Entah sudah berapa lama aku tertidur. Dunia ini terasa asing bagiku.
Aku di mana? Tahun berapa? Apa saja yang telah terlewat?
Rana.
Begitulah biasanya aku dipanggil. Hambali sering memanggilku dengan nama itu.
Hambali. Aku mencarinya.
Sempit. Aku sulit bergerak. Tubuhku terkurung di ruang apak berdinding kaca.
Hidupku terasa aneh. Di mana dia?
Mengapa ingatanku dikembalikan jika aku tidak bisa melihat Hambali?
***
Rasanya aku sudah mati bosan. Aku hanya diam di ruang sempit ini cukup lama.
Sekelompok manusia datang menghampiriku yang teronggok tak berdaya. Mereka menatapku dengan takjub, seolah ingin menjamahku, meski terhalang dinding kaca.
“Selera bapak bagus juga, ya. Kalau dijual, laku berapa dia?” tanya seorang pemuda di antara kerumunan itu.
“Dia tidak dijual. Kesayangan bapak. Biarkan dia di sana.” Seorang perempuan muda datang membubarkan mereka.
“Kalian boleh lihat-lihat yang lain. Ini tidak dijual,” tandasnya, tubuhnya setengah menghalangi kotak kacaku.
Kerumunan itu pun menjauh, berpindah ke kotak-kotak kaca lainnya.
***
Ada yang aneh dengan penglihatanku sejak terbangun dari tidur panjang. Banyak warna yang tak kukenal.
Aku terkejut oleh makhluk kecil yang menempel di dinding kaca. Ia terbang, lalu hinggap lagi. Berulang kali, seakan hendak menyapaku.
Warnamu indah sekali, batinku. Namun aku tak mampu menyebutnya. Yang bisa kusebutkan hanyalah hitam di kepalamu, enam bintik putih di lehermu, dan warna hitam di sayapmu yang melengkung indah.
Saat sayapmu terbuka, bentuknya menyerupai Pacman yang hendak memakan bola-bola—permainan yang dulu sering dimainkan anak Hambali.
Bersama Hambali, warna yang kukenal hanya hitam, putih, dan kelabu.
Tapi kamu… warna apa itu? warnamu mirip sore hari.
“Kamu aman di sini, Rana. Hambali menitipkan salam untukmu, belahan jiwanya. Maaf, ia tak bisa bersamamu lagi. Ia sudah dipeluk Sang Pemilik Bumi.”
Makhluk kecil itu lalu terbang pergi.
Kemudian kulihat perempuan muda tadi membersihkan sebuah papan nama yang tergantung di dinding.
TOKO BARANG ANTIK HAMBALI
***
Hambali…
Aku mendengar kabarmu dari makhluk cantik yang datang tempo hari, dan juga dari para pelanggan toko yang datang silih berganti. Tapi tetap saja kamu tidak pernah muncul untuk mengajakku pergi.
Mereka mengamatiku setiap kali menoleh ke arahku. Berbicara kepadaku, seolah-olah aku sama seperti mereka.
Hambali...
Jika memang sebagian jiwamu ada pada diriku, kenapa begitu sulit untuk menemuimu?
***
Di dalam sini, ada dua foto yang sengaja disandingkan bersamaku. Sebagian lainnya terpajang di dinding toko.
Masih ingatkah kamu dengan foto di samping kananku ini?
Ini adalah foto pertama yang kamu ambil saat melewati Tugu Peringatan Terusan Suez, tahun 1964.
Aku ingat, foto itu diambil setelah kamu berhasil menggunakanku dengan baik. Bidikanmu sudah tepat dan tidak buram.
Dan foto di sebelah kiriku adalah fotomu bersama Yurii. Aku dulu miliknya. Ia memberikanku padamu saat kamu menuntaskan pendidikanmu.
Aku menikmati perjalanan pulang bersamamu. Saat itu kamu sudah resmi menjadi seorang pelaut yang melintasi berbagai negara.
Aku selalu senang melihatmu tertawa dan mendengar suaramu yang renyah terdengar, dengan begitu aku bisa melihat deretan gigimu yang rapi.
Tidak lupa, laut—ombak, awan yang berserak, dan matahari. Semua itu menjadi kemewahan yang belum pernah aku temukan di negara asalku yang sering membeku.
***
Hambali
Aku baru tersadar wanita penjaga toko ini adalah anakmu. Ia sempat membuka baut yang menempel di sebagian titik badanku. Setelahnya, ia merasa senang ketika mataku berkedip, mengeluarkan bunyi, dan cahaya yang berkilau.
Lalu—
klik.
Ia tersenyum.
Dan aku tahu…
Aku berfungsi kembali.
Atau mungkin—aku baru saja dihidupkan kembali? Entahlah.
"Akhirnya aku berhasil memperbaiki Rana, Pak. Nanti aku akan bawa Rana ketemu bapak lagi."
Samar aku mendengar suara anakmu, sayangnya tubuhku terasa lemah dan pandanganku terasa gelap.
***
Hambali
Makhluk cantik itu mendatangiku lagi.
Ia seakan menungguku menyadari sesuatu.
Kamu sungguh merindukanku, ya… sampai mengutusnya kembali?
Jika benar begitu, mengapa sulit sekali bertemu denganmu?
***
"Maaf pak, Rana sempat berfungsi setelah aku perbaiki. Tapi rasanya dia sudah terlalu tua untuk digunakan lagi. Ada baiknya Rana aku simpan di sini sebagai penanda, supaya aku tidak tersasar jika datang ke sini lagi."
Langkah kaki itu menjauh.
Sunyi kembali memelukku.
***
Makhluk itu terbang.
Pelan.
Tinggi.
Hingga menghilang di antara langit dan cahaya sore.
Dan untuk pertama kalinya aku tidak kehilangan apa pun.
Karena kini,
yang selama ini kucari—
telah menetap di dalam satu bingkai terakhirku.