Riana -Selamat Jalan- eps 3 end

Riana nama ku. Ana kamu sungguh tega pada ku. Kenapa kamu pergi seperti itu padahal kamu sendiri yang bilang kalau kamu baik-baik saja kamu akan selalu di sisi ku.

Namun apa ini? Aku mendengar kabar kepergian mu lewat telfon kaka ku, aku menangis sejadinya. Padahal hari itu hari penampilan final ku dan aku akan membawakan sebuah lagu favorite kita yang kita buat bersama.

Kamu tau apa perasaan ku saat itu? Rasanya aku ingin lari sekencang yang ku bisa untuk menemui mu untuk melihat mu terakhir kalinya.

Tapi aku teringat janji ku pada mu aku harus menang dan keluar sebagai pemenang aku akan menepati janji ku itu untuk mu, sahabat ku.

Ana tahu kah kamu? Aku tetap tampil di babak final ini meski dengan perasaan yang tak karuan. Aku sampai menitihkan air mata karna mengingat mu di setiap lirik yang ku mainkan, terputar semua memory hari-hari kebersamaan kita.

Lirik melody yang kita susun bersama menjadi salam perpisahaan kita. Raga kita berpisah jauh bahkan sekarang ruh kita ikut berpisah jauh dan di penghujung melody ku akhiri dengan senyuman ku yang sangat indah yang sangat kau sukai itu Ana.

Aku beranggapan walau kita sudah berpisah kamu masih bisa melihat senyuman manis ku ini. Ana fans pertama ku. Semoga kamu baik-baik saja di sana terima kasih atas persahabatan yang kau tawarkan untuk ku. Maafkan aku yang tak bisa hadir di detik-detik terakhir mu. Maaf kan aku Ana.

Dipusaran itu terukir nama mu. Ana Atnaful Nisa. Nama yang baru ini ku lihat di belakang nama mu sebelumnya kamu bilang, "Riana aku ingin sekali setelah nama ku ada nama lain. Bukan hanya 3 huruf saja dan bukan pula selain binti ayah ku." 

Akupun menjawab mu sambil bercanda, "Nama mu kan hemat. 3 huruf mudah di ingat. Bukankah kamu sangat suka akan nama mu itu?" 

Lalu kamu bilang, "Ya aku ingin saja. Aku bosan dengan 3 huruf saja aku ingin seperti kereta yang punya gerbong banyak. 3 huruf hanya untuk satu gerbong setidannya kalau ku tambah 2 gerbong umi tak akan marah kan?" Kita pun tertawa bersama. 

Aku memberi mu bunga yang sangat kamu suka Ana, mawar. Padahal mawar ini ingin sekali ku berikan pada mu pada saat kamu sembuh dan keluar dari rumah sakit. Tapi bunga itu malah aku susun di atas pusaran mu, Ana. 

Dan di samping ku ada umi mu Yang menemani ku. Beliau bilang, "Riana maafkan Ana ya. Kalau Ana Punya salah mohon di maafkan."

 

Aku masih memandangi pusaran mu. Aku masih ingin melihat mu. Tapi kamu pergi secepat itu. Akupun bilang pada umi, "Umi maafkan Riana. Riana tidak ada sampai detik terakhir Ana." 

Umi memeluk ku yang sudah berlinang air mata. Umi berusaha menghibur ku dengan kata-kata hangatnya. Ku dekap kedua buku pemberian mu dengan kuatnya seolah-olah aku sedang memeluk mu.

Selamat jalan Ana.

Teman baik ku yang tiada duanya.

Selamat jalan Ana.

Aku akan selalu mendoakan mu di setiap solat ku, sahabat ku.

417 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction