Sayap - Sayap Penduduk Bumi

Radar seorang manusia menangkap beberapa sinyal. Perlahan bernaung di kepala, berputar, dan mengusik jiwa-jiwa mereka. Lalu membuat tiap-tiap individu menjadi abai terhadap sesama. Yah, begitulah yang terjadi di daerah kami. Aku telah menjadi salah satu saksi bahwasanya kesedihan adalah hal yang telah terekam dan melekat di benak seluruh penduduk daerah ini. Dan tepat pada siang itu, aku tengah mendapati seorang gadis remaja berdiri dan membawa sebuah batu di tangannya.

"Kenapa kalian berani mengambil nyawa mereka yang tak mengerti apa-apa soal kejadian ini?! Bentaknya kala itu.

"Tutup mulutmu anak muda! Kembalilah atau kami akan menembak mu!" Seorang lelaki yang merupakan rezim itu menodongkan laras panjang ke arahnya.

"Aku tidak akan pernah takut sekalipun aku mati di tangan kalian! Karena aku membela apa yang benar!" Balasnya dengan nada tinggi.

"Kau tau bahwa daerahmu sebenarnya adalah tanah kami! Sudah sepantasnya kami merebutnya kembali!" Ujarnya.

Gadis itu menaikkan alisnya. Dia sempat mencuri pandang ke sebuah masjid yang disebut-sebut sebagai masjid tertua yang ada di daerahnya.

"Aku tidak akan pernah membiarkanmu menghancurkannya!" Bentaknya dengan berlinang air mata.

Aku pun terheran-heran, mengapa gadis itu seakan tak ingin bahwa masjid itu dihancurkan. Dan beberapa saat setelahnya, banyak para warga yang ikut membelanya. Tak sedikit dari mereka yang mati karena tertembak, ada juga yang jatuh terinjak-injak hingga mereka luka parah. Setelah pertempuran hebat itu, aku memberanikan diri bertanya pada salah satu dari mereka yang selamat.

"Apa yang menyebabkan kamu begitu tak ingin jika mereka menghancurkan masjid itu?" Tanyaku sembari menunjuk masjid yang berdiri megah di sana.

"Wahai saudaraku, dahulu kala. Masjidil Aqsa adalah tempat dimana Nabi Muhammad naik ke langit untuk menerima perintah sholat dalam peristiwa Isra Mi'raj. Namun, suatu ketika bangunan itu hancur dan dirikan lagi pada pemerintahan Bani Umayyah."

Dia menghela nafas sejenak, lalu dengan menahan sesak di dadanya. Ia kembali bersuara.

"Dan sudah sepantasnya kami menjaganya. Karena di sanalah, manusia yang mencintai umatnya pernah singgah. Bahkan di hari pembalasan nanti, beliaulah yang paling sibuk untuk menolong umatnya meski beliau tak pernah melihat kami."

Aku pun menahan isak tangis dan memeluk lelaki itu. Lantas aku pamit karena malam mulai kembali menyapa. Sebelum aku pergi, dia berkata padaku.

"Wahai saudaraku, apapun yang terjadi. Setidaknya, kami telah menjadi sayap-sayap pelindung untuk masjid dan tanah suci kami. Kami terbangkan doa-doa ke langit dan kami menggunakan jiwa raga kami untuk membela apa yang seharusnya kami bela. Meski itu berarti kami harus kehilangan nyawa."

Di hari itu, aku menyaksikan bagaimana senja bertegur sapa denganku. Ia menyuguhkan pemandangannya dengan warna jingganya. Dan di hari itu pula, aku telah belajar mengenai arti cinta yang sesungguhnya. Cinta yang berbeda dari kebanyakan cerita cinta yang disebutkan anak-anak manusia di bumi.

18 disukai 13 komentar 1.4K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@binarpn30 : Terimakasih sudah mampir kakak
menyentuh❤
@choirunisaismia : Terimakasih sudah mampir kak
❤❤❤
Sama-sama, Mbak 🙏
@rudiechakil : 😭🥺terimakasih sudah mampir kak
Hiks 😭😭
@setoyuma : Terimakasih kak
Love it
@aleku06 : Terimakasih kak sudah mampir
Saran Flash Fiction