Toilet

Matahari tepat berada di atas kepala. Sudah waktunya buruh-buruh tani yang sedang bekerja meletakkan cangkul, parang dan seluruh peralatan perang mereka. Baju mereka sudah basah oleh keringat dan air mata.

 

“Pak Bari, ayo naik. Keburu antri panjang lho nantiii...” teriak salah satu buruh tani yang menggendong cangkul di pundaknya.

 

Bari cepat-cepat menghentikan aktivitasnya. Persetan dengan bibit sayur yang sudah ia keluarkan untuk ditanam. Tak ada yang lebih penting sekarang. Yang penting ia harus cepat sampai di toilet umum sebelum antriannya padat merayap.

 

Ya! Toilet umum di Desa Sukamakmur ini sedang menjadi tempat paling ramai dikunjungi oleh warga. Kalau bertanya apa yang mereka lakukan di toilet umum, jawabannya hanya satu, mandi. Setiap musim panas, selalu terjadi krisis air bersih di desa ini. Dan ajaibnya, alih-alih mengalirkan air ke seluruh rumah, pihak kecamatan lebih memilih membangun toilet umum dan memberi asupan air terbatas di sana saja. Alhasil, setiap matahari mulai berada di puncak, orang-orang berbondong-bondong untuk mengantre di toilet.

 

“Tumben dateng paling akhir, Bar?” tanya bapak-bapak yang gemuk dan pendek.

 

Ia terkejut melihat di depan tiga pintu kamar mandi sudah berderet panjang lelaki sebayanya.

 

‘Ahhh... Telaaat..’ keluhnya.

 

“Kamu terlalu banyak kerja sih, udah dibilang kalau matahari udah tinggi buruan ke sini, masih tambeng aja,” ucap pria yang memakai celana hijau lusuh.

 

“Ngomong-ngomong, Si Abdul udah lama nggak keliatan di sini. Ke mana ya dia?” celetuk pria yang memakai kaos lusuh warna kuning.

 

“Katanya lagi ke rumah anak sulungnya di kota,” jawab Bari.

 

“Siapa yang bilang? Bukannya dia lagi ngurus sidang cerai? Istrinya kan udah lama nggak pulang,” sanggah pria bercelana hitam lusuh.

 

“Kasihan si Abdul. Tapi lebih kasihan si Pardi, sih. Katanya anaknya berantem rebutan warisan. Padahal Pardinya masih sehat walafiat gitu,” ucap pria berkaos biru tua.

 

“Hah? Masak sih? Aku baru denger itu. Tau dari mana? Jangan sembarangan kalau sebar gosip,” ucap Bari kesal.

 

“Siapa yang sebar gosip?” sanggah pria berkaos biru tua.

 

“Iya.. Bener itu ceritanya. Kemaren Aku liat anak sulungnya si Pardi pulang sambil marah-marah ke adiknya. Kayaknya cukup serius berantemnya,” sahut seorang ibu yang berada di pelataran samping toilet umum.

 

“Yu, emang bener ya kalau anakmu sekarang udah punya calon suami?” celetuk Bari.

 

Mboh lah... Anak kok gonta-ganti pacar terus. Sak karepe wae-lah... Lha anakmu piye Bar?” keluh ibu yang dipanggil Yu itu.

 

“Anakku ben nggak usah nikah wae. Kerja terus nggak pernah istirahat,” jawab Bari.

 

Mbok ya nikahin aja anak kalian itu. Wong dulu serasi banget, ngapain pake dipisahin sih? Kamu terlalu ambisius sih, Bar,” celetuk lelaki berkaos biru tua.

 

“Siapa yang misahin mereka, lha wong mereka sendiri yang pisah, kok,” jawab Bari kesal.

 

Suasana depan toilet menjadi aneh. Dingin.

 

“Itu siapa sih yang di dalem, kenapa lama amat?” ucap Bari kesal.

 

Ia menghampiri pintu toilet dengan emosi. Ditendangnya pintu keras-keras, agar si pengguna toilet yang berada di dalam bisa mendengar kekesalannya.

 

“Hah? Huahahahaha...”

 

Seluruh orang yang ada di sana tertawa tanpa bisa dihentikan. Rupanya toilet yang dari tadi mereka tunggu tidak ada penghuninya sama sekali. Alias kosong.

 

“Makanya, kalau bodoh jangan dipelihara,” teriak ibu tadi.

7 disukai 1 komentar 5K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Kocak..
Saran Flash Fiction