Love In Jakarta

Anya berjalan menarik tas koper, dompet terjatuh tercecer di jalan, reseleting tas koper tidak kencang. Berdiri OB lantas mengambil dompet milik Anya. "Huhhh! Dompet gua di mana lagi! Kok bisa hilang!" Anya membuka tas koper. "Udah tengah malam gini, sopir masih belum datang!" kesal Anya berjalan menarik tas koper. "Handfhone pake lowbet lagi! Duit ngak ada" sedih Anya duduk ditrotoar jalan beratap langit gelap sunyi.

Bajaj berhenti didepan Anya "Nih bajaj?" sewot Anya beranjak bangun tarik tas koper. "Udeh malam Neng" Openg ikuti Anya berhenti berbalik. "Nama gua Anya bukan Neng!" sahut Anya emosi. " Iya Anya, maksud Openg hari udah malam" jawab Openg tunjuk bajaj. "Ayo Openg anterin pulang. Tenang aja, jangan takut sama Openg orang baik. Openg ini salah satu sopir bajaj terbaik se'Jakarta" puji sendiri Openg buka pintu bajaj terdengar ringkih suaranya.

"Percaya sama Openg. Anya angak usah takut. Openg anterin Anya sampai kerumah" Openg yakinkan Anya ragu lihat wajah Openg kurang tampan. "Anya mau di angkut Satpol PP?" angkat koper kedalam bajaj sambil tangan Openg tarik Anya naik kebajaj. "Udeh Anya kasih tahu aja di mana alamat rumahnya, Openg pasti anterin" Openg sudah duduk di belakang stang bajaj, tangan kanan Openg menarik handle gas bajaj berjalan rada melompat.

Sedari di Bandara Soeta, Openg ngak capek cerita tentang dirinya sama Anya makin bete dengarin. "Openg cuman lulusan SMA. Cita-cita Openg mau jadi juragan bajaj. Tapi, kata Emak Openg, kalau cita-cita Openg mau kebuktian Openg harus punya bini dulu. Tapi sulit bangat cari bini" tutur Openg tersenyum.

"Masa bodoh itu urusan loe!" celetuk Anya tersenyum lihat Monas dari kejauhan, kuning terang sebongkah emas besar dipuncaknya. Tersenyum Anya melihat kota Jakarta, saat bajaj berhenti diatas jembatan, indahnya kota Jakarta dengan gedung bertingkatnya berpayung gelap malam bulan sempurna. Anya mulai terenyuh setelah mendengar cerita Openg. "Nah udah sampai deh di rumah Anya. Iiih gede juga rumah Anya. Openg mau tuh punya rumah gede, segede rumahnya Anya" Openg turun buka pintu bajaj bantu turunin tas koper.

Anya rada bingung melihat rumah sudah gelap. "Openg tahu kok Anya ngak ada duit. Udah ngak usah bayar" Openg tutup pintu bajaj. Openg udah duduk di belakang stang bajaj. "Tunggu!" tahan Anya berdiri didepan bajaj, Openg bingung. "Laga loe sok baik! Ngak mau di bayar! Nih HP gua ketinggalan, loe sengaja'kan ngak mau di bayar, padahal HP gua bakalan loe ambil!" tuding Anya kesal. "Sumpah Openg ngak tahu HP Anya ketinggalan" sedih Openg di tuduh Anya "Emak Openg ngajarin, biar hidup susah harus jujur" sedih Openg ngambek.

"Maaf'in Anya ya, Openg" tangan kanan Anya diulurkan pada Openg tersenyum. "Ternyata masih ada orang jujur, ya walau wajah Oepng ngepas" ledek Anya pada Openg tersenyum.

Motor berhenti, turun OB menghampiri dan berikan dompet pada Anya. "Mbak ini dompetnya tadi terjatuh" OB tersenyum menolak diberikan uang. "Makasih Mbak" tolak OB naik motor berjalan. "Anya besok mau naik bajaj lagi?" tanya Openg berdiri disamping Anya malu-malu. "Anya mau dibawa bajaj Openg kemana aja" jawab Anya senggol Openg balik senggol Anya. Mereka berdua berdiri disamping bajaj beratap langit makin gelap.

3 disukai 1.1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction