Disukai
1
Dilihat
6,958
Senja di Bontang Kuala
Romantis

Hampir setiap rabu sore kami bertemu di tempat ini, membagi cerita 24 jam sehari selama 7 hari yang telah sama-sama kami lewati. Ada saja kejadian-kejadian biasa yang selalu menggelitik gelak tawa saat dia mulai bercerita. Hal paling menyedihkan sekali pun bisa dijadikan sebagai bahan olok-olok olehnya. Dia memang manusia luar biasa, sepertinya Tuhan menciptakan dia tanpa stok airmata. Bahkan saat wajahnya sedang tidak berekspresi sekali pun, kedua mata kucingnya masih tampak seperti tertawa. Itulah alasanku nekat memilihnya sebagai model untuk iklan produk terbaru perusahaan tempatku bekerja, meskipun dia menempati urutan terakhir yang direkomendasikan agensinya. Kuakui, aku memang egois jika menyangkut intuisi, bahkan yang terkait pekerjaan sekalipun. Logikaku sering kali sengaja kukesampingkan. Aku bahkan berani mengelabui kenyataan bahwa hubunganku dengan dia sangat jauh dari memungkinkan. Terlalu banyak kebohongan yang harus kurancang matang-matang, bahkan hanya untuk sebuah pertemuan singkat seperti pada senja ini.

Biasanya selalu dia yang lebih dulu tiba, entah kenapa hari ini sedikit berbeda. Dia terlambat entah karena apa. Alasannya pasti bukan karena macet, kota sekecil Bontang tidak mungkin terkena bencana yang biasanya hanya melanda kota-kota besar seperti Jakarta. Dugaanku, dia terlambat karena pesan singkat yang kukirimkan siang tadi.

“Hai, Beib...” Sebuah tangan merangkul leherku dari belakang dan menghadiahiku sebuah kecupan singkat di pipi kiri. Aku menarik napas lega, akhirnya dia datang juga.

Sorry, aku terlambat!” gumamnya sambil menarik kursi dan langsung duduk di sebelahku. “Ada kerjaan mendadak tadi!” lanjutnya sambil melepaskan jaket dan melampirkannya di punggung kursi.

“Gapapa Yas, yang penting kamu baik-baik saja.” kataku sambil melambaikan tangan ke arah seorang pelayan. “Teh tarik ya, Ka!” pesanku begitu pelayan perempuan berkostum hijau putih itu menghampiri meja kami. Aku hapal benar minuman yang selalu dia pesan setiap kali kami bertemu di tempat ini, jadi aku tidak perlu bertanya lagi.

By the way, nggak biasanya kamu khawatir begitu sama aku?” Dia melirik genit sambil memainkan pematik di tangannya. “Takut aku tiba-tiba kena serangan jantung ya gara-gara sms kamu tadi siang?” sindirnya diikuti sebuah cengiran nakal, sepertinya dia sengaja ingin menggodaku.  

Aku memberenggut sambil mencari kalimat yang tepat untuk membalasnya. “Aku cuma takut aja kalau kamu jadi santapan cicak-cicak borneo yang lagi kelaparan, padahal kan kamu masih terikat kontrak sama kantorku!”

Dia tertawa ringan mendengar kelakarku. “Cicak borneo itu lebih suka aroma orang luar Kalimantan seperti kamu, Beib!” serunya yang langsung kubalas dengan sebuah cubitan keras di perut datarnya.

Ya, aku memang bukan penduduk asli kota ini, kedua orang tuaku asli dari Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Mereka hijrah kesini sejak aku masih berusia tiga tahunan. Berbeda dengan Adriansyah, dia asli berdarah Kutai. Foto model berwajah khas melayu yang cukup fasih berbahasa asing, terutama bahasa Inggris, Belanda dan Jepang. Hanya lulusan Sekolah Menengah Kejuruan jurusan tata boga, tetapi dia sudah mengelilingi hampir setengah belahan dunia. Bukan sebagai foto model bertaraf Internasional pastinya, hanya kebetulan dia pernah menjadi asisten koki di sebuah kapal pesiar yang rute pelayarannya hingga keliling Eropa dan Asia. Mungkin dia memang bukan calon menantu ideal yang didambakan sebagian besar orang tua, tetapi aku tahu persis bukan itu alasan utama Mama dan Papaku menolaknya mentah-mentah.

“Maafin aku, Vie...” suaranya yang lebih mirip sebuah bisikan seketika menggugah lamunanku. “Sepertinya aku nggak bisa menyetujui rencanamu.”

Aku menoleh, namun enggan untuk berkomentar. Sedikit terkejut juga, ternyata dia cukup bernyali untuk membuka pembahasan ini terlebih dulu. “Pilihan yang kamu tawarkan itu benar-benar nggak masuk akal!” lanjutnya lagi tanpa menatapku sama sekali.

“Jadi menurutmu hubungan kita selama ini lebih masuk akal, Yas?” desakku sambil menatapnya lekat. Aku ingin mencari kejujuran dalam matanya, tetapi ternyata dia tetap bergeming menatap jauh ke depan sana.

“Setidaknya kita tidak merusak masa depan kita dengan keputusan yang salah, Vie!” akhirnya kalimat bernada putus asa itu yang mengalir dari bibirnya.

 

*

 

Aku tidak akan menyebutnya pengecut, tidak juga seorang pecundang, mungkin dia hanya kurang berani dalam mengambil keputusan. Usianya memang belum cukup matang, dia lebih muda lima tahun dariku. Tapi sekali lagi, bukan itu faktor utama yang membuat hubungan kami terganjal restu dari orang tua. Karena Papaku bahkan berusia sepuluh tahun lebih muda saat menikahi Mamaku dulu.

“Jangan harap Mama akan merestui, sampai mati sekali pun!” begitu kata Mama beberapa waktu lalu. Dan itu adalah sebuah titah yang tidak mungkin untuk dibantah.

“Kalau begitu, Vie juga tidak akan menikah sampai mati sekali pun!” balasku ketika itu dengan emosi yang kian meninggi. Aku tidak main-main, Mama tahu persis seberapa besar kenekatanku. Kalau beliau saja merasa berhak menentukan masa depanku tanpa peduli sama sekali dengan kebahagianku, berarti memang tidak ada lagi alasan bagiku untuk mengubah keputusanku.

Beib,” Aku kembali tersentak. Kupaksakan bibirku untuk tersenyum, meskipun rasanya pahit luar biasa. Jujur, aku merasa tersudut diantara sikap Adrian yang tidak pernah bisa tegas dalam mengambil keputusan dan sikap keras kepalanya Mama. Aku sadar, aku tidak bisa memaksa Adrian untuk mengikuti keinginanku, tetapi aku juga sudah benar-benar lelah dengan semuanya. Tidak akan pernah ada jalan keluar bila tidak ada satu pun di antara kami yang cukup bernyali untuk melangkah dari kebuntuan ini.

I Love you,” gumamnya sambil menggenggam tanganku lalu mengecup sekilas puncak kepalaku, sepertinya dia ingin menyalurkan energi positif ke dalam diriku. Kurasakan ada kehangatan yang menjalar dan terasa nyaman setiap kali dia melakukannya.

“Aku capek, Yas!” keluhku sambil merapatkan diri.

“Aku bisa refleksi, you wanna try?” guraunya sambil tersenyum lebar.

“Aku perlu refleksi hati!” seruku sambil beranjak menjauhinya. Aku tidak suka mendengarnya berkelakar di waktu yang tidak tepat. Lebih baik kutinggalkan dia sendirian di mejanya. Biasanya kecamuk perasaanku akan mereda dengan sendirinya saat menatap laut lepas yang seolah tanpa batas. Kusandarkan tubuhku ke pagar cafe, senja kemerahan mulai tampak di ujung langit yang kelabu.

Laut dan Senja, itulah yang menjadi alasanku memilih tempat ini. Cafe-cafe disini memang hampir seluruhnya berada di atas laut, tetapi hanya sebagian kecil saja yang mendapat view paling pas untuk menikmati pergantian waktu menuju malam. Salah satunya cafe BK ini. Letaknya di ujung perkampungan Bontang Kuala, perkampungan di atas laut yang cukup unik. Seluruh bangunan warga didirikan dari kayu ulin dengan dekorasi sederhana, namun kaya nuansa etnik yang cantik. Sebuah tempat yang cukup nyaman untuk menghabiskan senja.

Let it flow, dear. Seperti ombak-ombak kecil yang beriak itu, akhirnya pun mereka akan sampai di sebuah pantai. Jadi percayalah, kalau kita ditakdirkan berjodoh, kita pasti akan bersama nantinya,” bisik sebuah suara di belakangku. Dia memeluk pinggangku dan meletakkan kepalanya di bahu kananku.

“Kita bukan ombak, Yas!” bantahku sambil melepaskan diri. “Kita itu seperti Matahari dan Bulan!” tandasku sambil mendongak dan menghujamnya dengan tatapan tegas. Dia tertawa miris lalu berpaling ke arah Matahari yang mulai tenggelam.

“Aku pasti Mataharinya, karena aku jauh lebih besar dari kamu!” ujarnya sambil menarik garis lurus dari atas kepalaku ke arahnya, lalu tertawa geli. Tinggi tubuhku memang hanya sebahunya, tetapi bukan karena aku pendek, dia yang terlalu tinggi untuk ukuran rata-rata lelaki Indonesia. Kurang lebih 185 senti dengan berat tubuh yang proporsional. Sosoknya bahkan sering kali tampak menjulang sendirian ketika beberapa kali aku melihatnya mengikuti shalat berjamaah di mesjid sekitar rumahnya.

“Kamu lihat itu, Yas?” tunjukku ke arah matahari yang nyaris tertelan Sang Malam tanpa sedikit pun menggubris leluconnya. “Matahari dan Bulan tidak akan pernah bisa bertemu di satu langit yang sama kan?” lanjutku lagi kemudian beralih menatapnya. Dia terkekeh sesaat, lalu terdiam tanpa kata. Kepalanya mendongak menatap langit kemerahan di atas sana.

“Karena itu aku memberimu dua opsi, kita kawin lari atau aku terpaksa akan jadi biarawati,”

“Itu bukan opsi, Vie!” sambarnya dengan suara tercekat. “Kamu seperti menyuruhku memilih mati atau melihatmu bunuh diri, dan kamu tahu itu benar-benar tidak masuk akal!”

“Tapi kamu tahu persis cuma itu keputusan paling mungkin yang bisa kita ambil, Yas!” Aku menyela dengan nada keras. Dia menggeleng panik sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Perlahan dia meraih jari jemariku dan mendekapnya dalam pelukan.

“Mana mungkin aku membiarkanmu jadi biarawati, Sayang…”

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi