Kepala Bawah Tanah

Joni membuka pintu sebuah gudang di pinggir jalan yang amat pelosok. Semua teman dekatnya lekas bangkit dan menyalaminya. Joni meladeni semua protokol basa-basi kelompok bentukan Ria. Sebenarnya Joni merasa canggung diperlakukan begitu, tetapi apa boleh buat akibat kepemimpinannya isu tolak reklamasi menjadi sorotan tajuk berita ibu kota. Walau begitu Joni masih bersembunyi di tempat mereka, ia tidak punya birahi untuk unjuk tampang di sosial media. Baginya sosial media adalah tempat orang tanpa busana dan mau menampilkan siapa mereka sebenarnya. Aneh betul, pikir Joni.

Ria meminta Joni untuk melihat peta jalan utama di dekat pantai kuta. Ia menjelaskan bahwa mereka mau mengadakan pameran dadakan. Joni lekas mengamati jalan utama itu dan memperkiran segala kemungkinan buruk yang akan muncul. Ia geleng-geleng kepala. Ria menaikan alisnya. Mereka bertukar gelisah selama beberapa menit. Teman dekat mereka hanya mampu menghisap rokok sambil menunggu keputusan dua orang itu. Kalau tidak ada kata sepakat maka rencana mereka gagal total. Namun seniman seperti mereka tidak mudah patah arang. Mereka sudah didik oleh Joni untuk tahan banting dan bermental baja. Kalo kata pimpinan mereka begini. Kalau satu pintu ditutup pasti ada pintu lain yang terbuka. Tugas seniman tinggal mencari pintu itu saja. Mereka otomatis mengamini ucapan sang kepala bawah tanah.

Usulan pameran dadakan tidak berhasil disetujui. Ria duduk dengan tatapan kecewa. Sama halnya dengan wajah teman dekat mereka. Namun sang kepala bawah tanah punya usulan lebih mengugah. Ria dan teman dekat memasang wajah antusias sambil menunggu rencana alternatif sang kepala bawah tanah. Intinya mereka mendirikan taman bermain interaktif di dalam pantai kuta. Ria bertanya tujuan didirikan taman ini kepada Joni. Dengan tenang Joni menjelaskan panjang tambah lebar. Ia bosan melihat orang tua dan anak yang berkunjung di pantai kuta sibuk dengan ponsel itu. Ia ingin mereka bermain dan berkomunikasi dengan bertatap muka. Barangkali taman bermain interaktif ini bisa menjadi wadah bagi mereka yang tertarik untuk mencobanya. Kembali mereka mengangkat topi atas usulan sang kepala bawah tanah. Hal ini lebih esensial ketimbang hanya ungkapan ekspresi diri para seniman bawah tanah ini.

Pagi tampil dengan menawan. Pantai kuta tiba-tiba dipenuhi oleh pelancong luar dan dalam negeri. Mereka tak menyangka ada taman bermain gratis di sana. Para anak sibuk mencoba satu-satu permainan di sana. Orang tua sibuk menjaga anak mereka. Namun ada saja orang tua yang sibuk merekam wajah ceria anak mereka. Hal ini menjadi serangan teror paling menyenangkan bagi warga yang tinggal di sekitaran pantai kuta. Juga menjadi kejutan bagi turis maupun pelancong yang sedang bermain di pantai kuta. Akhirnya media lokal mengangkat berita itu hingga menjadi tajuk utama berita ibu kota jakarta. Joni dan Ria tersenyum lebar saat mereka melihat reaksi orang-orang itu. Ria tiba-tiba meraih tangan Joni. Mereka saling melempar tatapan amat dalam. Sementara teman dekat mereka sibuk memegang komputer. Lalu salah satu teman dekat mereka terpaksa menuntaskan adegan romantis itu dengan memberitahu bahwa berita soal reklamasi menjadi tersingkir akibat rencana mereka. Joni mengangkat bahunya sementara Ria tersenyum sebal. Di sisi lain teman dekat mereka terpaksa menunggu rencana berikutnya dari Joni ataupun Ria.

1 disukai 3.9K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction