Diary

“Aku kira, demi anakku, aku menahan sakit di tubuhku.”

-03/08/12

 

Dear diary,

Hari ini, aku membantu mama masak. Kata mama, anak cowok juga harus bisa masak. Aku senang bisa menghabiskan waktu bersama mama. Semoga aku bisa selalu berada di sisi mama selamanya.

-05/07/12

Dear diary,

Hari ini, papa pulang setelah sekian lama pergi bekerja. Aku harap papa mau mengajarkan aku cara bekerja dan mendapatkan uang, jadi papa mama ngga perlu capek lagi mikirin kebutuhan di rumah.

-07/07/12

 

Dear diary,

Hari ini, aku mendengar mama menangis. Aku tidak tahu kenapa, tapi semoga tuhan memberi mama kebahagiaan dan menghapus semua air mata mama.

-08/07/12

Dear diary,

Hari ini, aku melihat papa mukulin mama. Mama nyuruh aku untuk diam di kamar dan tidak ikut campur urusan mereka. Aku takut.

-10/07/12

Dear diary,

Sudah berapa lama aku lihat papa mukulin mama. Mama selalu mencoba tersenyum saat di depan aku. Aku marah sama papa. Aku benci.

-20/07/12

Dear diary,

Hari ini, aku memutuskan untuk menusuk papa pakai pisau, yang biasanya aku gunakan untuk membantu mama di dapur. Aku ngga mau mama terus-terusan dipukulin. Aku ngga mau melihat air mata mama lagi.

-28/07/12

Dear diary,

Hari ini, aku melihat mama menangis dengan memeluk buku catatanku. Aku mendekat dan memeluknya.

“Udah mah, ngga ada yang perlu mama takutin lagi. Papa udah ditangkap polisi.”

Namun tangisan mama tak kunjung berhenti. Tangan mama semakin erat memeluk buku catatanku. Dengan air mata yang terus membasahi pipinya, aku mendengar suara mama yang bergetar.

“Maafin mama nak. Maafin mama.” Aku tidak tahu kenapa mama masih menangis. Aku hanya bisa memeluk pungung mamah.

2 disukai 746 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction