Amor dan Fati

Sangat sulit bagi seseorang untuk mulai menuliskan kata demi kata, apalagi mengutarakan, karena rasa manis tidak dapat dilihat. Sama seperti halnya Fati, yang selalu menunggu Amor dalam hidup bahkan matinya. Kisah dan syair-syair yang ditulis oleh Qais untuk Layla sering kali menemaninya ketika Fati sedang termenung seorang diri di antara padang ilalang.

***

Fati berjalan menghampiri rumah kecil di tengah padang rumput. Amor berada di sana, duduk di beranda dengan gaun merahnya yang cantik. Dengan selembar kertas di tangan, berisi seluruh isi hatinya dalam untaian tinta, Fati meneguhkan diri menghadapi Amor.   

“Apakah pantas bagiku untuk membahas tentang cinta pada saat ini?” tanya Fati, setelah Amor selesai membaca kertas berisi syair puisinya. 

Amor mengangkat wajahnya. Ia menjawab. “Apakah yang kau rasakan tentang cinta, hingga kau berani mempertanyakannya? Bila adapun, kau hanya akan menjadi anjing yang mengikuti majikan. Tiada tuan, tiada hamba, sungguh kekosongan ini bermakna. Itulah cinta.”     

Terperangahlah Fati mendengar perkataan Amor.    

Fati lantas bertanya. “Andai kata-kata berserakan dan mencari jalan pembuktian, apakah itu cinta?”         

 “Sungguh, mereka yang berhasil mendeskripsikan rasa adalah mereka yang luar biasa,” jawab Amor.    

Fati bertanya-tanya tentang bagaimana cinta selama ini bekerja dalam pikirannya. Dia mengumpulkan dan menghitung setiap tindakan, lalu menghubungkannya dengan cinta. Fati menyadari, dan menemukan bahwa ternyata hanyalah dirinya yang tenggelam dalam ego. Seperti halnya Romeo di masa itu, yang terjebak dan terus mendorong egonya walaupun hidup Juliet berada di ujung pedang, yang harus keduanya bayar dengan kematian.    

“Rasa memiliki dan mengagumi hanya seperti bunga yang mekar, lantas dipetik,” Amor tiba-tiba berkata.    

“Sungguh kau selalu berada selangkah di depanku.” Bibir Fati berucap sebelum pikirannya sempat menanggapi.  

Hingga kemudian Fati menatap Amor begitu lama. Tidak terasa penglihatannya berkhianat pada pikirannya, membawa sosok Amor jauh ke dalam sukmanya. Takdir tidak pernah merestui cinta, karena sejatinya cintalah yang merestui takdir. Takdir ada karena cinta, dan cinta tak perlu takdir untuk mencintai.    

“Sungguh tidak aneh, bila banyak orang menjadi gila dan beringas, karena cintanya tidak sejalan dengan takdir.” Amor bangkit dari duduknya, berdiri memunggungi Fati. Matanya menatap matahari.

“Cleopatra tidak dapat menanggungnya, pada akhirnya,” bisik Fati di bawah napasnya. 

“Maka terpujilah mereka, yang mampu menaklukkan takdir dengan kematian, demi mengejar cintanya. Karena takdir diciptakan untuk dipadamkan, dan cinta diciptakan untuk keabadian.” Amor berbalik. Memantulkan wujud Fati pada bola matanya yang berkilau bagai berlian.

Maka, terpujilah Fati. Yang kini menyadari bahwa dirinya tidak akan ada tanpa Amor. Namun Amor akan selalu ada, meski ketika Fati telah pergi dan hilang.

Fati mengangkat wajahnya. Sekali lagi membawa sosok Amor jauh ke dalam jiwa dan raganya. Tatapannya dipenuhi oleh hasrat dan kerinduan. “Sungguh, diriku bukan apa-apa tanpamu.”   

Suatu hari Fati akan terlahir kembali, dan ia akan selalu mencari Amornya.

3.3K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction