Silent love

Mencintai diam-diam, meletakkan nya di dasar hati terdalam.

Ren menunggu El di rumahnya malam ini, ia bahkan sudah menyiapkan kue tart berukuran besar untuk mereka berdua, lengkap dengan hiasan lilin angka 1 , itu adalah lambang satu tahun mereka dekat.

Entah apa yang ada di benak Ren, bahkan ia menghiasi kuenya dengan boneka mini berbentuk sepasang pengantin di atasnya. Ren tersenyum dan seolah hanyut dalam imajinasinya sendiri.

Waktu terus bergulir, namun El tak kunjung datang. Ren akhirnya memutuskan untuk keluar rumah mencari cowok itu. Ia menemukannya, El terlihat sedang ada di salah satu bar dan sedang di kerumuni beberapa wanita. Senyum di bibirnya seketika memudar, bersamaan dengan setumpuk harapan yang seakan menguap entah kemana, dan berganti dengan rasa sakit yang tiba-tiba menyesakkan dada. Seharusnya ia sadar sejak awal, bahwa El adalah seorang model dan ia harus terbiasa dengan pemandangan seperti itu.

Salah satu wanita di antara mereka menoleh ke arahnya, "Pacar mu datang mencarimu tuh!" Menunjuk dengan dagunya memberitahu El.

El menoleh mengikuti arah pandang wanita itu, dan mengatakan bahwa Ren hanyalah temannya, "Kalian tahu kan? Mana pernah aku punya pacar." Kelakarnya dan membuat para wanita itu tertawa. Kedatangan Ren seolah-olah hanya sebuah lelucon.

Ren mencoba tak menghiraukan mereka, padahal kata-kata mereka jelas membuat kupingnya panas, ia tak peduli, ia tetap melangkah mendekat ke arah cowok itu, "datanglah ke rumah ku sekali saja, aku mohon, meskipun itu untuk yang terakhir kalinya." Lanjutnya dengan tenang.

Beberapa hari kemudian, di pagi hari yang masih berkabut, terlihat dari jendela kaca rumah Ren yang tampak berembun karena cuaca dingin. Ren duduk di sofa dan mulai menyalakan televisi, sibuk mengganti chanel dan berhenti di saluran berita. Sudah beberapa hari El di beritakan menghilang dan belum di temukan keberadaanya. Ren terlihat murung, matanya sendu menatapi boneka mini sepasang pengantin di atas meja di depannya, ia berharap itu adalah dirinya dan El.

Padahal di luar sedang hujan, namun tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Ia terdorong untuk berjalan menuju kulkas, mengambil minum dari dalam nya dan meneguknya segera. Sebuah tangan tampak menyembul saat ia hendak menutup pintu lemari pendinginnya kembali. Ia menghela nafas kemudian berjongkok, "Kamu tahu kan? Kalo aku enggak bisa milikin kamu, siapapun juga enggak boleh milikin kamu." Ujarnya pada tubuh beku berbalut kaos hitam di dalam sana, meringkuk tak berdaya dengan luka bekas sayatan di leher yang sudah tampak mengering. "Kamu akan tetap di sini, nemenin aku, selamaya, dan enggak akan pernah ada pertemuan terakhir untuk kita."

Tamat

13 disukai 12 komentar 7.9K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Astaga wkwkwj
Dia pantas mendapatkannya hihihi (tawa seram)
Endingnya sangaf uwuuuu😳😳😳
Crazyyy
apakah ini terindikasi sycopat? wkwkwk
Bkan silent love lgi tpi crazy obssesive love😓
Tadi aku malah kepikiran harusnya gini "Dengan kepala nyaris putus" 😂
Kejamnyaaa...
wow...
Saran Flash Fiction