Secangkir americano masih tidak tersentuh. Seorang gadis yang duduk sendirian di tengah kafe yang hampir tutup masih mencoba menata perasaannya. Ada sebaris kalimat yang masih melekat di ingatannya.
Tiga puluh menit lalu, seorang pria yang sudah menjalin hubungan dengannya selama tiga tahun, mengucapkan kata-kata yang tidak terduga.
"Sepertinya kita tidak pernah cocok."
Kalimat yang mampu membuatnya tertahan di sini. Mencoba menerka maksud dari kekasihnya. Mereka belum putus bukan? Setelah mengucapkan sebaris kalimat tadi, sosok tinggi dan penuh kharisma itu, pergi dengan banyaknya tanda tanya baginya.
"Kurasa bukan hanya cuaca yang terasa dingin. Hatiku pun seolah membeku," ucapnya bermonolog.
Bulan Desember, sebagian besar kota di Korea Selatan telah turun salju. Membuat cuaca begitu dingin. Seperti perasaan yang dirasakan kali ini.
Ia mengambil topi wol berwarna merah muda, dan syal merah pemberian dari kekasihnya. Setelah berulang kali berpikir. Gadis itu berharap dapat membuat suasana hati kekasihnya menjadi lebih baik. Mungkin dengan membawakannya segelas cokelat hangat di hari bersalju? Semua terasa begitu membahagiakan walaupun hanya dengan membayangkan saja.
Tringg.
Ia membuka pintu kaca di kafe, dan berjalan menuju salah satu toko yang menjual segelas cokelat hangat. Sekitar sepuluh meter dari tempat mereka bertemu.
Pandangan yang semula penuh harap. Menjadi begitu penuh luka. Dua meter dari tempatnya berdiri, pria yang ia cintai sepenuh hati, merangkul mesra seorang gadis cantik. Permasalahannya bukan hanya itu, mereka tertawa bahagia berdiri mengantri di depan toko yang menjual cokelat hangat.
Ia yang semula menggenggam segelas cokelat hangat, jatuh terduduk. Lalu, air mata menetes di wajahnya yang memerah, di bawah guyuran hujan salju. Terasa dingin dan mampu membuatnya kesakitan. Akan akhir dari kisah cinta tanpa ada ucapan selamat tinggal.