Pusi, The Sadly Cat

Dia kuberi nama Pusi. Kucing betina berbulu putih bercorak kuning dan hitam di beberapa bagian tubuhnya.

Pusi kecil kutemukan saat sedang mengendap-ngendap di halaman belakang rumah, pagi hari ketika sinar mentari belum juga setinggi tombak. Entah datang dari mana makhluk mungil menggemaskan itu. Sorot mata curiga, takut dan penuh kekhawatiran mengawali perjumpaan kami kala itu ketika aku berusaha meraih dan mendekapnya dalam gendongan.

Kini si Pusi kecil lucu telah menjelma menjadi kucing betina cantik. Ia baru saja melahirkan kembar empat, kali pertama persalinannya. Dua jantan dan dua betina dengan corak yang tak jauh bedanya.

Jika dulu aku merawat Pusi dengan telaten, kini tak sempat lagi mengurus anak-anaknya serajin waktu itu. Persipan UAS menguras banyak tenaga dan pikiran. Aku harus berhasil masuk SMU Unggulan.

Anak-anak Pusi yang sering membuang kotoran sembarangan, meski telah disediakan tempat khusus, kerap kali membuat papa—yang sangat perhatian pada kebersihan—menjadi tidak suka.

Papa memintaku membuang si kembar empat jika tetap tak dapat mengurus mereka dengan baik. Aku tak ingin memisahkan Pusi dan kehilangan anak-anaknya, tapi di lain pihak aku ingin fokus dengan sekolah yang makin padat. 

Akhirnya papa membuat keputusan membawa anak-anak Pusi ke rumah nenek di desa yang tak jauh dari ibu kota kabupaten. Aku yang sempat keberatan, lantas mengiyakan. Setidaknya sesekali Pusi bisa kubawa bertemu buah hatinya.

***

Pusi mengeong-ngeong dari tadi, memanggil anak-anaknya. Biasanya si kembar empat akan segera datang saat mendengar panggilan sang ibu. Lantas saling berebut menyusu dalam dekapan hangat tubuh Pusi. Namun, kali ini tidak. Tak satupun muncul. Jelas saja, kembar empat tak lagi di rumah ini. 

Pusi terus saja mengeong sambil mondar-mandir mencari kesana-kemari. Makin lama suaranya makin parau dan lirih. Aku memanggilnya, ia menoleh dan mengeong pelan. Tatapan matanya membuatku ingin menangis. Matanya tampak berkaca-kaca, pinggirannya memerah dan wajah di seputaran area mata membengkak. Aku tak pernah melihat Pusi sesedih ini.

Kuangkat Pusi dan menaruhnya dalam pangkuan. Meminta maaf padanya dan menjelaskan perihal si kembar, sambil terus mengelus tubuh dan wajahnya. Pusi mengeong pelan. Lama ia kuajak bicara dan tanpa henti mengelusnya dalam dekapan, hingga ia berhenti mengeong dan berangsur wajahnya memulih.

Beberapa hari Pusi terus begitu. Tak tega melihatnya, aku mengajak papa membawa Pusi bertemu buah hati. Pusi kumasukkan dalam kardus tertutup dan berlubang di beberapa bagian. 

Lima belas menit berlalu, kami sampai di rumah nenek dengan mengendarai motor. Belum juga masuk rumah, kubuka tutup kardus tempat Pusi berada selama dalam perjalanan. Pusi langsung menghambur keluar dan berlari kencang menjauh dari rumah nenek. Aku terpaku. Barulah tersadar saat papa mengajak mencarinya. 

Lama kumencari ditemani adik laki-laki papa yang tinggal bersama nenek. Berkeliling kampung dari ujung ke ujung. Namun, Pusi tak kunjung ditemukan. Papa, paman dan juga nenek menghiburku. Tetapi tak mengurangi wajah muramku, terlebih kutahu si kembar sakit-sakitan dan tak mau makan dua hari ini.

Tiga hari berlalu, nenek menelepon dan mengabari bahwa semua anak Pusi telah mati. Satu-persatu sejak kejadian Pusi hilang, dan entah di mana rimbanya kini.

Bening halus jatuh dari pelupuk mata. Lirih kuberucap, “Maafkan aku, Pusi. Maafkan aku ….”

11 disukai 4 komentar 2.5K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@Rahmayanti yang sabar ya mbak 😢. Moga gak lama lagi Allah ganti yang persis sama kayak Baba dan Bubu. Ya Allah, jadi ingat kucing-kucingku dulu 😢
Suka nangis aku mbak kalo ingat.. Biasanya tidur sama aku kalo gak di dekat kepala ya diujung kaki..😩😭
@Rahmayanti Ya Allah, sedih banget. Apalagi itu baru aja kejadian pasti sedihnya masih kerasa banget 😢. I feel U mbak 😭.
Anak kucing ku juga mati kak😭 Datang kerumah masih bayi matanya baru buka kayanya hujan hujan mana malam terus aku rawat keluargaku gak suka kucing. Apalagi abng Alergi banget sama kucing kalo di deketin kucing langsung di tendang tapi aku masih tetep adopsi dia cewek sama cowok aku kasih nama Bubu yg cewek yg cowok baba nah pas Bubu mati ditumbur orang padahal udah lumayan gede kak. Aku sedih banget mana Baba nya gak mau makan setelah Bubu mati.😢 udah ak belikan makanan kering makanan basah aku kasih susu terus vitamin lewat spuit eh tetep gak mau sesekali aku paksa kadang ada makan dikiit banget dia ngeong ngeong terus pas dia ngeong langsung ak ajak main tp dia malah sakit aku pusing banget. Jadi keluarga aku gak ada yg larang aku ngerawat baba semenjak Bubu mati eh malah Baba nyusul Bubu tanggal 4 april kmaren matinya Baba kalo Bubu tanggal 28 maret.. Ada rasa bersalah emang kayanya aku ngurusnya gak bener..😭
Saran Flash Fiction