Riuh rendah tawa dan denting gelas kristal beradu di bawah langit malam Florence yang romantis.
Di sebuah ballroom villa bergaya renaisans yang disulap menjadi lantai dansa bertabur lampu gantung, Fay mencoba meleburkan diri ke dalam keramaian. Sebagai maid of honor, ia terlihat sangat menawan dengan gaun satin berwarna hitam lembut yang melambai ditiup angin malam kota Florence.
Namun, di tengah hiruk pikuk pesta, entah kenapa konsentrasinya terus terusik oleh sesosok pria berjas tuksedo hitam yang berdiri tak jauh dari meja bar.
Hero.
Sahabat sejak mereka bahkan belum mampu berjalan sendiri, sekaligus mantan kekasih Fay yang kenangannya paling membekas di hidup Fay.
Berkat kejadian tersesat di Tuscany kemarin, semua tentang Hero semakin membuatnya linglung. Kenapa Tuhan harus mempertemukannya kembali dengan Hero disaat Fay sudah berhasil melanjutkan hidupnya bersama Benedict? Kenapa bertemu dengan Hero setelah sekian tahun tanpa pernah sedikitpun bertukar kabar tetap membuat degup jantung Fay berpacu liar seperti ia baru berlari sejauh jutaan kilometer? Kenapa dia tidak membenci Hero saja, atas apa yang dulu pernah dilakukannya pada Fay?
Kegaduhan di dalam kepala Fay mendadak terputus saat seorang pembawa acara pria paruh baya yang energik merebut mikrofon di atas panggung. Dengan aksen Italia yang kental dan penuh gaya komedi, sang MC mengumumkan bahwa upacara dansa kehormatan berikutnya akan segera dimulai.
Martha dan Simon sudah berdiri di tengah lantai dansa, tampak serasi dan saling tersenyum penuh cinta.
Ketika akhirnya Fay dapat meredupkan sedikit kebisingan dalam kepalanya dengan memandang Simon dan Martha yang sudah siap untuk berdansa, sang pembawa acara menambahkan sedikit improvisasi.
Tradisi dansa malam ini juga mengharuskan sang Best Man ikut menari mendampingi kedua mempelai dengan seorang pasangan pilihan yang akan ditentukan melalui sebuah permainan eliminasi cepat.
"Now, where is our handsome British Best Man?” seru sang MC, memberi isyarat agar Hero naik ke atas panggung.
Hero mengembuskan napas panjang, menenggak sejenak sisa sampanye di gelasnya dengan cepat, lalu melangkah naik diiringi tepuk tangan meriah dari para tamu undangan.
Sang MC tersenyum jenaka dan mulai menjelaskan peraturannya dengan antusias.
"Simple game, Hero. Fast word. I will say one word, and you must say the very first word that pops into your head. No thinking! Fast and honest. The result of your subconscious will magically reveal who your perfect dance partner is tonight!"
Hero mengangguk pasrah, melipat tangannya di belakang punggung dengan postur tegap yang membuatnya terlihat luar biasa berkelas. Dari sudut ruangan, Fay terkekeh geli saat dilihatnya Hero sudah mengambil sikap penuh ancang-ancang.
"First word!" seru MC secara dramatis. "Speed!"
"Crash," jawab Hero tanpa ragu, memancing tawa geli dari beberapa tamu yang ikut menyaksikan, termasuk Fay dari meja bar.
"Second word! Home!"
"London," kembali Hero menyahut cepat tanpa ragu.
"Third! Comfort!"
"Tea," jawab Hero lagi dengan wajah tanpa dosa. Kerumunan tamu kembali tergelak pelan mendengar jawaban dari seseorang yang sungguh sangat British sekali ini.
Sambil tersenyum lebar, sang MC menarik napas dalam-dalam untuk pertanyaan terakhir.
"Fourth… Beautiful!"
"Fay."
Fay langsung tersedak oleh sampanye yang baru saja ia sesap.
Kata itu meluncur begitu saja dari bibir Hero secepat kilat menyambar, tanpa jeda bahkan untuk satu milidetik pun. Suara beratnya terdengar sangat jernih melewati pengeras suara, bergema dengan tegas di setiap sudut ballroom villa.
Fay membeku di tempatnya berdiri. Ia memukul pelan dadanya yang mulai terasa nyeri akibat tersedak tadi, sekaligus berusaha mengendalikan jantungnya yang berdetak lebih gila atas apa yang baru saja ia dengar dari mulut Hero.
Di atas panggung, Hero pun sedikit terkejut dengan jawabannya sendiri. Jawabannya terlalu jujur dan spontan, namun Hero juga sadar, ia akan menolak untuk menarik kembali ucapannya sendiri.
Sepasang mata hijau kebiruannya langsung bergerak melompati kerumunan tamu, lalu berhenti tepat di manik mata Fay yang masih melebar tidak percaya.
"Olala, mio Dio!" seru sang MC, memecah keheningan ruangan dengan tawa hebohnya yang menggelegar, bersamaan dengan tepuk tangan meriah dan heboh dari para tamu undangan.
Kini setiap penjuru ballroom bergemuruh oleh sorak-sorai dan siulan menggoda. Martha bertepuk tangan dengan senyum kemenangan dan penuh haru, sementara Simon ikut bersorak heboh sambil merangkul pinggang istrinya.
"We have a name, people! Calm your self! She doesn't even need to play! Lights! Point the spotlight to the beautiful Fay!" teriak sang MC bersemangat sambil menunjuk ke arah Fay.
Lampu sorot yang begitu terang benderang mendadak bergeser dari panggung, menyapu kerumunan tamu, dan langsung mengunci sosok Fay yang seketika menahan napas.
Semua mata kini tertuju padanya, membuat Fay diserang gelombang kepanikan dahsyat yang membuatnya menggelengkan kepala dengan heboh seraya melambaikan tangan cepat-cepat.
”No, no, wait... I think there's a mistake!" seru Fay kepada sang MC, wajahnya memerah sempurna karena malu dan salah tingkah.
"No mistakes, Maid of Honor! The Best Man’s subconscious has spoken loud and clear!" goda sang MC, memicu sorakan lebih nyaring dari para tamu yang mulai bertepuk tangan, seolah memaksa Fay untuk tidak punya pilihan lain selain melangkah maju.
Fay memandang Hero tajam dari kejauhan, seolah ingin sekali menonjok hidungnya yang mancung sambil berkata ‘I am going to kill you after this’.
Namun pria itu justru mengulum kerlingan nakal serta menawan yang sialnya selalu Fay sukai sejak dulu.
Hero melangkah turun dari panggung, menembus kerumunan tamu yang dengan senang hati membukakan jalan untuknya menjemput pasangan dansanya.
Saat Hero tiba di depan Fay, ia membungkukkan tubuhnya sedikit dengan gestur hormat, seolah ia tengah menjemput ratu Inggris.
Hero mengulurkan telapak tangiannya pada Fay dengan gaya dibuat-buat, membuat Fay mendengus sambil mati-matian menahan senyum.
"Shall we, Alexandrea?" bisik Hero lembut, mengabaikan bisingnya riuh penonton dan kilatan kamera di sekitar mereka.
Fay menatap uluran tangan Hero selama beberapa detik, lalu beralih pada mata Hero yang berkilat penuh kehangatan.
Seraya mengembuskan napas pasrah, Fay meletakkan jemarinya yang dingin di atas telapak tangan kokoh Hero.
"You are unbelievable, Douchebag," desis Fay pelan.
Hero langsung meletakan telapak tangannya yang lain untuk menekan dada dengan ekspresi terluka dibuat-buat.
Mereka lalu tertawa.
"I know, love. But I honestly couldn't think of any other word. And i have no time to lie either." bisik Hero hangat, menautkan lebih rapat kedua tangan mereka yang terjalin erat seraya menuntun Fay menuju lantai dansa dengan senyum Hero tercetak penuh kemenangan.