Hijrah

Nampak jelas bekas luka yang masih basah, bengkak dan melepuh hampir di sekujur kedua tangannya. Laser itu telah menyakitinya, bahkan lebih sakit dari proses pelukisan naga dan bunga yang pernah dilakukannya beberapa tahun lalu. Di hadapan sebuah cermin ia menatap wajahnya yang seolah menampakkan kumpulan dosa. Dirinya mengingat betapa ia tak hanya memiliki dosa besar saja, tetapi ia telah melukai hati dan perasaan keluarganya. Sebuah penyesalan besar, di mana ia lebih memilih mengenakan kaos kutang juga slayer yang menutupi rambut berstyle androgininya.

Seseorang datang menghampirinya dengan wajah begitu ramah penuh dengan senyuman indah. Orang itu membuka lebar-lebar kain yang dibawa, lalu meletakkan di atas kepalanya.

“Apa aku pantas memakainya?” tanyanya.

“Tentu saja!” sahut sang ibu. “Katanya kamu ingin hijrah!” 

7 disukai 896 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction