Sinar untuk Genta (Script)
Penulis: Rika Kurnia
Kategori
Drama
Bagian
8
Suka
0
Favorit
QR Code
Bagikan
Pengenalan
Daftar Bagian
Blurb
Sejak kecelakaan 10 tahun lalu yang membuat Sinar harus kehilangan orang tuanya, Tuhan juga harus mengambil fungsi kedua matanya. Sudah 10 tahun Sinar hidup dalam kegelapan. Namun, Sinar adalah gadis yang selalu ceria sehingga ia selalu berusaha untuk tetap berjuang untuk hidupnya yang tidak lagi mudah.
Kisahnya dimulai bukan sejak ia mengalami kebutaan, tetapi ketika ia hendak mencoba peruntungan beasiswa di kampus Pratama sebagai mahasiswi jurusan seni. Khususnya musik piano.
Sebuah insiden terjadi saat Sinar sedang berkeliling sekitar kampus. Sebuah mobil nyaris menabraknya. Gentara Ferdinand, cowok populer yang terkenal dengan sebutan dewa tidak berprasaan meluapkan emosinya karena gadis yang menyebrang jalan sembarangan.
Semenjak itu Genta yang sudah memiliki pacar seorang model selalu merasa penasaran dengan gadis tunanetra itu. Apa yang dilakukannya di kampus ini?

Kisah Sinar bermulai dari sana. Sedangkan hidup Genta berbeda sejak kehadiran seorang Sinar. Gadis yang sama sekali tidak pernah terlintas akan mengganggu perasaannya.
Premis
Seorang gadis yang kehilangan fungsi kedua matanya akibat kecelakaan beberapa tahun lalu, untuk pertama kalinya merasakan jatuh cinta pada seorang cowok galak dan ternyata sudah memiliki seorang pacar sempurna.
Pengenalan Tokoh
1. Sinar Meydina (17) :
Sangat lugu, polos, dan selalu ceria. Gadis yang tidak pernah patah semangat. Dan selalu banyak bicara sehingga dijuluki keran bocor. Menyukai masakan padang. Menjadi pengajar di sanggar musik. Dan sering menghabiskan waktu di panti 'Sinar Harapan', tempat di mana anak-anak penyandang tunanetra seperti dirinya. Memiliki postur tubuh yang mungil dan ramping. Rambut lurus hitam sebahu, hidung mancung yang mungil, dan bibir tipis berwarna merah muda alami. Kulitnya yang kuning langsat dan bersih. Sinar tinggal bersama neneknya di rumah sederhana yang berprofesi sebagai tukang jahit.


2. Gentara Ferdinand (18):
Cowok galak dan sinis pada siapapun yang tidak dikenalnya. Enggan terhadap keramaian tetapi membenci kesepian. Memiliki postur tubuh yang tinggi, hidung besar dan mancung, bentuk mata runcing, dan bibir yang tipis. Warna kulitnya yang eksotis mampu membuat setiap kaum hawa menolak pesonanya. Hanya saja sifatnya yang arogan seringkali membuat siapapun sakit hati karena ucapannya yang seenaknya. Anak tunggal dari orang tua yang sudah bercerai membuat Genta membenci hidupnya dan merasa jika Tuhan tidak adil padanya.


3. Bella (18) :
Seorang model yang menjadi kekasihnya Genta. Dia baik dan selalu ramah terhadap siapapun. Membuat Bella menjadi populer di kampus. Bella seumuran dengan Genta. Mereka kuliah di fakultas yang sama.


4. Andin Serafin (17) :
Sahabat terbaik untuk Sinar. Sedikit tomboy, tetapi tetap memperhatikan penampilannya. Salah satu orang yang sangat baik pada Sinar. Memiliki banyak gebetan tetapi tidak punya pacar satupun. Meski selalu galak, penampilan Andin terkadang feminim karena ia memprioritaskan penampilan. Katanya biar makin banyak gebetannya. Selalu membela Sinar dan mencemaskan Sinar. Andin adalah anak orang kaya di mana mamanya menjadi salah satu langganan neneknya Sinar. Hal itu yang menjadikan Andin dan Sinar saling bersahabat. Andin memiliki postur yang lebih tinggi dari Sinar. Tubuhnya juga padat berisi tetapi tidak begitu gemuk. Kulitnya putih bersih dengan rambut yang segi pendek dan diberi cat warna merah.


5. Nenek Miranda (60): Tegas, baik hati dan penyayang. Sangat mencintai Sinar. Sikapnya lembut. Meski sudah berusia 60 tahun, Miranda masih terlihat energik dan tegas bagi siapapun yang akan menyakiti Sinar.


6. Bu Ruri (50):
Bijaksana, baik hati dan penyayang, tegas dan pengertian. Wanita berusia sekitar 50 tahun ini adalah wanita pemiliki panti Sinar Harapan. Bu Ruri adalah adik kelasnya Mira dahulu. Mereka sudah bersahabat sejak lama. Bu Ruri memiliki jiwa sosial yang tinggi dan menyukai anak-anak terutama bagi mereka yang menyandang status disabilitas.


7. Bary (18) :
Teman geng Genta yang memiliki sikap konyol. Sering bercanda dan meledek Genta dengan sindiran-sindiran isengnya. Bary memiliki kulit putih bersih dan rambut lebat berwarna hitam legam, serta postur yang lebih pendek dari Genta. Kebiasannya ceplas-ceplos. Bary selalu setia pada Genta. Bahkan Bary menerima saja perlakuan semena-menanya Genta. Meski begitu Bary selalu menjadi teman atau ajudan setianya Genta.


8. Niko (18) :
Sama dengan Bary, Niko juga teman satu geng Genta. Mereka bertiga selalu bersama di kampus. Postur badan Niko tidak jauh dari Bary. Hanya saja kulit Niko lebih cokelat dari Bary dan Genta. Niko juga tidak sekonyol Bary yang suka ceplas-ceplos. Niko sedikit lebih bijaksana dari Bary. Hidungnya Niko juga tidak semancung Genta dan Bary. Wajahnya pas-pasan tapi cukup populer karena teman satu gengnya Genta.
Sinopsis
Sinar Meydina adalah gadis berusia 17 tahun yang periang, ramah terhadap siapapun, dan pantang menyerah. Sinar seperti gadis remaja pada umumnya. Namun, ada satu hal yang berbeda dari dirinya. 10 tahun yang lalu, sebuah kecelakaan mobil terjadi sehingga membuat Tuhan harus mengambil fungsi kedua mata Sinar. Bukan hanya itu saja, sebab karena tragedi itu pun membuat Sinar harus kehilangan kedua orang tuanya. Sejak saat itu, Sinar tinggal bersama sang nenek di rumah yang sederhana. Miranda, adalah wanita tua yang sudah belasan tahun hidup menjanda dan memiliki profesi sebagai tukang jahit. Nenek Mira amat mencintai Sinar. Cucu satu-satunya dari putra tunggalnya, Hadi Pranoto.

Meski awalnya sangat berat, Sinar mencoba untuk bertahan sekuat mungkin. Sinar tidak ingin kebutaannya ini menjadi akhir hidupnya. Apalagi masih ada nenek Mira yang selalu berada di sisinya. Kapan pun itu. Ya, walaupun tidak dipungkiri jika sebagian orang yang ditemui Sinar sering berbisik sarkas untuknya. "Cantik-cantik tapi, kok, buta?". Salah satu kalimat yang sering Sinar dengar di jalan, di angkutan umum, di halte, dan di tempat-tempat lainnya yang pernah Sinar lewati. Memang, meski menjadi penyandang sebagai gadis tunanetra, tidak dipungkiri jika Sinar memilii paras yang elok. Tubuhnya yang mungil dan ramping membuatnya tampak awet muda. Bahkan pernah ada yang mengira Sinar adalah siswi SMP. Selain itu bola matanya yang berwarna cokelat alami dan rambut sebahu yang lurus dan hitam, membuat banyak pasang mata yang heran karena gadis cantik itu adalah seorang gadis buta. Belum lagi kulit kuning langsatnya yang semakin memadukan keindahan seluruh proposional bagian tubuhnya.

Sinar memiliki hobi berbicara sepanjang rel kereta. Karena baginya, dengan begitu ia merasa percaya diri. Sinar selalu berusaha menjadi satu dengan dunia di luar sana. Sinar tidak ingin jika ada orang yang beranggapan bahwa, kebutaannya dapat menjadikannya pribadi yang minder atau menarik diri pada dunia. Karena Sinar merasa jika ia sama dengan mereka. Sama-sama manusia yang berharga. Sama-sama ciptaan Tuhan yang sempurna.

Selain itu, Sinar mahir bermain piano. Satu tahun terakhir sebelum kecelakaan mobil terjadi pada keluarganya, Sinar memang mengikuti les musik piano. Namun, saat itu Sinar masih sangat pemula. Ajaibnya, ketika Sinar kehilangan penglihatannya, justru permainan pianonya menjadi berkembang pesat. Tepatnya saat Sinar sedang terpuruk akibat kegelapan yang baru saja menyerang hidupnya, beberapa tuts piano yang Sinar tekan dengan jemarinya, membuat perasaan Sinar tenang, nyaman, dan bahagia.
Gadis yang memiliki bibir tipis dan merah muda alami ini sangat menyukai masakan padang. Padahal ayahnya asli Bandung dan mamanya lahir di Jakarta. Tidak hanya itu kelebihan seorang Sinar, karena kebisaannya bermain piano, setahun belakangan ini Sinar mengajar di sebuah sanggar musik anak-anak. Awalnya memang sulit untuk Sinar beradaptasi. Contohnya, menulis not di papan tulis atau banyak suara bising anak-anak yang mempertanyakan kedua mata Sinar. Namun, hal itu tidak berlangsung begitu lama lantaran Sinar yang mampu membaur dengan cepat. Bahkan, kini anak-anak di sanggar sangat menyayangi Sinar. Permainan pianonya lah yang pertama kali mampu membuat bungkam para anak itu. Sinar memang spesial dan istimewa.

Sejak kegelapan menelan semua pandangannya, Sinar hanya memiliki satu orang teman yang selalu baik kepadanya. Andin, adalah anak dari seorang wanita kaya yang selalu berlangganan dengan nenek Mira. Seringnya Andin yang mengambil pesanan baju ke nenek Mira, membuat Andin sering juga bertemu dengan Sinar. Dan hal itu-lah yang akhirnya membuat mereka menjadi sepasang sahabat. Bisa dibilang jika Andin dan Sinar adalah dua sahabat dengan kepribadian bertolak belakang. Jika Sinar termasuk gadis polos nan lugu, berbeda dengan Andin yang sedikit galak dan memiliki banyak gebetan. Namun, di samping itu semua, Andin sangat tulus terhadap Sinar. Bahkan, seringkali Andin marah-marah kepada siapapun yang berani mencemooh Sinar.

Warna baru dalam kisah Sinar bermulai ketika Andin memberikan informasi mengenai beasiswa di sebuah universitas bergengsi di kawasan Depok, Jawa Barat. Universitas Pratama. 2 tahun lalu, Sinar pernah mendengar siaran berita di televisi tentang kampus tersebut. Ada seorang mahasiswa tunanetra yang berhasil lulus dari kampus itu dengan prestasi yang luar biasa. Sekarang mahasiswa itu sudah berhasil menjadi seorang pemain biola profesional di luar negri. Jadilah Sinar termotivasi dengan kisah tersebut. Sinar berharap dirinya bisa menjadi salah satu mahasiswi di kampus Pratama.
Hari pertama Sinar dan Andin datang ke kampus pratama untuk mengetahui lebih jelas bagaimana proses mengikuti alur beasiswa itu, ada sebuah insiden kecil yang dialami oleh Sinar. Ketika Andin berada di ruangan informasi pendaftaran, Sinar hendak mencari toilet ke sekitar kampus. Karena Sinar belum terbiasa dengan tempat yang baru didatanginya ini, membuat Sinar kesulitan menghapal jalan yang dilaluinya. Alhasil ada sebuah mobil yang nyaris saja menabraknya. Tentu saja Sinar terkejut bukan main sampai tongkat pemandunya saja jatuh entah kemana. Apalagi orang yang mengendarai mobil itu bersikap tidak baik terhadapnya. Sinar mendapatkan kemarahan besar. Sinar hanya bisa meminta maaf berulang kali karena memang ini salahnya.

Genta adalah laki-laki yang nyaris menabrak Sinar siang itu. Genta sangat marah dan berbicara kasar pada Sinar. Namun ada hal yang baru disadari oleh Genta, yaitu arah pandang Sinar yang tidak pada tempatnya. Bella, kekasihnya yang pada saat itu juga sedang bersama Genta menyadari jika ada yang berbeda dari Sinar. Jahatnya Genta bertanya langsung secara to the point ke Sinar apakah ia buta?
Genta adalah seorang laki-laki berusia 18 tahun yang terlahir dari keluarga kaya. Dia adalah anak tunggal dari pasangan Yoga dan Sinta. Sayangnya orang tua Genta bercerai sejak usianya baru 7 tahun. Sinta, mamanya Genta pergi dari rumah meninggalkan dirinya dan ayahnya, Yoga. Belum lagi Yoga yang semenjak itu selalu sibuk dengan masalah pekerjaannya. Yoga jarang berada di rumah. Dan hal yang membuat Genta jadi membenci Yoga adalah kebiasaan Yoga yang membawa wanita berbeda ke rumahnya. Memperkenalkan wanita itu sebagai kekasih barunya. Semenjak itu Genta tidak lagi menganggap Yoga sebagai ayahnya. Genta sangat membenci hidupnya. Tidak peduli kemehawan yang ia dapat dan nominal uang yang selalu banyak di rekeningnya tidak bisa membuat Genta mengerti apa itu bahagia. Genta lebih banyak menghabiskan waktu di kampus yang juga milik ayahnya. Hanya saja kampus Pratama dialihkan sepenuhnya oleh adik dari sang ayah, Broto yang tidak lain tidak bukan adalah pamannya Genta.

Bagi Genta menghabiskan waktu di kampus lebih baik dari pada ditelan kesunyian di rumah mewahnya. Hanya ada beberapa pekerja rumah yang berlalu lalang di sekitarnya. Tetapi sayangnya Genta justru tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya di kampus. Berulang kali Genta mendapat gangguan dari banyaknya mahasiswi yang selalu saja mendekatinya. Karena wajar bagi kaum hawa yang melihat Genta 90 persen akan terpesona padanya. Wajah Genta yang bak aktor hollywood itu mampu menghipnotis gadis manapun. Tatapan matanya yang tajam, ototnya yang kekar, hidungnya yang seperti prosotan TK, bentuk matanya yang runcing, dan kulitnya yang eksotis. Belum lagi kriteria posturnya yang tinggi, rambut hitam legamnya, dan bibirnya yang tipis, tentu saja tidak akan ada yang mampu menolaknya. Apalagi sudah banyak yang tau jika Genta adalah keponakannya Broto, rektor kampus sekaligus orang yang paling berkuasa di kampus Pratama.

Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Sebab kalaupun karakter Genta sesempurna itu, tidak dengan sifatnya yang arogan. Genta selalu bersikap jutek kepada siapapun yang tidak dikenalnya. Kepada dua temannya saja, Bary dan Niko, Genta sering sekali bersikap semena-mena terhadap mereka. Banyak gadis yang sudah ditolaknya mentah-mentah mengatakan jika Genta adalah dewa tidak berprasaan. Karena meski wajah dan tubuhnya yang ideal, tidak selaras dengan sifatnya yang sinis dan kalau berbicara semaunya tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Karena seringnya Genta mendapat pernyataan cinta dari gadis-gadis tidak jelas, membuat Genta pada akhirnya memutuskan untuk mencari pacar. Sebuah ide yang tercetus dari Bary. Sebab dengan begitu bisa saja tidak akan ada lagi gadis yang menganggunya. Saat itu juga dengan secepat kilat Genta asal menunjuk seorang gadis di kampusnya untuk dijadikan sebagai kekasihnya. Tanpa memikirkan perasaan gadis itu kelak, Genta dengan muka temboknya menjadikan Bella sebagai pacarnya hanya untuk semata-mata menjadikan Bella tameng untuknya. Genta bahkan tidak memikirkan dampaknya nanti.

Bella Cantika, gadis berparas model profesional karena selain menjadi mahasiswi di kampus Pratama, Bella juga berprofesi sebagai model. Tubuhnya yang semampai, kulit putih mulus, dan rambut panjang bergelombang cukup sepadan jika berpasangan dengan seorang Genta yang populer. Jadi bisa dipastikan jika tidak ada gadis manapun yang berharap lagi pada Genta jika standarnya Genta saja sudah level paling tinggi seperti itu. Bella juga mempunyai kepribadian yang ramah. Membuat siapapun di kampus cepat mengenalinya. Belum lagi identitas Bella yang sering terpublikasi di mading karena prestasi modellingnya.

Berbeda dari Genta yang hanya menjadikan Bella peri pelindung, tidak dengan gadis baik hati ini yang tulus menyukai Genta. Bahkan pernah Bella mendengar pembicaraan Genta bersama dua temannya tentang alasan Genta menjadikannya pacar. Bella sudah tahu, tetapi tetap mempertahankan hubungannya dengan Genta sampai satu tahun terakhir ini. Dan hubungan mereka yang baik-baik saja berubah sejak hadirnya gadis lain di hidup Genta.

Hari berikutnya Sinar bersama Andin kembali datang ke kampus Pratama untuk menyerahkan formulis pendaftaran. Pengisian formulir untuk Sinar dibantu oleh Andin. Kecuali dengan pelaksanaan tes nanti, Sinar akan mendapatkan sistem khusus dari pihak kampus yaitu menggunakan metode braille. Ketika mereka selesai dan hendah menyerahkan formulir ke bagian pendaftaran, ada sesuatu yang membuat Sinar terjauh. Atau lebih tepatnya ada seseorang yang dengan sengaja membuat Sinar terjatuh karena menjulurkan kakinya guna menghadang jalannya Sinar. Andin geram pada orang yang tak lain adalah Genta. Diam-diam Genta mengikuti Sinar dan Andin ketika smpat melihat mereka duduk di kantin. Genta penasaran dengan gadis tunanetra yang berada di kampusnya. Apa yang dilakukan gadis itu di sini ?

Sinar mencoba melerai perdebatan Andin dan Genta. Ucapa Sinar yang aneh justru membuat Genta semakin menggelengkan kepala tentang uniknya gadis tunaetra itu. Hal yang membuat Genta semakin jauh rasa penasaran itu hinggap di benaknya. Genta terus mengikuti Sinar dan Andin secara diam-diam. Dari situ juga Genta mulai tahu jika Sinar berniat mendaftar kuliah di kampusnya dengan jalur beasiswa.

Tidak hanya sampai di situ saja, sebab Genta tidak berhenti mengikuti Sinar sampai gadis itu mendatangi sebuah rumah sederhana yang bertuliskan ‘Panti Sinar Harapan". Hati Genta bertanya-tanya tentang apa yang Sinar lakukan di dalam sana. Mungkinkah itu tempat tinggal Sinar? Kemudian Genta baru tersadar dengan apa yang dilakukannya ini. Ia bingung setengah mati untuk apa tindakannya ini. Terlalu jauh rasa penasarannya hanya karena ia baru pertama kali melihat seorang gadis tunanetra yang menurutnya cukup ... cantik.

Malam itu Genta mendapatkan telepon dari Sinta, mamanya. Genta dimintai tolong untuk mengambil pesanan di seorang tukang jahit langganan mamanya. Genta yang sudah tahu niat mamanya menelepon untuk itu membuat Genta semakin membenci mamanya. Pikir Genta, mamanya memang sudah tidak peduli lagi padanya. Namun, meski begitu tetap saja Genta menerima permintaan tolong mamanya dengan sikap dingin seperti biasa.

Paginya sebelum Genta datang mengambil pesanan mamanya, ia mengantar Bella ke bandara terlebih dahulu. Minggu ini Bella harus melakukan pemotretan di luar negri. Biasanya sesekali Genta yang mengantarnya, tetapi kali ini Genta menyuruh Bary dan Niko yang menjaga Bella selama kekasihnya bekerja di sana. Sepulang dari bandara, Genta langsung menuju alamat yang sudah diberikan oleh mamanya via chat. Sebuah rumah sederhana dengan halaman luas yang penuh tanaman hijau. Seorang wanita berusia 60an yang tinggal di sana. Dan ternyata ada hal tak terduga yang terjadi pada Genta di rumah wanita itu. Sinar, adalah cucu dari wanita tukang jahit yang menjadi langganan mamanya. Entah ini kebetulan atau takdir? Genta tidak habis pikir jika ia akan bertemu dengan gadis tunanetra itu.

Seperti sebelumnya, lagi-lagi Genta mengikuti Sinar secara diam-diam. Kali ini Sinar mendatangi sebuah gedung luas yang ternyata itu adalah sanggar musik. Sinar menjadi salah seorang pengajar piano untuk anak-anak di sanggar tersebut. Untuk kesekian kalinya Genta merasa takjub atas kebisaan Sinar yang belum tentu orang normal bisa melakukannya. Belum lagi untuk pertama kalinya Genta mendengarkan Sinar bermain piano. Genta yang tidak menyukai keramaian tetapi membenci kesepian, untuk pertama kalinya merasakan eforia baru dalam perasaannya ketika mendengar musik piano yang dimainkan oleh Sinar. Sepulang Sinar dari sanggar, Genta kembali mengikuti Sinar sampai di sebuah halte. Genta menawarkan tumpangan ke Sinar lantaran cuaca kala itu terjadi hujan deras. Selama perjalanan di mobilnya, Genta dibuat geleng kepala oleh Sinar karena ucapan Sinar yang tidak ada habisnya. Sampai di rumah Sinar, ia terkejut karena Genta yang sudah mengetahui alamat rumahnya sebelum Sinar memberitahunya.

Selain insiden di kampus ketika Sinar nyaris tertabrak mobil Genta, pernah malam itu Sinar juga hampir tertabrak mobil Genta di jalan raya besar. Kondisi Genta saat itu setengah sadar karena pengaruh alkohol. Genta juga pingsan di pelukan Sinar sehingga terpaksa Sinar bersama petugas keamanan yang pada saat itu menghampirinya, membawa Genta ke sebuah taman sampai menjelang pagi. Sayangnya sebelum Genta terbangun, Sinar harus segera pulang karena nenek Mira sudah mencemaskannya. Akhirnya Sinar harus meninggalkan Genta sendiri.

Beberapa hari setelahnya Sinar melakukan ujian tertulis di kampus Pratama dengan metode braile. Sinar sangat berharap bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Namun, harapannya musnah ketika pihak kampus memberitahu Sinar jika ia gagal, dengan alasan kampus Pratama tidak lagi menerima mahasiswi tunanetra. Hanya penyandang disabilitas lainnya, kecuali tunanetra dan tunawicara. Sinar menangis seorang diri sampai suara tangisnya menganggu Genta yang pada saat itu sedang tertidu di belakang ruang musik sehingga Genta tahu jika Sinar gagal dalam ujian masuk ke kampusnya. Ketika Sinar hendak pergi dari kampus, Genta berlari menemuinya. Genta memberikan sebuah amplop jika Sinar mendapatkan kesempatan untuk melakukan tes praktik bermain piano. Sinar bertanya-tanya tentang keputusan yang cepat berubah begini. Namun, akhirnya Sinar tidak ambil pusing lagi kerena baginya ini adalah hadiah dari Tuhan. Dan yang sebenarnya terjadi adalah karena Genta. Laki-laki itu secara pribadi meminta pamannya, Broto untuk langsung meloloskan Sinar sebagai mahasiswi penerima beasiswa.

1 minggu setelah Sinar resmi menjadi mahasiswi di kampus Pratama, ia bertemu dengan Bella untuk kedua kalinya di toilet. Bella yang pada saat itu merasa wajah Sinar tidak asing menegurnya lebih dulu. Bella membahas kejadian beberapa waktu lalu saat Sinar hampir ditabrak oleh mobil pacarnya. Sinar menyebut Genta dan detik itu juga Bella mulai heran dari mana Sinar mengenal Genta. Sejak kapan keduanya saling berkenalan. Bella mempertanyakan langsung ke Genta, tetapi Genta mengaku jika ia tidak mengenali Sinar. Di saat yang bersamaan Sinar melintas di depan keduanya dan Bella mengajak Sinar untuk pulang bersama dengan mobil Genta. Selama perjalanan terjadi keheningan di antara mereka. Sesekali Genta melirik ke Sinar melalui spion dan Bella menyadari hal itu. Lalu Bella memulai obrolan dengan bertanya banyak hal ke Sinar. Selain itu Sinar juga mengundang Bella dan Genta untuk datang ke acara tahunan panti sekaligus merayakan hari ulang tahunnya. Bella dan Genta terkejut sebab di hari yang sama mereka juga akan merayakan hari ulang tahun Genta.

Di malam perayaan ulang tahun Genta, laki-laki itu tampak gelisah. Konyolnya lagi Genta meminta ijin ke Bella untuk meninggalkan pesta ulang tahunnya sendiri. Tentu saja hal tersebut memicu kemarahan pada Bella yang langsung menduga jika Genta akan datang ke acaranya Sinar. Akhirnya Genta pergi begitu saja tanpa menjawab tuduhan Bella. Di waktu bersamaan tetapi di tempat berbeda, di acara panti dan ulang tahun Sinar, gadis itu tampak tidak seperti biasanya. Sejujurnya Sinar mengharapkan kedatangan seseorang yang sudah jelas-jelas tidak akan datang. Di malam itu juga Sinar mulai mengakui isi hatinya pada nenek Mira. Sinar merasa tidak pantas dan sudah salah menyukai Genta yang sudah jelas memiliki seorang kekasih. Saat obrolan itu, Sinar dan nenek Mira dibuat terkejut oleh Andin yang datang tiba-tiba dengan memberi kabar jika Genta datang ke panti. Andin bingung bukan main tentang bagaimana ceritanya Genta tahu tentang panti, termasuk Sinar yang ternyata sudah mengenal Genta. Sejak malam ini, Sinar dan Genta menjadi lebih dekat dari sebelumnya.

Saat di kampus pun Genta sudah semakin menunjukan kepeduliannya pada Sinar. Contohnya saat Sinar menerima cibiran dari beberapa mahasiswi rese di kampus dan memperlakukan Sinar seenaknya. Dengan jelas dan tegas Genta memberi perlindungan ke Sinar. Saat itu Sinar terjatuh akibat jalannya dihadang oleh satu mahasiswi. Genta tanpa peduli dengan siapapun yang akan memperhatikannya, menggendong Sinar dan membawanya ke klinik. Hal itu juga disaksikan oleh Bella dari kejauhan. Tepat di waktu yang sama juga, Sinar mulai berani menyatakan perasaannya ke Genta meskipun tidak meminta jawaban apa-apa. Sejak itu juga perasaan Genta pada Sinar tidak terelakan lagi. Genta meminta Sinar bermain piano untuknya sebagai kado ulang tahunnya.
Sementara itu Bella sudah mulai lelah dengan hubungannya bersama Genta yang ternyata tidak bisa lagi dipertahankan. Bella yang selalu berharap jika hati Genta bisa berubah akan menyukainya dengan tulus, tetapi justru perasaan Genta padanya tetap sama. Apalagi sejak kehadiran Sinar dalam hidup Genta. Bella akhirnya mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan dengan Genta. Bella yang lebih dulu memutuskan Genta dan mengatakan bahwa ia akan berangkat ke London untuk menerima tawaran model di sana sekaligus melanjutkan kuliah di sana. Genta merasa bersalah karena selama ini Bella adalah gadis yang baik dan tidak pernah menuntut apa-apa darinya. Terlebih ketika Bella mengatakan jika ia sudah tahu kebenaran tentang alasan Genta yang menjadikannya pacara hanya karena mencari sebuah perlindungan. Bella sudah mengetahui itu sejak lama dan semakin membuat Genta berhutang budi pada Bella. Namun, bagaimanapun mereka tetap putus.

Setelah hubungannya benar-benar berakhir dengan Bella, Genta semakin menunjukan perasaannya pada Sinar. Bermula dari memberikan Sinar hadiah ulang tahun berupa piano. Berlanjut ke panti, Genta datang seorang diri ke sana dan memberikan donasi ke panti. Sayangnya Genta yang berencana akan menyatakan perasaan ke Sinar, justru ada masalah besar yang menimpa hidup Sinar. Seorang pria berusia 45 tahunan datang menemui neneknya. Dia adalah Hadi yang mengaku sebagai ayahnya Sinar. Tentu saja Sinar sangat terkejut karena yang ia tahu dari neneknya adalah kedua orang tuanya sudah meninggal dunia akibat kecelakaan 10 tahun lalu. Namun, pria ini berkata lain. Hadi juga memberikan kabar kalau istrinya, Riana yang tidak lain adalah mamanya Sinar sedang terbaring di rumah sakit. Maka dari itulah alasan Hadi menemui Sinar karena meminta Sinar untuk bertemu Riani di ujung hidupnya. Riana mengidap kanker ginjal. Hanya donor ginjal dari seorang keturunannyalah yang mampu menyelamatkan hidupnya. Meskipun kecewa karena alasan orang tuanya sudah membuangnya begitu saja adalah kebutaannya, Sinar ingin mendonorkan ginjal untuk Riana.

Nenek Mira dan Genta menolak keras keputusan Sinar tersebut. Genta bahkan marah besar sampai meluapkan emosinya pada Sinar. Di situ juga secara tidak langsung Genta mengungkapkan jika ia menyayangi Sinar. Ia sangat peduli pada Genta. Makanya Genta tidak ingin kalau ada sesuatu yang buruk menimpa Sinar. Di waktu bersamaan Sinar merasa bahagia atas perasaan Genta, tetapi di saat ini juga ia harus menjadi pendonor bagi mamanya.

Bukan hanya Sinar yang mengalami kegelapan dalam hidupnya, Genta juga baru mengetahui rahasia besar yang selama ini tidak diketahuinya. Pagi itu Genta mendengar percakapan mama dan papanya di ruang tamu. Setelah sekian lama Sinta datang menemui Yoga untuk meminta Genta tinggal bersamanya. Sinta mengatakan jika sebentar lagi Yoga tidak akan membutuhkan Genta lagi karena secepatnya Yoga akan menikahi wanita lain. Sedangkan Sinta meyakinkan Yoga jika ia sangat membutuhkan Genta. Yoga menolaknya. Sampai Sinta harus membongkar masa lalu kelam bahwa Genta bukan anak kandung Yoga. Dan Genta mendengar semua itu. Genta tercengang dan memaksa kedua orang tuanya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

12 tahun lalu ketika Genta terjatuh dari pohon dan kepalanya harus membentur batu, Genta dilarikan ke rumah sakit dan mengalami pendarahan. Genta harus segera mendapatkan donor darah yang pada saat itu stok darah rumah sakit masih dalam perjalanan. Anehnya antara Sinta dan Yoga tidak ada yang memiliki golongan darah sama dengan Genta. Saat itu juga Yoga meminta penjelasan pada Sinta. Yoga baru mengetahui jika Genta bukan anak kandungnya. Hati Yoga hancur karena merasa dikhianati oleh wanita yang amat dia cintai sejak lama. Yoga menceraikan Sinta dengan kesepakatan yang mereka buat jika Genta harus tinggal bersama Yoga. Sebab Yoga sudah terlanjur menyayangi Genta sebagai putranya. Hanya saja Yoga tetap tidak bisa menerima Sinta karena terlalu sakit ketika melihat wajah Sinta setiap hari. Mengambil Genta dari Sinta juga termasuk hukuman yang diberikan Yoga untuk mantan istrinya itu.
Setelah mengetahui semuanya Genta pergi meninggalkan rumah begitu saja. Genta tidak akan memilih di antara Yoga dan Sinta. Selain karena Genta yang merasa bersalah pada Yoga sudah sangat dibencinya, Genta juga tidak bisa memaafkan Sinta begitu saja. Karena ternyata Sinta-lah yang menghianatinya sejak awal. Bukan Yoga yang memiliki banyak pacar. Di dalam perjalanan Genta berkecamuk dengan amarahnya, sebuah pesan suara terkirim ke ponselnya. Itu suara Sinar yang mengatakan bahwa malam ini juga ia harus melakukan operasi pencangkokan ginjal. Genta mempercepat laju mobilnya karena ingin menghentikan operasi itu. Namun, sialnya Genta harus mengalami kecelakaann.

Sadarnya Sinar dari operasi, lagi-lagi Tuhan memberikannya hadiah tak terduga. Kedua mata Sinar kembali berfungsi lagi. Sinar terkejut sekaligus bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Karena sesungguhnya sebelum Sinar mendonorkan ginjal ke mamanya, justru Riana lebih dulu mengembuskan napas terakhir setelah memberi wasiat jika ia akan mendonorkan kornea matanya ke Sinar. Di samping itu Genta yang menemui Sinar dengan duduk di kursi roda merasa bahagia dengan Sinar yang sudah bisa melihat.

1 bulan berlalu.
Genta cuti kuliah dengan alasan ingin beristirahat dalam rangka memulihkan tubuhnya sehabis kecelakaan. Setidaknya itu yang dikatakannya pada Sinar. Karena yang sebenarnya adalah Genta tidak lagi tinggal bersama Yoga ataupun Sinta. Genta menyerahkan semua fasilitas yang sudah diberikan Yoga. Genta bekerja di kafe dekat kampus sebagai pelayan. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Sinar mengetahui keadaan Genta yang sebenarnya. Sinar meminta penjelasan pada Genta. Di waktu bersaaam pula tiba-tiba sebuah cairan merah kental mengalir dari hidung Genta. Genta pingsan, Sinar panik.

Genta berdalih pada Sinar jika tubuhnya tidak terbiasa bekerja dan menyebabkan dirinya harus mengalami mimisan. Itu hal yang wajar saja, kata Genta. Sinar yang semulanya sangat khawatir akhirnya bisa percaya jika Genta baik-baik saja. Sinar juga hampir membatalkan keikutsertaannya pada pentas musik piano bersama anak-anak sanggar di Bandung. Untungnya Genta terus memaksa gadisnya itu untuk tetap mengikuti kegiatan tersebut.

Sepulang dari Bandung, Sinar dijemput oleh Bary yang langsung membawanya ke rumah sakit menemui Genta. Namun, Sinar heran ketika Bary mengajaknya ke depan ruang operasi. Sinar bertanya-tanya tetapi tidak ada satupun yang mampu menjawabnya. Dua jam berlalu pintu ruang operasi terbuka lebar. Sebuah bangkar keluar yang di atasnya terbaring Sinta yang sedang tidak sadarkan diri. Sinar bingung setengah mati dengan apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi suasana di sekitarnya membuat jantung Sinar terus berdebar kuat. Yoga, Bary, dan Niko yang berada di sana bersamanya dalam wajah yang sedang tidak baik-baik saja. Apalagi Yoga, mata pria itu berkaca-kaca. Kemudian Sinar melihat satu bangkar lagi di dalam ruang operasi. Hanya saja bangkar itu tertutupi penuh oleh kain hijau. Sinar berlari ke dalam dan mempertanyakan yang jawabannya sudah ada di ujung lidahnya. Benar adanya jika itu adalah Genta yang sudah terbujur kaku.

Akibat dua kali mengalami kecelakaan pada kepalanya, membuat Genta sering merasaka sakit kepala hebat beserta mimisan. Selain itu beberapa kali Genta juga sampai muntah dan kejang. Genta sadar jika tidak ada yang tidak beres di dirinya. Benar adanya jika dokter mengatakan ada masalah besar pada bagian kepala Genta yang diakibatkan dari benturan benda keras saat terjadi kecelakaan dua kali pada dirinya. Tidak ada yang bisa dilakukan dokter termasuk operasi atau terapi. Genta hanya diberikan obat pereda rasa sakit yang hanya bertahan sebentar. Lama-kelamaan Genta akan mengalami hilangnya saraf motorik dan berangsur ke indera lainnya sehingga akan membuat Genta lumpuh total. Genta tidak ingin jika semua itu terjadi pada dirinya. Dan itulah alasan Genta yang pada akhirnya memutuskan mendonorkan kornea untuk mamanya, Sinta.

Beberapa hari setelah mengetahui keadaan tubuhnya, Yoga dan Sinta meminta Genta datang menemui mereka. Yoga mengatakan jika Sinta mengidap glukoma yang mana sebentar lagi penglihatannya tidak akan berfungsi lagi. Sinta memohon pada Genta untuk tinggal bersamanya dan membiarkannya melihat wajah Genta sebelum kemungkinan buruk itu terjadi.

Sinar tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar semua cerita yang sama sekali tidak ia dapatkan dari Genta. Bahkan, laki-laki itu tidak berpamitan sedikitpun padanya. Sinar hancur.

1 tahun kemudian.
Di hari perayaan ulang tahun Sinar, semuanya berkumpul di panti termasuk Bella yang mulai kembali ke Indonesia sejak sebulan terakhir. Sinar terkejut ketika Niko memberikan hadiah kecil yang di dalamnya bertuliskan nama Genta. Itu adalah flashdisk berisikan video Genta mengucapkan salam perpisahan untuk Sinar. Dan berkat melihat keseluruhan isi video itu, perasaan Sinar menjadi lebih baik meskipun Tuhan mengambil hadiahnya kembali.


TAMAT
Komik Untukmu