Hantu

Aku bisa melihat hantu.

Aku sendiri tak tahu pasti kapan aku mulai memiliki kemampuan ini. Yang pasti, semenjak aku pindah ke sekolah ini, aku bisa melihat hantu.

Sosok itu duduk di bangku sebelahku, aku sendiri sebagai murid baru mendapatkan bangku di pojok belakang. Dia sama seperti aku dan murid lainnya, memakai seragam sekolah dan bertingkah seperti murid biasa. Mendengarkan penjelasan guru, mencatat, bahkan mengerjakan soal.

Apa dia tidak tahu kalau dia sudah jadi hantu?

Sebagai murid baru, aku terlalu canggung membahas tentangnya dengan teman sekelasku. Apalagi sepertinya tidak ada satupun murid lain yang sadar akan keberadaannya. Yah, namanya juga hantu. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat mereka, termasuk aku.

Hari menjelang sore, aku masih sibuk dengan catatan pelajaran karena harus segera menyusul materi di sekolah baruku ini. Lalu kusadari hanya tersisa aku di ruang kelas. Aku tertegun. Dengan gerakan pelan aku menoleh ke bangku samping, sosok itu tengah memandangiku lurus dengan satu tangan menopang dagu.

"Nggak pulang?"

Mataku terbelalak. Ini pertama kalinya si hantu mengajakku bicara. Apakah memang hantu bisa bicara?

Aku hanya menggeleng, terlalu gugup untuk menjawab dengan lisan.

"Nggak tahu cara pulang?"

Aku menatapnya kosong, tak mengerti apa yang barusan ia tanyakan.

Tanpa menunggu jawabanku, sosok itu kembali bertanya, "jadi, kenapa kamu meninggal?"

483 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction