di balik itu semua; aku adalah tawanan dari ekspektasi dunia akan kesucian, di mana takdir seakan melarangku untuk melanggar aturan sedikit pun.
Ada kalanya, aku ingin menjadi seperti Rosa. Dia memang harum, tapi tak semua orang bisa melangkah masuk ke ruangnya. Dia begitu indah, namun tak setiap tangan berani menjamah tubuhnya yang berpagar duri.
Hingga di perbatasan semesta lain, aku menemukan dia. Dia yang selalu mengenakan jaket lusuh berwarna merah hati. Warna yang bagiku serupa luka yang menganga.
Titan, begitulah mereka memanggilnya. Dunia meludah setiap kali namanya disebut; mereka menutup hidung dan memalingkan muka karena dia dianggap membawa aroma maut, bau busuk yang seolah dimuntahkan langsung dari kerak neraka.
Awalnya, aku mendekat hanya karena rasa penasaran. Namun di sana, aku justru jatuh cinta karena satu alasan sederhana: hanya dia yang enggan menghirupku. Saat semua orang di dunia ini berusaha mencuri wangi dari kulitku, Titan justru memilih menahan napasnya.
"Pergilah, Jasmine!" suaranya berat, serupa gemuruh yang tertahan di bawah tanah. "Wangimu terlalu indah. Aku tidak ingin kebusukanku mencurinya darimu."
Di titik itulah, hatiku hancur berkeping-keping oleh sebuah kesadaran pahit. Dunia mencintaiku karena apa yang bisa kuambilkan untuk mereka—ketenangan dan keharuman yang memuaskan ego mereka.
Namun Titan mencintaiku dengan cara menjauh. Dia takut kehadirannya akan menodai warna putihku. Dia adalah satu-satunya makhluk di semesta ini yang memikirkan keselamatanku, jauh di atas keinginannya sendiri untuk memilikiku.
"Aku tidak ingin menjadi indah lagi, Titan," bisikku suatu malam di koridor sempit itu. Suaraku parau, membawa beban yang selama ini kupendam sendiri.
"Aku lelah dipuja oleh orang-orang yang hanya ingin memetikku."
"Kau diciptakan memang untuk dipuja, Jasmine. Sebuah keindahan yang sempurna." jawabnya. Suaranya bergetar hebat, aku tahu dia sedang berjuang mati-matian menahan diri agar tidak menyentuhku.
"Tidak," jawabku teguh, menatap matanya yang kelam. "Aku diciptakan untukmu. Karena hanya kau yang tahu bahwa di balik wangi ini, aku juga bisa layu. Hanya kau yang tidak memintaku untuk tetap abadi."
Kegundahanku memuncak saat aku menyadari sebuah kenyataan pahit: kami tidak akan pernah bisa bersatu tanpa ada yang dikorbankan. Jika aku mendekat, udara di sekitarku akan berubah menjadi racun. Jika dia menyentuhku, tubuhku akan terbakar oleh hawa panas yang menguap dari tubuh besarnya.
Tapi pilihanku sudah bulat. Aku memilih rasa cinta yang ganjil dan terlarang ini.
Aku berlari ke arahnya, menabrakkan diriku pada jaket merahnya yang lusuh dan kasar. Detik itu juga, aku berhenti bernapas untuk orang lain, dan mulai menghirup kebusukannya sebagai aromaku sendiri.
Udara di sekitar kami mendesis. Seketika terjadi perang hebat antara dua zat yang menolak untuk melebur. Di lubang hidungku, wangiku dan baunya saling bertabrakan menghantam batas. Aroma ini memang semestinya tidak akan pernah bisa menyatu, menciptakan rasa pening yang luar biasa di kepalaku.
Aku semakin mencengkeram dengan sisa tenagaku, merasakan suhu tubuhnya yang membara menghanguskan kulit porselenku. Aku melihat warna putihku berubah menjadi cokelat legam dalam hitungan detik.
Kami adalah kehancuran yang paling indah.
***
Di semesta yang lain—semesta yang selama ini memujaku—kerumunan manusia berdiri mengelilingi pagar pembatas dengan wajah-wajah yang mengernyit. Kamera-kamera ponsel diarahkan, merekam sebuah anomali yang mereka anggap sebagai cacat alam.
"Sayang sekali," gumam seorang pria sambil menutup hidung dengan saputangan mahal, "melati secantik ini harus mati dengan cara yang begitu menjijikkan. Busuk, menghitam, dan terjepit di sana."
"Benar-benar merusak pemandangan," timpal yang lain, memalingkan muka dari pemandangan bunga yang sedang mekar itu.
"Di Kebun Raya yang seluas ini, kenapa melati itu tidak tumbuh di tempat yang lebih bersih saja?" tanya pengunjung yang lain sambil terburu-buru meninggalkan kavling Bunga Bangkai Raksasa (Titan Arum).
Mereka terus menghakimi, membicarakan betapa malangnya nasib sang bunga putih, yang selalu mereka sebut melati.
Mereka tidak akan pernah mengerti bahwa di dalam kebusukan yang mereka kutuk, aku akhirnya bisa berhenti berpura-pura.
Mereka hanya melihat bangkai yang hancur, namun tidak melihat bahwa untuk pertama kalinya, melati itu tidak sedang layu karena dipetik, melainkan sedang beristirahat.
Akhirnya ia telah menemukan persinggahan terakhirnya.
Ya, sebut saja aku Melati.
Sekuntum wangi yang akhirnya menemukan jati dirinya dalam pelukan kematian.