Namaku Priy Ant, dan aku hidup dalam simfoni kegelisahan yang tak kunjung usai.
Di hadapanku, di atas meja rias yang kayunya sudah mulai melapuk, duduk dua sosok kecil. Mereka adalah boneka anak kecil—satu mengenakan baby doll dress merah muda, satu lagi mengenakan overall jumpsuit jeans celana biru muda. Mereka tidak punya nama. Memberi nama berarti memberi mereka nyawa, dan aku tidak cukup berani untuk melakukan itu.
"Memberi nama berarti memberi mereka nyawa, dan aku tidak cukup berani untuk melakukan itu." Kata itu kudengar dari sosok bayangan hitam dalam mimpiku. Mempercayai mimpi memang terkesan konyol. Aku tidak percaya mimpi itu, aku hanya bingung memberi nama mereka, karena itu mereka tidak punya nama.
Sejak usiaku 5 tahun mereka bersamaku, dan sekarang usiaku sudah 33 tahun. Beberapa hari yang lalu ada yang memberi tahuku nama mereka. Seseorang yang kukenal lewat dunia maya, namanya Imam. Kata Imam nama mereka Rina dan Rino. Dan sejak saat itu masalah muncul.
Masalahnya selalu sama setiap malam: mereka tidak bisa tidur. Mata mereka yang dingin terus menatapku, memantulkan bayangan wajahku yang kian tirus.
"Sekali lagi," bisikku, membuka buku catatan kumal. "Aku akan membacakan dongeng semut."
Aku mulai bercerita dengan suara yang sengaja diparaukan. "Dahulu kala, ada sekelompok semut pekerja yang menemukan dua buah cangkang kosong. Cangkang itu indah, putih, dan sunyi. Para semut memutuskan untuk menjadikannya istana. Mereka membawa tanah basah, mereka membawa sisa-sisa bulu burung, mereka memenuhi rongga dada cangkang itu agar tidak ada lagi ruang bagi udara..."
Aku melirik ke arah mereka. Biasanya, dongeng ini akan membuat suasana menjadi berat dan tenang. Tapi malam ini berbeda.
Boneka anak perempuan itu sedikit memiringkan kepalanya. Krieeet. Suara plastik yang bergesekan dengan sendinya memecah kesunyian. Boneka anak laki-laki di sampingnya tetap tegak, namun bola matanya yang statis perlahan bergeser ke bawah, menatap tanganku.
"Kalian harus tidur," suaraku bergetar. "Semut-semut itu sudah menutup pintunya. Tidurlah."
Mereka tetap tidak bisa tidur. Justru, aku mulai mendengar suara lain. Bukan dari mulut mereka, melainkan dari dalam tubuh mereka.
Srak... srak... srak...
Ribuan kaki kecil bergesekan di dalam rongga yang hampa. Tiba-tiba, dari sudut mata boneka bayi perempuan, seekor semut hitam besar merayap keluar. Ia membawa sepotong kecil kain, yang aku kenali sebagai serat dari baju tidurku sendiri.
"Priy Ant..."
Suara itu bukan berasal dari pita suara manusia. Itu adalah suara kolektif dari ribuan serangga yang menggetarkan udara secara bersamaan. "Ceritanya ... salah."
Boneka anak laki-laki itu mulai membuka mulutnya yang terkatup rapat. Bukannya tangisan, yang keluar justru tumpahan semut yang meluap seperti air bah hitam, jatuh ke lantai dan bergerak cepat menuju kakiku.
"Kami tidak bisa tidur," bisik suara serak itu lagi, kini terasa tepat di belakang telingaku. "Karena istananya belum selesai. Semut-semut itu masih butuh perekat."
Aku mencoba mundur, tapi lantai di bawahku sudah tertutup karpet hitam yang bergerak. Semut-semut itu mulai memanjat kakiku, masuk ke dalam celana, dan merayap di bawah kulitku seolah-olah mereka sudah tahu jalan menuju jantungku.
Dua boneka itu tidak berdiri. Mereka tidak juga berjalan, mereka meluncur di atas lautan semut yang mengusung tubuh mereka.
"Dongengnya harus berakhir begini, Priy Ant," ucap boneka anak perempuan itu sambil menyentuh dadaku dengan jemari plastiknya yang retak. "Semut-semut itu berhenti mencari cangkang kosong. Mereka menemukan sesuatu yang masih hangat. Sesuatu yang masih berdetak."
Malam itu, di kamar yang terkunci rapat, dongeng semutku akhirnya selesai. Bukan dengan tidur yang lelap, melainkan dengan sunyi yang absolut—saat tubuhku perlahan-lahan dikosongkan untuk menjadi istana baru yang lebih besar.