Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
8
High Quality Jomblo
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Langit pagi ini terlihat lebih sendu, seperti enggan beranjak dari balik kelambu. Pada saat seperti ini, biasanya ia sudah merona bersemu, mengenakan gaun biru bersemburat jingga-ungu, bersiap menyambut hangatnya mentari tanpa malu-malu. Mungkinkah mereka saling merajuk hari ini?

Aku mengamati pintu-pintu kamar kos yang masih tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda ataupun suara penghuninya yang hendak keluar kamar. Koridor pun terasa lebih sepi dari biasanya.

“Hari yang aneh,” batinku, sambil bergegas masuk ke kamarku lagi.

Firasatku mengatakan bahwa sebentar lagi akan ada air mata yang tumpah sejadi-jadinya. Entah yang turun dari langit atau dari penghuni di bawahnya.

Sebelum itu terjadi, aku segera bergegas mengemas tas kerja. Mengantisipasi drama kemacetan ibu kota ketika hujan turun di pagi hari. Meskipun rasa kantuk masih mendera, itu bukan penghalang untuk segera berangkat ke kantor.

Sudah sebulan ini cuaca Jakarta sangat terik. Entah kenapa, keinginanku semalam untuk mencuci mobil terasa begitu kuat. Debu jalanan yang akhir-akhir ini terasa kian menebal membuat mobil putihku bak kanvas cokelat yang siap diusap jari-jari nakal.

Memang benar adanya, mencuci mobil adalah ritual paling ampuh mengumpulkan awan kelabu untuk saling beradu mekanik. Baru setengah perjalanan, hujan turun dengan derasnya. Bakatku memprediksi cuaca kali ini tidak boleh diragukan lagi.

Terjebak banjir dan macet adalah kombinasi sempurna untuk melejitkan usia normal manusia. Menciptakan sahutan klakson pemicu kerut di wajah, lonjakan tekanan darah, dan sumpah serapah. Entah apa yang digerutu dari jalanan yang semakin membuntu?

Guyuran hujan pagi ini tidak hanya berhasil mengundang kemacetan, tetapi juga menggoda kelopak mataku agar saling mengatup berhimpitan. Penyapu kaca mobilku terasa memusingkan pandangan. Semakin diamati gerakannya, semakin mirip lambaian tangan yang merayuku untuk tertidur.

Sambil menepuk-nepuk kedua pipi, aku mencoba mengusir rasa kantuk yang hadir tanpa kompromi. Mengemudi sambil tertidur sungguh membahayakan. Sebisa mungkin aku bertahan meskipun hanya berjalan perlahan.

Hampir setengah jam aku tertahan di tengah kemacetan. Menyesap perlahan kopi hitam di tumbler yang kubawa dari kos. Menghirup aromanya yang mengepul dan mengembun di kedua sisi kacamataku.

“Aku harus berangkat dan pulang dengan selamat,” gumamku dalam hati, sembari menunggu semuanya mereda.

Kantuk, macet, dan hujan.

Namun anehnya, semakin mendekati kawasan kantor, jalanan justru terasa lebih longgar dari biasanya. Tidak ada antrean kendaraan di gerbang parkir. Bahkan portal masuk terbuka tanpa penjaga yang tergesa seperti hari-hari kerja biasanya.

Aku melambatkan mobil.

Halaman parkir tampak lengang. Terlalu lengang.

Aku mematikan mesin, diam sesaat di bangku kemudi, lalu melihat sekeliling lagi untuk memastikan tidak ada yang terlewat.

Tidak ada payung-payung berlari. Tidak ada orang menenteng laptop sambil setengah berlari kecil. Tidak ada suara pintu mobil ditutup tergesa.

Satpam keluar dari posnya sambil membawa payung besar berwarna hitam.

“Selamat pagi, Pak,” sapanya santai. “Hari Sabtu masih ada kerjaan, Pak?”

Aku terdiam sebentar. “Oh iya, kebetulan ada yang tertinggal di kantor, Pak,” jawabku tergagap, belum siap memberikan alasan yang masuk akal. Entah apa yang tertinggal—jiwaku, mungkin.

Kupandangi jam di dashboard. Kupandangi lagi gedung kantor yang masih setengah tertutup tirai hujan. Kupandangi lagi diriku sendiri di kaca spion.

Tidak ada yang menanyakan aku hendak pergi ke mana. Tidak ada yang mengingatkan hari apa sekarang. Tidak ada yang peduli.

“Begini amat ya nasib jadi jomblo,” gumamku setengah tertawa.

Setelah menembus kantuk, macet, dan hujan, akhirnya aku berhasil datang ke kantor—pada hari yang tidak membutuhkanku.

Mesin mobil masih hangat. Kopi di tumbler juga masih tersisa setengah.

Langit tampaknya tidak benar-benar merajuk pagi ini.

Barangkali sejak awal ia hanya mencoba memberitahuku sesuatu: disuruh rehat sejenak, memberi jeda untuk diri sendiri.

“Kamu manusia, bukan robot. Istirahatlah sebentar.” Mungkin kalimat itu yang akan ia lontarkan jika bisa memarahiku.

Aku menyalakan kembali mesin mobil, memutar arah perlahan.

Kantuk, macet, dan hujan.

Rupanya sejak tadi mereka hanya ingin menyuruhku pulang lebih dulu.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)