Bus Hantu

“Foto siapa mbak?” Tanya seorang pria kepada wanita yang duduk di sebelahnya dalam sebuah bus.

“Eh anu mas, ini foto orang tua saya.” Timpal wanita tersebut.

“Lagi mau pulang kampung, mbak?”

“Iya mas. Kebetulan saya baru selesai sidang kuliah. Ini mau pulang dulu buat ngajak orang tua ke acara wisudaan saya nantinya.”

“Ambil jurusan apa, mbak?”

“Anu mas, pertanian. Rencananya habis lulus mau bantu ngelola sawah punya ayah saya di desa.”

“Waaah, bagus tuh. Emang tinggal di desa mana, mbak?”

“Desa Watukumpul mas. Anu, masnya sendiri juga lagi mau pulang kampung ya?”

“Iya mbak. Saya kerja di proyek bangunan. Sudah setahun saya ninggalin keluarga saya di kampung. Kasihan, mereka udah lama nungguin saya. Nih, ini anak saya umurnya sekarang udah lima tahun. Lucu ya?”

“Iya mas, lucu.”

“Nah kalo yang ini istri saya, mbak. Kayanya dia bakalan marah kalo tahu saya ngajak ngobrol mbak sekarang.”

“Ahaha wong ngga ada apa-apa ya mas ya.”

“Haha iya. Ini kok supirnya ngebut terus ya. Bentar ya mbak saya mau ke depan dulu ngomong sama supirnya.”

“Iya mas.”

Pria itu berjalan ke arah supir.

“Mas bawa busnya bisa pelan-pelan aja ngga? Bahaya takutnya kecelakaan.”

“Lah wong ini sudah malem mas. Jalanan juga udah sepi.” Timpal supir.

“Iya kan tapi tetep bahaya mas.”

“Udah masnya duduk aja di belakang. Kalo mas protes kayak gini, yang ada saya ngga fokus terus nabrak.”

Pria itu berjalan lagi ke bangkunya.

“Gimana mas kata supirnya?”

“Susah mbak, dikasih tahu malah ngeyel orangnya.”

“Duh, gimana ya mas. Kalau kaya gini terus, nanti kita malah ngga sampai-sampai.”

“Yaa mau gimana lagi, mbak. Palingan malam ini kita masuk jurang lagi.”

 

1 disukai 759 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction