Sehari Empat Ribu

"Kak Tataaaa...!" suara Tisha menggelegar di lantai bawah menyambut Kak Tata dari lantai atas.

Kak Tata membalikkan tubuhnya untuk balik ke lantai atas lagi. Alih-alih mau becandain Tisha. Tak lama dari itu, wajah Tisha cemberut.

"Ih, Kak Tata jahat. Udah baik-baik disambutin malah balik lagi."

Tisha membuang wajahnya. Lalu, dia pergi ke kamar tidurnya. Kak Tata menghampirinya dengan senyum-senyum yang menggoda.

"Kak Tata, bayar dulu kalau mau masuk kamar!"

"What?"

"Ayo, bayar dulu. Ini duitnya, masukin ke sini," kata Tisha sembari menunjuk lubang celengan yang terbuat dari kardus kecil.

"Bayar penginapan pula kakak tidur di sini, ya?"

"Iya, dong!"

Dengan sabar, Kak Tata mengambil uang yang diberikan Tisha. Lalu, memasukkannya ke dalam celengan kardus coklat.

"Nah, bagus!" kata Tisha,"kan keren Icha bisa dapat sewa penginapan empat ribu sehari," lanjutnya.

Kak Tata tertawa lepas. Jago juga bisnis penginapan Tisha malam ini. Dia menggoyang-goyang celengannya hingga berbunyi.

"Oh, ya, Kak. Kalau Icha ngasih sewanya seratus ribu sehari, berarti selama seminggu menjadi tujuh ratus ribu. Kalau dua minggu menjadi satu juta empat ratus ribu. Wow!"

"Pinter!" sahut Kak Tata mengacungkan jempolnya.

Jakarta, 10 September 2020

Pukul: 21.58 WIB

8 disukai 3.9K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction