Pada Hitungan Ketiga

Pada hitungan ketiga semua berubah. Bahkan sebelum hitungan dimulai pun beberapa orang mulai berubah. Sudah sejak lama aku mengamati. Sekira tujuh tahun terakhir ini.

Seorang lelaki dengan kain putih yang dililitkan di kepalanya berjalan agak lamban. Dia kesulitan berjalan. Sebab mesti menopang tubuhnya yang begitu beban. Dia berjalan menuju mimbar di hadapan. Satu persatu anak tangga dia naiki perlahan. Hingga akhirnya dia menjejakkan kedua kakinya di anak tangga yang ke tiga dengan napas terengah dan keringat di pelipis bercucuran.

Kali ini akan kubuktikan lagi. Benarkah ucapan lelaki itu seolah mantra nan sakti? Sekali ucap "simsalabim abakadabra" mendadak orang-orang tak sadarkan diri. Kecuali orang-orang dengan iman yang mumpuni. Dia mampu menahan matanya tak terlelap. Sejak mula hingga akhir tak lengah meski sekelap.

Sambil kualihkan pandangan kanan kiri, aku mulai menghitung dalam hati. Ternyata kali ini pun sama seperti pertemuan sebelumnya. Pada hitungan ketiga bahkan sebelum aku sempat menghitungnya pun beberapa orang mulai berubah.

Mendadak orang-orang di sekitar memejamkan mata lalu menundukkan pandangannya. Sihirkah yang diucapkannya? Bukan. Lelaki itu bahkan mengucap asma Tuhan.

Hitungan ketiga. Saat lelaki itu mengagungkan asma Tuhan, hampir separuh orang di sana tak kuasa menahan matanya. Kelopak merapat bak dijahit mati. Napasnya berpacu dalam semilir embusan angin yang merapati dari lubang ventilasi.

Separuh orang terduduk bak orang mati. Jasadnya di sana, entah ruhnya berada di mana.

Lelaki itu pun menyudahi ucapannya. Dia turun dari mimbar. Satu persatu anak tangga dia turuni. Satu persatu orang-orang mulai sadar dari mati suri.

Tunggu. Ternyata masih ada yang belum sadarkan diri. Bahkan perlu ditampar berkali-kali agar ruhnya kembali.

"Mengapa memilih mati, padahal ada kopi untuk menjaga matamu biar rahmat Tuhan merasuk ke hati?" batinku.

Entah ini Jumat yang keberapa, aku masih menyaksikan orang-orang mendadak mati saat khatib membacakan khutbahnya. Entah pada Jumat yang keberapa semua akan berubah.

Takbir mengudara. Semua lelaki di sana berusaha khusyu menyembah Sang Maha. Hingga akhir salam terlantun begitu indah. Upacara pemujaan rutin tiap Jumat pun purna.

****

Jakarta, 02 April 2021.

35 disukai 48 komentar 4.9K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@mariomatutu : Alhamdulillah. Makasih mas Mario. Mgkn kejadian ini tdk hny terjadi di Masjid saat jumaatan. Mgkn jg d tempat ibadah saudara nonmuslim pun jg? Wallahualam. Sayang blm ada nonmuslim yg baca dan berkomentar.
@alwindara : Jangan lupa diseruput sblm dingin ya hehe
@oliphianacubbytaa : Kopi-ah 😂
terus terang, aku sangat suka ini. Pesannya begitu kuat.
Tim kopikap nyimaak
Nice 👍
Jumat besok sedia kopi, ah .. 😄
@hanifarahma : gpp kak, bebas orang menafsirkannya
@ra3mia : kebanyakan apa gmn itu kak? atau perutnya yg gak suport ya hehehe
tapi minum kopi bikin bolak-balik wc, Mas
Setelah baca diskusi yang di grup penulis religi, saya mampir lagi, baca untuk yang ketiga kali. Syarat makna sekali.
Tapi berarti dua kali sebelumnya saya keliru, maafkan 😀
Saran Flash Fiction