Teruntuk Jika

Kepada kamu, si laki-laki yang tidak tahu diuntung.

Keterangan online pada chat room-mu menunujukkan kalau kau sedang membukanya. Apakah dalam satu detik itu, pesanku yang masuk berbarengan dengan ratusan pesan lain, dan membuat pesanku berada di posisi seratus sekian?

Kalau ingin menghindar, jangan seperti ini. Jangan pergi pagi-pagi buta dan pulang tengah malam sunyi. Singkirkan aku, atau menyingkirlah. Tinggalkan aku, atau pergilah. Menjadi pemilih salah satu, lebih baik dibanding bukan pemilih keduanya. Atau menjadi pemilih salah satu, jauh lebih baik dibanding tidak ada keputusan setuju atau tidak setuju saat aku sudah memilih.

Terus, kamu terus menghindar, sampai akhirnya aku ingin menyudutkanmu, menyundut rokok di wajahmu, dan menyungkurkanmu dengan tendangan kerasku.

aku kembali mengirim pesan. Kamu online, tapi tidak membalas. Aku mengeluarkan pesan pamungkas.

"Kamu lagi disepong sama perempuan lain?"

Satu detik...dua detik...tiga detik...typing....

"Kamu kenapa sih?"

"Aku lelah..."

2 disukai 4.1K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction