Ekspedisi Nubuat

“Berapa meter lagi?” Jemariku berayun goyah akibat gravitasi, menarik serta kulit pipi di bawahnya. Sementara, angka-angka di layar hadapan kami terus bertambah, hingga aku khawatir monitor itu akan meledak jika menyentuh titik kritis-tepatnya, pemindai audiovisual bawah air yang kini bertugas mengirimkan transmisi gambar dan suara ke kru di permukaan.

Sepuluh ribu desibar pada kedalaman tiga puluh ribu kaki.

“Demi keagungan asma-Mu, di manakah kekuasaan Engkau berada?” Gumamku ditimpali oleh keheningan di tiap sudut. Debar jantung kami teredam oleh debur ombak yang menampar-nampar sisi kapal. Secara teori, seharusnya kami mampu menemukannya.

“Saudaraku, tidakkah proyek ini terlalu ambisius? La tanfudzu na illa bi sulthon. Jika benar pemuda itu dijaga oleh malaikat, maka kita tidak bisa menemukannya tanpa seizin Allah.”

Aku menoleh pada seorang rekan. Bahkan, ia menyitir sepenggal ayat dari Surah Ar Rahman untuk mengingatkan. Namun, aku menggeleng.

“1960, 2012, dan 2019, sejarah mencatat tiga kali penyelaman ke basal Palung Mariana,” ujarku, mengemukakan kejayaan para penyelam yang berhasil menjelajahi titik terendah permukaan bumi kala itu.

Bisik-bisik mulai berdengung, memecah keyakinan yang semula menggantung digdaya di udara. Dia menarikku menepi, menjauh dari keramaian. “Bro,” bujuknya lembut berusaha menghibur sekaligus mencarikan jalan keluar, “kita bisa menggunakan rencana B dengan pencitraan sonar dan Lidar.

Namun, aku tetap menggeleng, berkilah. “Tidak ada bukti yang lebih afdal daripada ainul yaqqin, Saudaraku.”

Sorot matanya pun memudar ditelan gelombang putus asa.

“Coba runut-runut. Bangsa kita telah menjejakkan kaki ke bulan, mengirimkan pesawat tanpa awak, Cassini, untuk memotret cincin Saturnus, lalu kenapa kita harus menyerah untuk mencari tanda kekuasaan Allah di bawah lautan?”

Bibirnya kian terkunci, matanya tertunduk. Mungkin benar seperti katanya tadi, aku ambisius. Siapalah diriku ini. Nabi bukan, waliullah bukan, tetapi berkeras mencapai kemuliaan yang dilimpahkan oleh Allah kepada Nabi Sulaiman alaihi salam, melalui perantara seorang hamba saleh bernama Ashif bin Barkhiya, yakni mencari seorang ahli ibadah dalam kubah persembunyiannya yang konon berusia ribuan tahun. Sejak masa Nabi Ibrahim alaihi salam.

“Mari, mari kita salat dan berdoa,” ajakku pada semua orang yang lantas menatapku seakan gila. Terapung berminggu-minggu di atas kapal, kami butuh keajaiban yang bisa dibawa pulang ke forum ilmiah internasional mendatang-bukti tak terbantahkan bahwa ilmu dan iman adalah dua mata koin yang tidak terpisahkan. Satu gambar. Cukup satu gambar untuk membungkam mulut kaum kafir itu.

Baru sejenak aku menujahkan jemari ke arah langit, tiba-tiba kru yang bersiaga di depan monitor pengawas berseru, “Saudaraku! Saudaraku!”

Mereka yang sempat bubar, berlarian memenuhi panggilan. Seketika ketegangan memancang kaku kaki-kaki kami di depan monitor dengan ukuran layar tidak seberapa, tetapi mengemban misi berharga.

Tiada citra, gambar, atau semacamnya. Dalam radius sekian meter, hanya tampak kekosongan nisbi. Namun, telinga kami mampu mendengar dengan jelas lantunan zikir serta tasbih bagai menggema dari segenap jurusan, lalu suara lirih seseorang berkata.

“Ya Ukhayya, cukuplah Allah sebagai saksi. Jagalah dirimu dari mendebat orang-orang yang buta, tuli, serta tertutup mata hatinya.”

Serentak aku tersungkur bersujud menerima petuah agung dari bawah lautan. Air mataku mengalir deras bagai jeram tercurah di lantai kayu dek kapal. Aku menggerung hebat, melafalkan kalimat taubat, “Lailahailla anta, subhanaka inni kuntu minazzolimin.” 

4 disukai 1.7K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction