Daun Kelor

"Kaya halaman miliknya aja, hih!"

"Ada apa, sih?" sahut Ibu saat baru memasuki dapur, menghadapi putrinya, Laras, yang menggerutu. 

"Nggak apa-apa." Ketus Laras menjawab. 

Ibu menggeleng pelan, seraya mengeluarkan belanjaan sayur-sayuran yang ia beli dari warung. 

"Jadi anak perempuan jangan ringan ngomongnya! 

Itu tadi Bu Patmi juga menuhi seisi jalan suaranya, rebutan daun kelor, katanya dia ga dapat lagi." Ibu masih menata sayur, kali ini bayam yang kemudian langsung di lepas ikatnya. Mungkin itulah yang ingin dimasak. 

"Ya emang gitu mulut orangnya."

"Hus, terus apa bedanya sama kamu Ras?"

"Apa sih, Bu?"

"Justru jangan dibiasain dari muda gini," Ibu kembali menyahut, "Tapi kalau kaya Bu Patmi tadi, pasti saking jengkelnya sama si cewek yang katanya ngambil daun kelor di halaman Pak Slamet. Katanya, udah booking sama Bu Slametnya, eh Pak Slamet malah izinin keceweknya, padahal Pak Slamet tahu itu udah mau dipetik Bu Patmi katanya.

Oh, tadi sampai dikatain sama Bu Patmi, Pak Slamet emang selalu tunduk sama cewek itu, pantas sih kalo kaya gitu, ya? Jadi diduga-duga." Ibu mendengus sebal. 

"Ini lagi, daun kelornya siapa?" 

Ibu sejenak tertegun saat menatap daun kelor, seketika menengok Laras yang berjalan menuju kamar mandi. Menutup pintunya begitu keras. 

"Laras?"

13 disukai 1 komentar 2.2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Lanjutkan
Saran Flash Fiction