Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
13
Debat Semangkuk Bubur
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Pagi ini terasa lebih dingin karena hujan semalaman. Pemilikku mengusap seluruh tubuhku dengan telaten, menghilangkan sisa kerak yang sempat menempel. Aku kembali licin, bersih, dan siap diisi.

Ia menjajarkanku bersama teman-temanku di atas meja gerobak. Kami berbaris rapi, menunggu giliran. Menunggu hangat. Menunggu penuh.

Dari dalam dandang, uap bubur naik perlahan—aku sudah bisa membayangkan rasanya ketika panas itu dituangkan ke dalam tubuhku. Selalu begitu. Aku tak pernah memilih apa yang masuk ke dalam diriku. Apa pun akan kutampung, tanpa protes.

Sayup-sayup, dua suara mendekat ke arahku.

“Mas, bubur saya polosan saja ya. Kuah kuning dan suwiran ayam saja. Nggak pakai yang lain.”

Aku sedikit lega. Isi yang sederhana biasanya tidak terlalu membebaniku. Tidak terlalu ramai.

“Yakin kamu makan bubur cuma begitu saja? Bubur itu enaknya dicampur semua, diaduk sampai rata. Saya dicampur saja semuanya ya, Mas.”

Ah. Yang satu ini berbeda. Aku bisa menebak nasibku jika jatuh ke tangannya—aku akan penuh, padat, dan segala rasa akan bertabrakan di dalam diriku.

“Selain nasi padang dan rames, bubur jadi pengecualian untuk nyampurin semua isinya. Ngeliat bubur diaduk saja rasanya hilang selera. Zaman dulu, bangsawan itu makan bubur nggak pernah dicampur. Itu mencerminkan etika.”

Etika. Kata yang asing bagiku. Bukankah tugasku hanya menampung? Tidak peduli apakah isinya disusun rapi atau dihancurkan jadi satu.

“Tapi kan kita bukan bangsawan. Lagian, numplekin semua isian dalam satu mangkuk itu efisiensi. Biar nggak kebanyakan cucian piring.”

Efisiensi. Kata lain yang juga tak pernah kupahami. Aku tetap dicuci, berkali-kali, apa pun yang terjadi di dalam diriku.

Pemilikku mengambilku.

Hangat pertama menyentuh tubuhku. Bubur dituangkan perlahan—lembut, mengisi ruang kosong yang sejak tadi menunggu. Lalu satu per satu isian jatuh: ayam, kuah, kacang, kerupuk… sebagian diatur, sebagian lagi bertumpuk.

Aku mulai penuh.

Dan seperti yang kuduga—sendok itu datang. Mengaduk. Menghancurkan batas-batas yang tadi sempat rapi. Rasa yang berbeda kini bercampur tanpa jarak. Di dalam diriku, semuanya jadi satu.

Panasnya naik. Beratnya bertambah.

“Efisiensi? Nggak kebanyakan isian juga termasuk efisiensi, kan?” suara si istri terdengar lagi, kini lebih tajam. “Biar nggak ada yang terbuang.”

Terbuang.

Aku tahu kata itu.

Sering kali, sebagian dari apa yang kutampung tidak pernah benar-benar dimakan. Mereka ditinggalkan, mengering di dinding tubuhku, lalu dibersihkan begitu saja. Seolah tak pernah ada. Bahkan, tak jarang sisa bubur bercampur abu rokok dan puntungnya.

“Berdasarkan penelitian…” si suami tertawa ringan, “…perdebatan ini nggak ada artinya selain bubur ini bikin kenyang perut. Tahu ngga, perdebatan ini sudah ada dari 300 tahun lalu.”

Aku ingin tertawa, kalau saja aku bisa.

Tiga ratus tahun, dan manusia masih memperdebatkan apa yang bagiku selalu sama: diisi, diaduk—atau tidak—lalu dikosongkan kembali.

“Siapa yang mulai perdebatan ini, ya? Aku cuma mau makan bubur dengan tenang.”

“Siap salah. Monggo dimakan dulu, Kanjeng Ratu.”

Sendok itu kini tak lagi mengaduk, melainkan menyuap. Perlahan, isiku berkurang. Panas yang tadi memenuhi diriku mulai mereda. Berat yang sempat menekan kini menghilang satu per satu.

Sampai akhirnya, aku kembali kosong.

Seperti awal.

Manusia memang lucu. Mereka memperdebatkan cara mengisi, mencampur, dan menikmati—sementara aku hanya tahu satu hal: apa pun yang masuk ke dalam diriku, pada akhirnya akan pergi juga.

Dan aku akan tetap di sini, menunggu untuk diisi lagi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)