Terlambat

Musim kemarau membuat sungai ini surut dan hanya menyisakan bebatuan dengan aliran air yang kecil. Setiap hari, dari bawah jembatan, aku melihatnya.

 

“Aku tidak pernah memintamu melahirkan aku, mah”

-12/04/99

Pagi ini, aku melihatnya lagi. Seorang anak laki-laki berjalan riang dengan sesekali melompat. Tubuhnya yang kecil dengan seragam merah putih yang ia kenakan, membuatku iri akan kehidupannya yang masih panjang. Dia berjalan sendirian di tepi jembatan, di tengah kerumunan anak-anak kecil yang berjalan bersama orang tuanya.

Pagi ini, aku melihatnya lagi. Dia berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita muda. Wanita itu mengenakan pakaian yang sedikit terlihat lebih mahal dibanding dengan orang tua lain yang mengantarkan anak-anaknya. Anak itu memutar badannya dan berjalan mundur, melihat wajah wanita di depannya dan tersenyum. Wanita tersebut sedikit membuang muka dan enggan membalas senyumannya.

Pagi ini, aku melihatnya lagi. Anak kecil itu berjalan sendirian tanpa kehadiran wanita yang mengantarkannya kemarin. Kali ini, untuk pertama kalinya, aku melihat dia memasang raut wajah yang muram dengan sesekali menendang krikil di depannya. Dia sempat melihat ke arahku, ke bawah jembatan. Tempat di mana aku tinggal dan memperhatikannya.

Siang ini, aku melihatnya lagi. Anak itu berjalan dengan seorang wanita yang sebelumnya aku lihat menemaninya di pagi hari, kemarin. Dia membawa selembar kertas dengan menunjuk-nunjuk kertas tersebut ke arah wanita di sebelahnya dengan wajah yang bahagia. Namun wanita itu tidak mempedulikannya dan sibuk memperhatikan ponsel yang ia genggam.

Siang ini, aku melihatnya lagi. Kali ini dia dikelilingi oleh anak-anak seusianya yang menunjuk dan menertawakannya. Dia berjalan menunduk.

Siang ini, aku melihatnya lagi. Wanita yang terkadang menemaninya kini terlihat sedang memarahi anak itu dengan menunjuk-nunjuk selembar kertas yang ia genggam. Sesekali kepalanya terdorong oleh tangan wanita di sebelahnya yang sedang meneriakinya di atas jembatan.

Hari ini, aku tidak melihatnya.

Pagi ini, aku melihatnya lagi. Anak itu berjalan menunduk dan berhenti tepat di tengah jembatan. Menghadap ke bawah, melihat ke arahku. Keramaian pagi hari ini mulai memudar. Anak itu masih terpaku melihat ke arahku.

Tidak berselang lama anak itu menaiki besi pembatas jembatan dan berdiri di tepian jembatan dengan raut wajah yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku melihat seorang pria berjalan hendak melewati jembatan ini. Dia menghentikan langkahnya, mengambil ponsel dari dalam saku celana dan mengarahkannya ke arah anak itu.

Ia termenung melihatku. Tangan kanan yang tengah menggenggam besi pembatas jembatan, ia lepaskan untuk mengusap air mata yang mengalir pelan di pipinya. Anak itu kemudian berbalik dan mencoba menaiki pembatas jembatan. Namun kakinya tergelincir. Kepala anak itu membentur besi dan tubuhnya jatuh di atas bebatuan, tepat di depanku. Pria yang sebelumnya aku lihat hanya menggenggam ponsel, kini berlari dan berteriak meminta pertolongan. Tidak berselang lama, wanita yang selalu kulihat bersama anak itu, berlari dan berhenti di atas jembatan. Wanita itu berteriak dan menangis saat melihat tubuh anaknya terkapar di atas bebatuan yang berwarna merah.

Entah kenapa akhir hidupnya seperti ini. Aku yang selalu memperhatikan dan iri terhadapnya, kini hanya bisa melihat pungung anak itu dengan darah yang mengalir terbawa air sungai, menuju ke arahku.

Tapi setidaknya, sekarang aku mempunyai teman.

640 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction