Langit Kelabu Pun Hujan Tak Kunjung Datang

Aku melihat warnamu sudah kelabu!

Apakah hujan akan datang bersenandung?

Apakah guntur datang bersenandung?

Apakah badai pun ikut datang bersenandung?

Kapan mereka datang?

Oh!

Dari jauh senandung guntur itu mulai terdengar!

Aku memandang di luar jendela terdapat awan hitam pekat kelabu di sebelah barat.

Apakah senandung itu berasal dari sana?

Hmmm ....

Sepertinya awan hitam pekat kelabu itu mulai bergerak turun ke bawah.

Pertanda hujan sudah bersenandung disana.

Apakah kau akan bergeser kesini?

Dengan melihat suasana seperti itu.

Aku menunggu dengan menyeduh secangkir kopi arabika.

Hmmm ....

Aroma yang sangat menenangkan.

Kopi arabika yang memiliki rasa sedikit pahit, masam dan manisnya dari gula.

Seperti yang aku rasakan.

Pahit , manis dan masamnya hidup ini.



1 jam, 2 jam dan 3 jam sudah berlalu.

Aku sudah menunggu terlalu lama.

Sampai tak terasa secangkir kopi arabika yang aku minum sudah tertinggal ampasnya.



Oh!

Aku perhatikan lagi langit di atas mulai terlihat cerah.

Brak ....

Gebrakan meja yang aku lakukan.

"Sungguh terlalu. Pada akhirnya, dia memberiku harapan palsu," keluhku.

4 disukai 3 komentar 1.6K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@citra4yubening : terimakasih kakak 😅🙏🙏
Mirip senandika dengan plot twist. Keren, lho
Saran Flash Fiction